Bel sekolah berbunyi pukul tujuh kurang lima.
Suara nyaringnya memantul dari dinding kelas yang sudah penuh oleh suara kursi digeser dan anak-anak yang masih sibuk ngobrol.
Raka baru saja duduk ketika Bu Ratna masuk.
“Buku disimpan.”
Suasana kelas langsung berubah.
Beberapa anak buru-buru memasukkan catatan ke dalam tas. Ada juga yang masih sempat membuka halaman terakhir buku matematika.
Raka mengeluarkan pensil.
Satu-satunya pensil yang ia punya sudah pendek. Penghapus di ujungnya bahkan hampir habis.
Bu Ratna menulis sesuatu di papan.
UJIAN MATEMATIKA — 90 MENIT
“Kerjakan sendiri,” katanya. “Saya tidak mau ada yang menyontek.”
Lembar soal dibagikan.
Raka membaca nomor satu.
Mudah.
Nomor dua juga.
Ia mulai mengerjakan.
Kelas perlahan sunyi.
Hanya terdengar suara pensil yang bergesekan dengan kertas dan kipas angin yang berdecit dari atas.
Sampai terdengar suara dari belakang.
“Bu.”
Raka menoleh sedikit.
Dimas mengangkat tangan.
“Saya nggak ngerti nomor lima.”
Bu Ratna berjalan menghampirinya.
Raka kembali melihat kertasnya.
Beberapa detik kemudian, Bu Ratna berkata pelan.
“Coba lihat punya sebelahmu.”
Raka berhenti menulis.
Ia tidak menoleh.
Tapi ia tahu apa yang terjadi.
Dimas mulai menyalin.
Dua minggu kemudian, hasil ujian dibagikan.
Bu Ratna masuk membawa setumpuk kertas.
“Nilai kalian bagus-bagus.”
Beberapa anak bersorak.
“Yang paling tinggi Dimas, sembilan puluh delapan.”
Tepuk tangan langsung terdengar.
Dimas berdiri sambil tertawa malu-malu.
“Sudah, sudah. Duduk.”
Nama-nama lima besar kemudian ditulis di papan.
1. Dimas — 98
2. Alya — 97
3. Raka — 94
Raka melihatnya sebentar.
Sembilan puluh empat.
Dulu ia akan senang melihat angka itu.
Sekarang entah kenapa, rasanya biasa saja.
Saat jam pulang, Dimas menghampirinya.
“Rak.”
Raka memasukkan buku ke tas.
“Apa?”
“Lo nggak senang?”
“Senang.”
“Bohong.”
Raka menutup resleting tas.
“Kenapa?”
Dimas menunjuk papan tulis.
“Gue sembilan puluh delapan.”
“Terus?”
“Bulan depan gue ikut seleksi olimpiade.”
Raka hanya mengangguk.
Dimas menepuk bahunya.
“Lo sebenarnya lebih pintar dari gue.”
Raka menatapnya.
Dimas tersenyum.
“Tapi ya... pintar aja nggak cukup.”
“Terus?”
“Harus tahu cara mainnya.”
Raka tidak menjawab.
Dimas pergi begitu saja.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Raka duduk di depan laptop tua milik ayahnya. Laptop itu sudah beberapa kali mati sendiri kalau terlalu lama dipakai.
Ia sebenarnya cuma ingin mencari file tugas.
Sebuah folder muncul di layar.
DOKUMEN SEKOLAH
Raka membukanya tanpa pikir panjang.
Awalnya ia menemukan beberapa dokumen biasa.
Data siswa.
Nilai.
Daftar kegiatan.
Kemudian ada satu file Excel.
Ia membukanya.
Nama-nama siswa memenuhi layar.
Raka menggulir.
Nilai.
Alamat.
Keterangan orang tua.
Ia hampir menutupnya ketika melihat sebuah kolom di sebelah kanan.
PRIORITAS BEASISWA
Raka berhenti.
Beberapa nama diberi tanda.
Ia membaca satu per satu.
Kemudian menemukan nama Dimas.
Ada keterangan di sampingnya.
Bukan soal nilai.
Bukan soal prestasi.
Tentang ayahnya.
Raka mengerutkan dahi.
Ia terus menggulir.
Sampai menemukan namanya sendiri.
RAKA PRATAMA
Di sampingnya tertulis:
Prioritas — dipertahankan.
Di bawahnya ada catatan pendek.
Jangan sampai gagal. Dibutuhkan untuk statistik kelulusan.
Raka membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Ia bersandar di kursi.
Untuk beberapa saat, ia hanya mendengar suara hujan dari luar.
Jadi selama ini...
Mereka tidak benar-benar peduli apakah ia pintar atau tidak.
Yang mereka butuhkan hanya angka.
Angka kelulusan.
Angka prestasi.
Angka yang bisa dipajang di brosur sekolah.
Raka menutup laptop.
Tapi malam itu ia tidak bisa tidur.
Besok paginya, Raka datang ke ruang kepala sekolah.
Ia mengetuk pintu.
“Masuk.”
Kepala sekolah sedang membaca sesuatu di mejanya.
“Ada apa?”
Raka meletakkan laptop di atas meja.
“Saya mau tanya soal ini.”
Kepala sekolah melihat layar.
Wajahnya berubah.
Tidak banyak.
Hanya sedikit.
Tapi cukup untuk membuat Raka yakin.
“Dari mana kamu dapat file itu?”
“Jadi benar?”
Kepala sekolah diam.
“Pak.”
“Raka, kamu masih sekolah.”
“Saya tahu.”
“Kamu belum mengerti urusan administrasi.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Kepala sekolah menyandarkan tubuhnya.
“Sekolah harus punya prestasi.”
“Prestasi siapa?”
“Semua siswa.”
Raka menggeleng.
“Bukan.”
Kepala sekolah menatapnya.
“Yang penting nama sekolah.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Raka mengambil laptopnya.
“Berarti saya benar.”
“Raka.”
Ia berhenti di depan pintu.
“Jangan membuat masalah yang tidak perlu.”
Raka menoleh.
“Saya cuma bertanya.”
“Kadang pertanyaan bisa membuat seseorang kehilangan banyak hal.”
Raka tidak menjawab.
Ia keluar.
Dua hari kemudian, surat sanksi keluar.
RAKA PRATAMA DIKENAKAN SANKSI KARENA MELANGGAR KETENTUAN KERAHASIAAN DATA SEKOLAH.
Tidak ada yang benar-benar bertanya apa yang ia temukan.
Teman-temannya mulai menjauh.
Ada yang bilang Raka cari perhatian.
Ada yang bilang ia iri karena Dimas dapat nilai lebih tinggi.
Bahkan ada yang bilang,
“Kalau nggak suka sekolah, ya keluar aja.”
Raka memilih diam.
Sampai suatu siang, Dimas datang ke kantin.
Ia duduk di depan Raka.
“Lo tahu gue sebenarnya nggak mau ikut campur.”
Raka tetap makan.
“Tapi?”
Dimas mengeluarkan ponselnya.
“Ada sesuatu yang harus lo lihat.”
Ia memutar sebuah rekaman.
Suara beberapa orang terdengar.
Guru.
Orang tua.
Seseorang yang terdengar seperti kepala sekolah.
Mereka membicarakan nilai.
Tentang siswa mana yang harus dibantu.
Tentang siapa yang harus masuk daftar prestasi.
Tentang siapa yang tidak boleh gagal.
Raka perlahan berhenti makan.
“Dari mana lo dapat ini?”
Dimas mematikan rekaman.
“Bokap gue.”
Raka menatapnya.
Dimas tertawa kecil.
“Gue juga baru tahu.”
“Tahu apa?”
Dimas melihat meja.
“Kenapa gue selalu dapat kesempatan.”
Raka diam.
Dimas menarik napas.
“Gue bukan anak pintar, Rak.”
Ia tersenyum tipis.
“Gue cuma lahir dari keluarga yang bisa bikin beberapa pintu kebuka.”
Hari kelulusan akhirnya datang.
Aula sekolah penuh.
Orang tua duduk berdesakan.
Guru-guru memakai pakaian terbaik mereka.
Spanduk besar bertuliskan SELAMAT ATAS KELULUSAN SISWA tergantung di belakang panggung.
Kepala sekolah naik ke podium.
“Dengan bangga kami mengumumkan bahwa tahun ini tingkat kelulusan sekolah mencapai seratus persen.”
Tepuk tangan memenuhi aula.
Raka ikut bertepuk tangan.
Pelan.
Kemudian ia melihat sekeliling.
Teman-temannya tersenyum.
Orang tua sibuk mengambil foto.
Semuanya terlihat sempurna.
Terlalu sempurna.
Kepala sekolah baru saja melanjutkan pidatonya ketika Raka berdiri.
Beberapa orang menoleh.
Ia berjalan ke depan.
“Raka?”
Kepala sekolah terlihat bingung.
Raka mengambil mikrofon.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia menarik napas.
“Saya cuma mau ngomong sebentar.”
Aula perlahan tenang.
“Selama tiga tahun, kita selalu diajarkan kalau nilai itu penting.”
Tidak ada yang menyela.
“Kalau nilai bagus berarti kita pintar.”
Raka menatap lembaran kertas di tangannya.
“Tapi saya baru sadar... ternyata nilai juga bisa dibuat untuk membuat seseorang terlihat pintar.”
Beberapa guru mulai gelisah.
Kepala sekolah berjalan mendekat.
“Raka, cukup.”
Raka mundur sedikit.
“Belum, Pak.”
Ia mengangkat kertas itu.
“Karena ada banyak hal yang selama ini nggak pernah kami tahu.”
Aula mulai gaduh.
Raka menyerahkan sebuah amplop kepada seorang wartawan yang duduk di belakang.
“Di dalamnya ada dokumen dan rekaman.”
Kepala sekolah langsung berubah wajah.
“Raka!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Beberapa orang mulai berdiri.
Orang tua saling bertanya.
Guru-guru saling melihat.
Raka meletakkan mikrofon.
Ia tidak menunggu sampai semuanya selesai.
Ia turun dari panggung.
Tiga bulan kemudian, sekolah itu masih berdiri.
Papan namanya masih sama.
Gedungnya juga masih terlihat megah.
Tetapi beberapa orang sudah tidak lagi bekerja di sana.
Kasusnya masih berjalan.
Raka sendiri belum menerima ijazahnya.
Katanya masih dalam proses.
Atau mungkin memang sengaja ditahan.
Ia tidak tahu.
Suatu sore, Raka berdiri di depan gerbang sekolah.
Dimas datang dari belakang.
“Rak.”
Raka menoleh.
“Udah dapat kerja?”
“Belum.”
“Kuliah?”
“Belum tahu.”
Dimas tertawa.
“Terus mau ke mana?”
Raka mengangkat bahu.
“Ke mana aja.”
Mereka berdiri beberapa saat.
Kemudian Dimas berkata,
“Lo nyesel?”
Raka melihat gedung sekolah.
Lalu tersenyum kecil.
“Kadang.”
“Terus?”
“Tapi kalau waktu bisa diulang...”
Raka memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Kayaknya gue tetap bakal ngelakuin hal yang sama.”
Dimas mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan gerbang.
Di belakang mereka, sekolah masih ramai.
Anak-anak baru pulang.
Guru-guru masih sibuk.
Kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Hanya ada satu hal yang berubah.
Raka akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang yang mendapatkan nilai tinggi benar-benar menang.
Dan tidak semua orang yang gagal berarti kalah.
Kadang, ada harga yang harus dibayar untuk tetap menjadi diri sendiri.
Dan bagi Raka, harga itu adalah satu hal yang selama ini paling ia inginkan:
lulus.
Bukan dari sekolah.
Tapi dari kebohongan yang selama ini diajarkan kepadanya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya