HAMBA DILUKA

100%

HAMBA DILUKA

Sungguh Tak Berguna

Menggigil batu menahan panas,

Dari seberang bisikan rumput hijau dibawa angin,


“Tak berguna,” cacat mereka.


Dihantam air terkikislah si batu,

Hilang perlahan larut dalam arus,

Kini si batu bukanlah dirinya,

Hanyalah butiran tanpa tujuan.

(Jawa, 2025)


Menjebak Diri

Merah; merah muda, merah berdarah, 

Tembok persegi maju melangkah, 

Udara diangkat oleh si panik,

Sempit menyempit semua ruang diri,

Tak berguna lagi harapan.


“Aku menyerah,” lirih dia kepada lantai emosi.


Maka, adinda merajam sukma,

Memilih mimpi fana dalam benteng elegi,

Memburai logika dan nurani,

Menyesap sepi kemalangan,

Dalam gelap yang terlalu terang.

(Jawa, 2025)


Di Seberang Luka Ada Tuhan

Tubuh yang menyimpan dingin,

Meringkuk di sudut lara,

Tabir hitam membungkuk seolah naungan terakhir,

Sebagai pembatas garis takdir,

Agar bilah pedang kecewa berhenti memberi luka,

Tetap tidak bisa,

Malah lara berubah angkara,

Makin menghitam tabir yang memang hitam,

Habis semua — mereka yang berkata, “hina.”


Tapi,

Tuhan Maha Tahu,

Dia hadirkan hangat dalam sekejap,

Dilukis-Nya jalan kebenaran,

Bertangan-tangan menggapai,

Segala makhluk Ilahi berbisik,


“Salam, wahai yang terluka,”


Seketika,

Basah wajah dalam haru,

Tubuh suci bersujud rindu.

Tabir hitam yang membungkuk didorong-Nya jauh mendekati ceruk,

Agar jatuh dalam nyala gelap yang abadi,

Binasa dilahap hampa. 

(Jawa, 2025)


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: