Jadikan Aku Pengantinmu, Bukan Valentine-mu
[Assalamualaikum, Rai. Ini Raina. Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin kusampaikan.]
Dia hanya membaca pesanku. Tumben.
Empat puluh menit kemudian. [Wa'alaikumussalam. Maaf, tadi lagi ngantar orderan. Ada apa?]
[Bisa kita bertemu besok?]
[Katakan saja sekarang. Aku sedang sibuk. Ada celengan besar yang harus kuisi penuh.]
Wah, dia menyindirku. Baiklah, biar kubuat keok sekalian.
[Aku cuma mau ngasih tau, kesepakatan kita terpaksa batal. Ayahku sudah menerima lamaran dari anak sahabatnya. Mereka meminta akad nikah seminggu sebelum wisuda. Maaf, kamu harus mundur. Gak papa, 'kan?]
Eh, dia sudah mengetik. Cepat sekali!
[Gak papa. Semoga kamu bahagia.]
Itu saja? Ayolah, lima tahun dia terang-terangan mengejarku, lalu mundur begitu saja. Yang benar saja!
[Hidup tak melulu soal cinta, Raina.]
What? Dia mengembalikan kalimatku. Tak salah lagi! Raihan, cowok ngeselin itu sedang menyindirku.
Baiklah, saatnya pamer calon suami ter-segalanya.
Wait! Aku kan tidak punya sama sekali fotonya. Aku bahkan belum pernah melihat undangan pernikahan sendiri.
Aku tahu ini terdengar gila. Demi merasakan sesasi jatuh cinta pada pandangan pertama saat sudah halal, aku rela memblokir semua nomor keluarga, termasuk kakakku yang sering bocor. Satu-satunya nomor ponsel yang bisa menghubungiku adalah milik Ibu yang sudah teruji paling jago menjaga rahasia. Aku bahkan rela vakum dari media sosial hanya untuk menghindari unggahan siapa pun terkait rencana pernikahanku.
Aku memilih fokus mengurus segala tetek bengek persiapan wisuda.
***
Tiba-tiba saja aku sampai di hari ini, di tengah kemacetan, dengan kebaya wisuda yang harusnya baru aku pakai tiga hari lagi.
Pengantin mana yang melewatkan akad nikahnya karena terjebak macet?
Ini semua gara-gara keluarga Mas Putra---calon suamiku---memajukan lagi jadwal akad nikah karena permintaan sang Nenek yang sakit.
Aku yang masih berjibaku dengan segala urusan menjelang wisuda, terpaksa pulang mendadak. Aku terpaksa merelakan baju pengantin yang masih di tukang jahit.
Mobil memasuki halaman KUA tempat acara sakral itu berlangsung. Ibu langsung menyambut.
"Ya ampun, baru nyampe. Kita udah mau balik."
Aku melongo. Semua orang sudah berjalan menuju parkiran.
"Itu mertuamu. Salim sana!" perintah Ibu sambil menunjuk perempuan asing dengan dandanan sederhana tapi pakaiannya jelas tidak murah.
Kuraih tangannya dan menciumnya. "Maaf, Tante. Nana telat."
"Kok Tante sih. Mama dong."
Mama mertua tersenyum sambil mengusap kepalaku. Yes! Sepertinya aku mendapat mertua baik dan tidak julid.
"Nggak papa, Sayang. Namanya juga mendadak. Kita sudah mau pulang. Kamu bareng suamimu, ya. Dia tadi pamit ke toilet."
"Iya, Ma."
Kalau boleh jujur, ingin aku merengek untuk ikut pulang. Hingga detik ini aku sama sekali tidak tahu seperti apa tampang Mas Putra.
Yang aku tahu hanyalah bahwa dia anak tunggal dari seorang pengusaha sukses, adab dan agamanya baik. Bonus ganteng. Aku tak sabar segera bertemu.
Aku menunggu di parkiran, tepat di samping sebuah motor besar berwarna hitam. Kata Mama mertua, itu milik Mas Putra. Dia ingin kami berboncengan biar lebih romantis, katanya.
Pandanganku terpaku pada sisi kiri gedung, di mana Mas Putra nanti akan muncul. Lalu sosok lelaki berpakaian serba putih dari ujung kaki hingga kepala muncul.
Tidak salah lagi, itu pasti Mas Putra. Dadaku bergemuruh, jantung memompa lebih cepat. Sesuai sumpah, hatiku hanya untuk lelaki yang mengucapkan namaku dalam ijab kabul.
Sosok itu semakin dekat. Langkahnya tegas menuju tempatku berdiri seorang diri.
"Raihan?" pekikku ketika lelaki itu tiba di hadapanku.
Sekali lagi kutatap sosok itu, jangan-jangan ....
"Halo, Raina. Ngapain di sini?"
"Eh, anu ... lagi nungguin suami," kataku canggung.
"Oh. Selamat, ya. Semoga langgeng." Datar sekali ekspresinya.
Syukurlah, ternyata bukan dia. Untung saja aku tak berlari memeluknya tadi. Bisa mati aku karena malu. Tapi, kok, kenapa aku merasa kesel, ya?
Ini Raihan, lelaki yang pernah berdarah-darah berjuang untukku, kutolak dengan sedikit tipuan sadis. Dan dia biasa saja melihatku telah jadi istri orang. Secepat itu dia melupakanku? Ini bahkan baru seminggu sejak kusuruh mundur.
"Makasih ya. Eh kamu ngapain di sini?" tanyaku penasaran. Kenapa dia memakai pakaian yang khas untuk mempelai?
"Nikah."
"What?"
Wah, ini penghinaan. Mana lelaki yang katanya menutup hati demi aku?
Baiklah, aku harus menegakkan gengsi.
"Selamat juga buatmu. Semoga langgeng. Oh ya, kamu nggak mau kenalan sama suamiku?"
Duh, senangnya. Tak sabar ingin kutunjukkan suamiku yang kata kakakku---ganteng paripurna. Tajir lagi.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya sambil menaiki motor.
Menaiki motor? Tunggu! Itu milik Mas Putra. Aku semakin bingung. Kulihat sekeliling, hanya ini motor besar berwarna hitam.
Wajahku tiba-tiba panas. Tidak mungkin 'kan dia suamiku? Jelas-jelas tadi dia ngucapin selamat buatku.
"Eh Rai, kamu yakin nggak salah naik motor?"
Dia tidak menjawab dan malahan mengeluarkan kunci dari saku jasnya. Ya Tuhan, aku harus gimana? Dia sama sekali cuek, tidak ada tanda-tanda akan mengajakku naik. Jika Raihan bukan suamiku, lalu siapa?
Tangannya tiba-tiba berhenti. Aku menahan napas. Apakah dia akan mengajakku?
"Ternyata salah ngambil kunci." Cowok itu turun dari motor lalu bergegas meninggalkan parkiran, berjalan menuju pintu gedung KUA.
Aku bernapas lega. Ingin kuberteriak dia bukan salah kunci, tapi salah motor. Tapi peduli amat.
Kulirik arloji di lengan kiri, jam sebelas. Sudah dua puluh menit aku menunggu. Kemana Mas Putra?
Meski ragu, kulangkahkan kaki menuju sisi kiri gedung. Aneh, dua ruangan bertuliskan toilet pada dindingnya tampak kosong. Teringat ponsel di dalam tas. Sial! Mati karena lupa dicas.
Gelisah, kugigit ujung ponsel tak berguna ini. Sekarang bagaimana? Suami tak tahu di mana rimbanya. Mau celingak-celinguk, kok ya rasanya malu. Masa iya nyari orang yang tidak tahu ciri-cirinya?
"Loh, Raina? Belum pulang?"
Mati aku! Raihan lagi. Dia pasti akan mengejekku habis-habisan. Seperti kebiasaannya dulu ketika kami masih SMA.
"Apa suamimu belum ketemu?" tanyanya sambil menatap toilet.
"Iya nih, ke mana, ya?"
Dia terkekeh, terdengar sangat menyebalkan di telinga. Semoga saja dia tidak mulai mengatakan "makanya", kata andalannya ketika aku terbukti salah memutuskan sesuatu.
"Makanya ...."
"Stop! Jangan mulai deh!"
Kutinggalkan dia sendiri dan berjalan dengan langkah lebar menuju parkiran.
Ya ampun, di mana suamiku? Bisa-bisanya dia lupa istrinya masih di sini.
Jangan-jangan ... dia terpaksa menikahiku lalu pergi begitu saja, menemui orang lain yang dicintainya. Seperti yang sering terjadi dalam novel.
"Nih, minum!"
Raihan menyodorkan sebotol minuman dingin lalu ikut duduk di atas semen pembatas area parkiran. Mengambil jarak sepanjang lengannya, persis saat dia melencangkan tangan kanan ketika memimpin barisan di lapangan sekolah.
"Terima kasih," kataku menerima pemberiannya lalu membuka tutup dan meneguk isi botol.
"Sudah ditelepon?"
"HP-ku lowbatt." Aku menekuk wajah.
"Lowbatt atau kau tidak tahu nomor HP-nya?"
OMG, kenapa orang ini semakin menyebalkan? Tahu sekali bagaimana membuatku terpojok.
"Jangan bilang kau juga tidak tahu yang mana orangnya."
Ya Allah, bolehkah aku meninju wajah orang?
"Bukan urusanmu!"
Sudah kuduga dia akan kembali jadi manusia paling menjengkelkan. Tidak salah jika dulu aku memberinya posisi nomor satu dalam kategori manusia yang paling ingin kucekik lehernya.
"Apa dia ngasi kamu galon berisi uang?"
"Apa sih maumu?"
Di saat begini dia malah mengungkit dosaku.
Dia menaikkan alis. "Tidak ada. Kepo aja."
Hening. Dia diam sejenak, mungkin memberiku waktu untuk merutuki diri sendiri dan mengaku kalah. Memang keterlaluan syarat yang dulu kuajukan.
"Maaf. Kupikir kau cukup cerdas untuk memahami maksudnya."
"Tidak apa-apa, itu hakmu. Meskipun memang agak kelewatan sih."
"Kau tidak membenciku, 'kan?"
"Aku tidak bisa membencimu, Raina. Aku tidak suka cari musuh. Apalagi dengan gadis yang membuatku merengek untuk pindah sekolah."
Aku menganga. Jadi itu alasannya tiba-tiba muncul di sekolah kami.
"Maaf. Tapi kau harus mulai melupakan semuanya. Kita sudah punya pasangan masing-masing. Aku tidak mau masa lalu merusak rumah tangga kita."
"Apa kau mencintainya?"
Ternyata dia belum berhenti. Baiklah, aku tahu bagaimana cara menghadapimu, Raihan.
"Tentu saja! Sudah kubilang 'kan aku akan memberikan hatiku pada laki-laki yang menghalalkanku."
"Bahkan meski kalian tidak saling kenal?"
Wah, dia meragukanku.
"Cinta bisa tumbuh perlahan, Raihan. Aku hanya perlu membuka hati dan menerimanya dengan ikhlas."
Tiba-tiba dia tertawa. Kenapa dia senang sekali?
"Kamu sendiri gimana? Apa kau mencintai istrimu? Mana dia?"
Aku penasaran, seperti apa orang yang bisa membuatnya melupakanku.
"Pastinya. Cuma ...."
Aku menunggu, cuma apa?
"Saat ini dia sedang menunggu lelaki lain."
"Siapa?" Ih, kepo.
Poor Raihan! Ternyata bukan aku saja yang membuatnya patah hati.
"Seseorang yang dia panggil 'Mas Putra'."
Aku tersedak. Minuman yang baru saja kusesap tiba-tiba muncrat.
"Raihan Saputraaaa, kau mengerjaiku."
Bodoh! Kenapa aku baru menyadari nama lengkapnya?
Kututupi wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Malu.
Cowok menjengkelkan itu, maksudku suamiku (astaga, aku kini harus memperlakukannya sebagai suami), terbahak.
Raihan mendekat dan memajukan wajah, mengangkat dua jariku dengan telunjuknya. Aku bisa mengintip wajah tampannya, eh maksudku wajah menyebalkannya. Dia tesenyum jahil.
"Ayo pulang! Atau ... kau masih mau menunggu Mas Putra-mu?" Sekali lagi dia tertawa menyebalkan, sangat menikmati ekspresiku.
Aku masih duduk dan menutup wajah sembari menggeleng. Hingga kurasakan seseorang berjongkok di depan.
Dua tangannya mengangkat telapak yang menutupi wajah tomat busukku. Raihan mengambil helm di samping kaki yang ditekuk lalu memasangkannya di kepalaku.
"Semua pertanyaanmu akan kujawab nanti, sambil berbaring berhadap-hadapan di dalam kamar." Dia mengerling nakal.
Tak pernah terlintas di benakku akan menikahi rival menyebalkan ini. Kini tiba-tiba saja harus berbagi kamar. Ibuuu, tolong aku!
Raihan berdiri dan mengulurkan tangannya yang mau tak mau aku raih.
Ini sentuhan pertama. Dulu? Selalu kutepis, padahal saat itu aku belum paham ternyata tidak boleh menyentuh lawan jenis bukan mahram.
"Naik!" titahnya usai duduk mantap di atas motor.
Aku yang tidak terbiasa naik motor tinggi besar, tentu saja kesulitan. Apalagi harus duduk menyamping. Di atas jok yang hanya seuprit itu.
"Kau bisa menjadikan aku pegangan, Raina. Sudah halal."
Tuh, kan. Sudah kuduga.
Kupegang lengan kiri yang berotot dan membiarkannya menahan bebanku. Akhirnya berhasil.
Aku berpegangan pada sisi jok dengan badan rapat di punggungnya. Apa boleh buat, mundur sedikit lagi sudah pasti mendarat di aspal. Dia pasti sengaja membuatku kesulitan begini, agar terpaksa memepet tubuhnya. Modus!
"Kenapa nggak jalan? Pegel tau duduk begini."
"Ulurkan tanganmu!"
Aku menurut. Entah apa maunya.
"Belokin dikit ke kiri!"
Alamak, dia minta dipeluk.
Tak kunjung kutekuk lengan, Raihan akhirnya meraih jemariku dan menempelkannya di perut.
"Pas!" katanya lalu terkekeh.
Canggung, gugup, dan malu. Kutarik tanganku dan sedikit memberi jarak.
"Loh, kok dilepas? Katanya cinta. Mau aku putar rekamannya?"
Dasar pembual!
Dia berdehem sebentar lalu mulai bersuara dengan dilembut-lembutkan, "Cinta bisa tumbuh perlahan, Raihan. Aku hanya perlu ...."
Buru-buru kulingkarkan tangan di perutnya. "Puas?" tanyaku jengkel.
"Banget," jawabnya sambil tertawa. "Pegangan yang erat ya, aku balap."
Motor tiba-tiba melaju cepat lalu ...cekiiit! Raihan mengerem mendadak. Mau tak mau aku semakin menempel dipunggungnya dan tanganku makin menekan perutnya. Modus nomor dua.
Sambil tertawa, dia memperlambat laju motor. Terasa sentuhan hangat pada punggung tanganku. Sehangat hatiku yang tiba-tiba penuh warna. Inikah yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Tapi kan saat ini dia membelakangiku. Ini juga bukan pertemuan pertama kami.
Ah, bodo amat lah.
Tubuhku mulai menyesuaikan diri. Kueratkan pelukan dan mempelkan kepala di pundaknya. Yes, I'm ready to love.
Tamat.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya