“Maaf, kami tidak menerima orang yang tidak berpendidikan!” suara tajam itu menghentikan langkah Andi. Lelaki berkumis tipis itu menundukkan kepala dan melangkah pergi, perasaan hancur memenuhi dadanya. Sambil berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta yang sibuk, pikirannya terus berputar.
‘Seperti apakah orang yang berpendidikan itu? Haruskah aku pergi ke sekolah dulu agar bisa disebut berpendidikan?’ batin Andi, pria berusia 22 tahun yang kini hanya bisa melangkah gontai di bawah terik mentari yang semakin menyengat kulitnya.
Teriknya matahari memaksanya untuk berhenti sejenak. Andi singgah di sebuah warung kaki lima yang sederhana, tempat yang cukup untuk meredakan lelahnya. Ia memesan segelas es teh manis, lalu duduk di bangku kayu yang sudah usang, melepaskan penat setelah berjam-jam berjalan tanpa arah.
“Es teh manisnya satu, Bu,” ujarnya lemah, matanya kosong menatap jalanan yang sibuk di luar.
Hidup tidak selalu soal cinta, Andi tahu itu. Ribuan orang mungkin sibuk merayakan kisah-kisah romansa mereka, namun tidak untuknya. Bagi Andi, hidup lebih dari sekadar kisah cinta. Ia hanya ingin satu hal: pekerjaan yang layak, sebuah tempat untuk bertahan di tengah kerasnya kota ini. Ia rela berpanas-panasan, berkeliling dari satu perusahaan ke perusahaan lain, mencoba peruntungannya. Sudah ratusan kali ia ditolak dengan kasar, bahkan lebih sering dihina dengan kata-kata yang menyakitkan. Namun, Andi tak pernah gentar. ‘Ini adalah hidup! Hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan!’ Begitulah prinsip hidupnya, meski ia tahu sudah sekian kali ia dipermainkan oleh takdir.
Orang-orang yang berwibawa selalu mengaitkan pekerjaan dengan gelar pendidikan mereka, seolah-olah itu adalah satu-satunya ukuran untuk menentukan nilai seseorang. Namun mereka sering lupa bahwa setiap orang memiliki keahlian dan kemampuan yang unik, sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan pendidikan formal. Andi, dengan segala keterbatasan yang ia miliki, tahu betul bahwa ia bukan orang yang memilih untuk tidak bersekolah. Keadaanlah yang telah membawanya pada jalan ini, dan takdir Tuhan yang membuatnya harus menerima kenyataan pahit ini. Namun, ia tahu satu hal: hidup adalah sesuatu yang harus dijalani, tidak peduli betapa sulitnya.
“Silakan, es tehnya,” kata Bibi gemuk pemilik warung sambil meletakkan segelas es teh manis yang segar. Andi, yang tadinya terbuai dalam lamunan panjang, seketika terbangun, kembali ke dunia nyata.
“Terima kasih, Bu,” ujar Andi, memberikan senyum tipis yang tergores di wajahnya, meski hatinya terasa lelah.
“Ah, segarnya!” Andi menyapa sendiri, menyentuh gelas yang kini sudah terasa menyegarkan tenggorokannya.
“Ini kerja di mana, Mas?” tanya Bu Fatimah, ibu pemilik warung, dengan nada ramah sambil menyeka peluh di keningnya.
“Tidak kerja di mana-mana, Bu. Saya malah sedang melamar pekerjaan,” jawab Andi, tatapannya kosong menatap es teh yang kini sudah hampir habis.
“Terus bagaimana? Apakah diterima?” Bu Fatimah tak berhenti penasaran, matanya menyelidik, berharap Andi menemukan jawaban yang lebih baik.
“Tidak, Bu.” Andi menghela napas panjang. Meskipun begitu, senyum tipis masih tampak di wajahnya.
“Loh, kok bisa begitu?” Bu Fatimah bertanya, merasa bingung.
“Yah, tidak heran, sih, Bu. Saya sudah berkali-kali ditolak oleh banyak perusahaan, karena tidak memiliki pendidikan formal, tidak pernah bersekolah,” jawab Andi dengan lirih, seperti sudah terbiasa dengan kenyataan tersebut.
“Jadi begitu. Kalau menurut saya pribadi, sekolah itu nggak menjamin seseorang dapat pekerjaan, loh. Anak saya, misalnya. Dia sarjana, meskipun tidak sampai gelar S1, setidaknya dia punya pendidikan. Tapi ya akhirnya cuma mentok jadi security,” ungkap Bu Fatimah, mengibas-ngibaskan tangan karena cuaca panas yang membuatnya gerah.
“Yah, saya juga berpikir begitu, Bu. Walaupun saya tidak pernah bersekolah, tapi saya bisa baca, bisa nulis. Saya juga bisa pakai komputer, kok, seperti orang kantoran,” Andi menghela napas lagi. “Tapi, inilah masalahnya, Bu. Para pemimpin perusahaan itu selalu melihat secarik kertas sebagai tolak ukur. Padahal, kalau dites, saya akan dengan senang hati menunjukkan kemampuan saya.”
Apa yang Andi katakan memang cukup masuk akal. Banyak orang yang hanya mengandalkan angka dan ijazah sebagai patokan dalam dunia kerja. Mereka lupa bahwa kemampuan tiap orang bisa berbeda-beda, dan tak jarang lebih dari apa yang tertulis dalam sebuah kertas. Tapi begitulah aturan mainnya. Setiap hal perlu aturan agar bisa berjalan, meskipun kadang yang terbaik bisa jadi yang terburuk, dan yang buruk bisa jadi yang terbaik. Semua itu hanya masalah sudut pandang.
Meski demikian, Andi tak pernah menyalahkan siapa pun. Sesulit apa pun hidupnya, ia tetap bersyukur dan tidak pernah lupa mengucapkan "alhamdulillah" kepada Tuhan. Ia tahu, apapun yang ia jalani adalah takdir dari-Nya. Seperti air yang mengalir, ia tak tahu sampai kapan akan menemukan muaranya, tapi ia yakin suatu saat hidupnya akan menemukan tempat yang tepat.
-II-
Hari sudah mulai gelap, dan Andi masih berjalan terhuyung-huyung. Sesekali langkah kakinya tersendat, pandangannya tertunduk, menatap jejak-jejak langkah yang gontai di jalan yang semakin sunyi. Dalam hati, ia bertanya-tanya, Apakah saya sudah salah melangkah?
Setibanya di sebuah rumah kumuh yang tampak biasa saja, Andi langsung terjatuh lemas di lantai semen yang dingin, tak ada tikar atau alas apapun. Ia menghela napas panjang, pasrah pada takdir yang tampaknya terus menimpanya. Mata Andi menatap langit-langit rumah yang bolong, seolah mencari jawaban dari kehidupan yang begitu sulit ini.
Oh, Tuhan. Berikanlah hamba-Mu ini jalan yang terbaik.
Oh, Tuhan. Entah sampai kapan hamba dapat bertahan dari pedihnya hidup ini.
Oh, Tuhan. Masih adakah secercah harapan untukku?
Dengan hati yang penuh harapan, Andi menutup kedua matanya dan akhirnya terlelap, tertidur dalam keheningan malam yang semakin mencekam.
Keesokan harinya, seperti hari-hari sebelumnya, Andi kembali memulai rutinitasnya. Dengan kemeja putih yang lusuh dan dasi yang tergantung di lehernya, ia berjalan menuju kota. Meski tubuhnya lelah dan semangatnya sudah banyak terkikis, langkahnya terasa lebih mantap. Seakan kepedihan kemarin telah terpendam dalam bayang-bayang masa lalu.
"Secarik kertas bukan penentu masa depanku," pikirnya, menguatkan tekad di dalam hati.
Di sebuah persimpangan jalan, Andi berhenti sejenak, menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang. Jalan ini memang selalu ramai di pagi hari, kendaraan berdesak-desakan melintas, seolah tak memberi ruang untuk yang lemah dan tak berdaya. Andi berdiri tegak, menatap lalu lalang kendaraan yang tiada henti.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil terdengar. Seorang anak kecil, sepertinya masih sekolah dasar, dengan ceroboh berlari ke tengah jalan tanpa melihat sekitar. Andi yang terkejut segera berlari mengejarnya. Tanpa pikir panjang, ia mendorong bocah itu dengan keras, memastikan anak itu terlempar ke tepi jalan. Sebuah sedan putih yang melaju cepat dari arah timur hampir menabrak keduanya.
Andi berhasil menyelamatkan anak itu, namun tubuhnya tak sempat menghindar. Mobil itu menabraknya dengan keras. Segala yang dilihat Andi berubah menjadi gelap, hitam pekat, tak ada lagi cahaya yang menembus pandangannya. Tubuhnya tak lagi mampu menahan rasa sakit dan jatuh dalam ketidaksadaran.
"Cepat bawa dia ke UGD! Cepat! Dia butuh pertolongan!" teriak seorang wanita tua yang menyaksikan kejadian itu. Wajahnya penuh kekhawatiran, air mata mengalir tanpa henti. Wanita itu mengusap wajahnya dengan tangan gemetar, berharap Andi selamat.
-II-
‘Tuhan, masih adakah cahaya untukku?’
‘Tuhan, masih adakah secercah harapan untukku?’
‘Tuhan! Masih adakah rasa iba hamba-hamba-Mu untukku?’
Sebulan telah berlalu sejak Andi terbaring koma di rumah sakit akibat tragedi yang menimpanya. Lelaki kurus itu, yang dikenal sebatang kara, kini terjebak dalam kesunyian yang lebih dalam. Andi hidup tanpa orang tua, sepi dan tanpa arah. Sejak sepuluh tahun yang lalu, saat bencana gempa bumi berkekuatan 7,2 SR mengguncang desanya, Andi menjadi salah satu dari sedikit orang yang selamat. Saat itu, kedua orang tuanya rela mengorbankan diri untuk melindunginya, tertimbun reruntuhan demi memberikan cahaya harapan bagi Andi yang masih kecil. Meskipun hidupnya penuh kehilangan, Andi tidak pernah membenci takdirnya. Ia tak pernah mengeluh, meski harus menanggung segala kesepian sendirian.
Di samping ranjang ruang rawat inap Andi, duduk seorang wanita tua dengan wajah sendu. Rambut putihnya yang mengkerut menambah kesan kesendirian. Jika Andi hidup tanpa siapa-siapa, lalu siapa wanita tua ini yang setia menunggunya? Wanita itu, meski tak punya anak, telah dengan ikhlas mengorbankan setiap waktunya untuk merawat Andi di rumah sakit.
Suasana di sekitar mereka hening. Hanya suara bip-bip dari alat elektrokardiogram yang terdengar, menandakan detak jantung Andi yang semakin stabil. Beberapa menit berlalu, dan tiba-tiba, suara erangan lemah keluar dari mulut Andi. Wanita tua itu terkejut, wajahnya diliputi kecemasan. Tanpa berpikir panjang, ia memanggil dokter dengan panik.
“Dok! Bagaimana keadaan anak ini?” tanyanya, dengan wajah penuh kerutan cemas.
“Dia baik-baik saja. Tidak akan lama, dia sepertinya akan sadar,” jawab dokter dengan keyakinan yang menenangkan.
Benar, seperti yang dikatakan dokter. Andi perlahan membuka matanya, untuk pertama kalinya setelah sebulan terlelap dalam ketidaksadaran. Tatapannya bingung, penuh rasa ingin tahu, sementara tubuhnya mencoba bergerak, meski lemah. Wanita tua itu mengelus dada, menghela napas lega. Senyumnya muncul, menghapus kekhawatiran yang telah lama menyelimuti hatinya.
“S-Saya... di mana? S-Saya... kenapa?” suara Andi keluar dengan terengah-engah, mencoba mencari jawaban atas kebingungannya.
Pertanyaan itu adalah hal yang biasa bagi seseorang yang baru terbangun dari koma. Dengan lembut, wanita tua itu menjawab, “Kamu ada di rumah sakit, Nak. Sebulan yang lalu, kamu terlibat kecelakaan.”
Wanita tua itu kembali duduk, menghela napas panjang, seolah mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang masih berat.
“Saya minta maaf,” ucap wanita tua itu, suaranya bergetar pelan, penuh penyesalan.
“K-Kenapa?” Andi mengerutkan kening, kebingungannya semakin mendalam.
“Kamu kecelakaan karena menyelamatkan cucu saya. Saya mohon maaf,” wanita itu melanjutkan, setitik air mata perlahan menggantung di matanya, menandakan kesedihan yang mendalam.
“Tidak apa-apa. Saya ikhlas... dengan bermaksud menolong,” Andi menjawab, meski tubuhnya masih terasa lelah dan berat. Ia menghela napas panjang. “Saya juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja tubuh saya bergerak untuk menolong anak itu.”
Wanita tua itu menatapnya penuh rasa kagum. “Hatimu sungguh mulia, Nak. Sekali lagi, maafkan saya. Sebagai rasa terima kasih, kamu bisa minta apa pun dari saya.”
Andi tersenyum, senyum tulus yang penuh rasa syukur. “Tidak perlu dipikirkan. Mengetahui bahwa saya masih hidup saja sudah membuat saya sangat bahagia, Bu.”
Wanita tua itu tersenyum haru, mata tuanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Nak.” Kemudian, ia menambahkan dengan suara lembut, “Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan saya? Kamu belum bekerja di mana-mana, kan?”
Andi menatapnya dengan heran. “Bagaimana Anda bisa tahu kalau—”
Wanita itu tersenyum lembut, tampak seperti menyembunyikan sesuatu. “Saya sudah mencari tahu tentangmu, Nak. Orang-orang di kampungmu yang menuturikan kisahmu. Hati saya sangat tersentuh melihat tekadmu yang tidak pernah menyerah. Karena itu, sebagai permohonan maaf saya, dan juga rasa terima kasih, apakah kamu mau bekerja di perusahaan saya?”
Andi merasa sedikit terkejut dan ragu. “T-tapi... saya tidak mau Anda pekerjakan jika hanya karena rasa kasihan kepada saya.”
Wanita tua itu menghela napas, menatap Andi dengan tatapan penuh pengertian. “Lalu, saya harus bagaimana, Nak?”
Andi menunduk sejenak, berpikir keras, dan akhirnya dengan penuh keyakinan menjawab, “S-saya ingin menunjukkan kepada Anda keahlian saya. Saya ingin diterima sesuai keahlian saya. Saya hanya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya mampu.”
Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, kini semangat yang membara dalam hatinya lebih kuat daripada rasa sakit yang ia alami. Ia tahu bahwa kesempatan ini adalah momen untuk membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar seorang pemuda yang terlupakan, bahwa ia memiliki nilai dan kemampuan untuk berjuang lebih jauh.
***
Beberapa minggu telah berlalu, dan Andi, si lelaki kurus berkumis tipis, kini menjalani kehidupannya yang baru. Ia bekerja di sebuah perusahaan besar milik wanita bernama Yuni, yang menaruh kepercayaan besar padanya. Andi diangkat sebagai bendahara perusahaan, sebuah posisi yang menuntut tanggung jawab besar. Memang, Andi tidak pernah bersekolah, tetapi ia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Selama hidupnya, ia telah menghabiskan waktu untuk belajar dan memperluas wawasan, meskipun tanpa pendidikan formal. Yuni percaya bahwa hatinya yang mulia dan kemampuannya yang terasah dengan keras akan membawa kebaikan bagi perusahaan.
Meski begitu, Andi tetap yakin bahwa cobaan hidup tak selalu membawa hal-hal buruk. Justru, menurutnya, ujian terbesar dari Tuhan seringkali datang dengan anugerah yang tersembunyi. Kini, Andi merasa bahwa kehidupannya mulai berada di jalur yang seharusnya. Ia mendapatkan hidup yang layak, sebuah kehidupan yang sepantasnya ia nikmati setelah begitu banyak pengorbanan yang telah ia lakukan. Dengan keteguhan hati dan tekad yang tak tergoyahkan, ia mampu bertahan di dunia yang penuh cobaan ini.
‘Lalu, masih adakah secercah harapan untukku?’ gumam Andi dalam hati, namun jawaban itu segera datang dengan jelas dan pasti.
Tentu saja, harapan masih ada. Bahkan, jika harapan itu mulai memudar, kita harus berani menciptakannya sendiri. Seperti menanam pohon asa, kita harus terus merawatnya, menyiraminya dengan tekad yang bening dan kuat. Jangan pernah menyerah, sebab hanya dengan harapan itulah kita bisa terus berjalan menuju masa depan yang lebih baik.
***
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya