Orang Bilang Ini Cinta

100%

Orang Bilang Ini Cinta

“Kamu serius?” Vivin bertanya antusias.


Entahlah apakah itu bisa disebut antusias atau menyeramkan. Lihat saja matanya melotot, dia bahkan merasa tak perlu minta maaf telah menyemburkan nasi gorengnya tepat di wajahku.


“Vin, kira-kira dong. Jorok banget sih.” Tentu saja aku protes.


“Sorry, nggak sengaja.”


Aku mendengkus sambil membersihkan bekas saus di daguku.


“Terus,terus dia bilang apa lagi?” Ya ampun, dia juga sama sekali tak menunjukkan simpati.


“Dia bilang kamu jorok." Aku menjawab kesal.

“Kamu nih, keterlaluan. Aku kan nggak sengaja. Aku terlalu bersemangat dengar cerita kamu.”


“Dan itu sudah bikin kamu makin gila.”


“Koreksi. Gila karena cinta.”


Aku hampir muntah melihatnya merentangkan kedua tangan dengan wajah bersemu merah. Plus mata berkedip mirip kartun. Atau kelilipan?


“Sudah ah. Aku balik ke kelas.”


“Eh, enak aja. Cerita dulu. Belum juga bunyi bel, kan?”


“Jadi maksudmu aku tidak perlu membersihkan diri dari liurmu yang bau? Aku mau ke toliet dulu.” Aku melangkah, dan, “Jangan lupa bayarin. Anggap saja permintaan maafmu dan imbalanku bercerita.”


Aku mengedipkan mata dan melangkah jemawa. Hahahah.


“Sialan, dasar matre.”


Peduli amat, aku harus segera ke toilet.


Ini semua gara-gara Kak Rangga, si Ganteng jagoan sekolah. Vivin naksir berat sama cowok satu ini.


“Dia tuh cowok langka banget. Senyumnya aduhai, matanya tajam, dan yang paling penting tubuhnya atletis, six pack booo. Soal otak, enceeeeerrr.”


Hahah, emang cairan? Dan tahu apa dia soal six pack? Dia kan tidak pernah melihatnya tanpa baju. Apalagi ngobrol.


“HUAAA.” Aku hampir terjatuh. Vivin memberondongku dengan pertanyaan yang sama begitu aku membuka pintu toilet.


“Dia bilang apa, Ra?”


“Apaan sih, bikin kaget aja. Males aku ngejawabnya. Tuh sudah bel.” Ah, syukurlah. Saved by the bell.


***

Spidol melayang tepat di jidat Vivin. Telak.


“Di sini bukan tempat ngerumpi, tapi be--la--jar.” Pak Roy sudah melotot garang.


“Eh, saya sedang nanya cara mengerjakan soal nomor satu, Pak.” Jawab Vivin membela diri.


“Oh ya? Pantas saja kamu juga tampak sibuk menulis. Mari kita lihat apakah jawabanmu betul.”


Dan sebelum Vivin sempat menyelamatkan barang bukti, bukunya sudah berpindah ke tangan Pak Roy. Vivin meringis, aku menahan tawa, Pak Roy melotot lebih lebar. Tentu saja karena sehalaman penuh bukunya hanya tertulis satu kata. RANGGA.


Jadilah dia berdiri takzim di samping papan tulis sepanjang pelajaran berlangsung. Itu karena dia sibuk bertanya padahal semuanya sudah kuceritakan. Sebetulnya aku kasihan melihatnya, tapi sekali-kali bolehlah dia merasakan akibat tidak memperhatikan penjelasan guru.


Itulah cinta, kawan. Membuat korbannya tak segan berbohong. Meski kebohongan itu sangat kentara. Hari ini Pak Roy, besok orang tua yang dibohongi bilang les inilah, kerja kelompok di manalah. Biasa saja katamu? Tunggu saja sampai mulutmu terkunci, sedangkan mata, tangan, dan kakimu bersaksi. Sayang tak ada waktu untuk kembali.


“Aduh, Ra. Aku benar-benar gugup. Sebentar lagi pasti dia sudah berdiri didepan pintu dengan senyumnya yang aduhai. Menurut kamu aku harus bilang hai atau halo?”


Bahkan lewat telefon Vivin tak memberiku waktu istirahat.


“Ya ampun, memangnya apa bedanya?”


“Tapi aku gugup banget, Ra.”


“Woi, kamu pikir dia datang melamar, apa?”


Cukup sudah. Vivin benar-benar kehilangan akal sehat. Bagaimana tidak? Kak Rangga hanya menanyakan alamat. Bukan berarti dia akan datang bertamu kan? Jika pun iya, belum tentu hari ini kan?


Inilah yang tak kusuka dari sahabatku ini. Asli gede rasa. Kalau ngomongin soal Kak Rangga nggak bakal ada habisnya. Padahal topiknya itu-itu juga. Soal Kak Rangga yang jago basket, jago bola, jago Fisika, dan jago bikin cewek-cewek dag-dig-dug-serrr menerima senyumnya yang---meminjam istilah Vivin---aduhai.


Tapi itu tidak termasuk aku. Aku bukan tipe orang yang mudah takluk karena tampang. Bahkan meski aku pengagum cowok cerdas, bagiku Kak Rangga bukanlah sang pangeran berkuda putih.


Vivin pernah mengejekku tidak normal, mata buta, cewek bodoh. Biarin. Bagiku cinta bukan sekedar diukur dari tampang. Buat apa wajah rupawan tapi kelakuan buruk.


Sayangnya, Kak Rangga mengoleksi keduanya. Aku pernah melihatnya membentak ibu-ibu yang tanpa sengaja menjatuhkan barang belanjaannya karena kelelahan berjalan sambil menggendong bayinya. Barang-barangnya berjatuhan di bahu jalan dan Kak Rangga yang tak menduga nyaris jatuh dari motornya. Dia memang menghentikan motornya dan mendekati si Ibu. Tapi bukan untuk menolong, dia membentak. Bagiku itu sudah cukup.


“Huh, sok filosofis. Kita ini masih muda. Pacaran cuma buat having fun.” Ini argumen Vivin.


“Nah itu kamu tahu. Justru karena masih muda kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Belajar buat masa depan, bukan malah sibuk pacaran.”


“Kamu pikir pacaran jadi kambing hitam kegagalan? Kalau aku jadian sama Kak Rangga, aku pasti bakal ketularan pintarnya. Secaaaaraaa belajar dari ahlinya. Lebih semangat.”


“Dan saat kalian putus, dunia terasa berhenti berputar.”


Skak mat. Aku menohok tepat jantungnya. Rupanya dia masih ingat kejadian putus cinta enam bulan lalu..Deuh itu pilek nggak berhenti selama dua minggu. Nangis melulu.


Dan inilah muasal semua kerusuhan ini.


Kemarin aku pulang sekolah sendiri. Tiba-tiba dengan menenteng helm dan rambut basah karena keringat, si jagoan sekolah berlari tepat ke arahku. Sedikit ngos-ngosan. Sepertinya dia lupa motornya jelas lebih laju dari larinya. Heheh, minat banget sih.


“Kamu Rara kan?”


“Eh, benar Kak. Ada apa?”


Ah ya, Kak Rangga penghuni kelas XII IPA 1, aku kelas XI IPA 2.


“Teman kamu mana? Kok sendiri?”


“Vivin? Dia masih di Surabaya jenguk tantenya. Tapi besok sudah masuk kok.”


“Oh gitu ya. Aku boleh tahu alamat rumahnya nggak?”


Sudah, gitu aja. Dan lihat efeknya pada Vivin. Barangkali perlu ada penobatan Ratu GR Sejagad, meniru kontes ratu-ratuan yang nggak banget.


Tingtong...


Bel berbunyi. Aku segera merapihkan pakaian dan berlari membuka pintu. Itu pasti tukang AC langganan Ayah.


“Kak Rangga?” aku terkejut setengah mati melihat sosok di depanku.


“Hai, Rara. Ternyata rumahmu di sini ya. Maaf ya kemarin maksud aku tuh nanyain alamat kamu. Kayaknya aku salah milih kata deh. Untung saja Vivin ngasih tahu.”


Kak Rangga nyerocos tanpa henti. Aku melongo. Vivin? Ya Tuhan, rasanya aku bisa merasakan bantalnya basah karena air mata.






Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: