Orang Bilang Ini Cinta

100%

Orang Bilang Ini Cinta

Vivin baru saja menutup telepon, atau tepatnya sih aku yang memaksa mengakhiri pembicaraan yang super ngeselin. Apalagi kalau bukan Vivin yang sibuk nyerocos tentang persiapannya menyambut sang Pujaan Hati. Hanya dalam hitungan menit, sebelum aku membuka pintu dan tersentak melihat tampang di hadapanku. Rangga, sang Pujaan Hatinya Vivin.


Berkali-kali aku mencoba menepis memori ini, sialnya terus terulang seperti video yang di-rewind. Vivin sahabat terbaikku sejak kami masih doyan mengelap ingus pakai tangan, sejak Vivin masih suka ngompol meski tidur siang bolong (uppssss, maksudku itu termasuk aku, heheh).


Sebenarnya sih aku tidak begitu respek pada Rangga, sekeren-kerennya seorang Rangga gagal total memikatku yang kata Vivin seperti batu, tolol bin idiot. Tapi, kehadirannya sore itu, senyumnya yang mengalahkan manisnya madu, wangi parfumnya yang seperti menghadirkan taman bunga tepat di hidungku, suaranya yang -aku sepakat dengan Vivin- sanggup mengalihkan telingamu dari suara emas seorang penyanyi kelas atas, sukses membuatku terpaku untuk sesaat. Dan hei, mengapa aku jadi hiperbolis sekali seperti orang yang terserang virus merah jambu? Apakah aku benar-benar sedang jatuh cinta?


Dan eh, dia melarangku memanggilnya Kak. Rangga saja, katanya. Apakah itu artinya ....


***

Aku baru saja duduk dan mengeluarkan buku Fisika ketika Vivin menempelkan bokongnya di atas kursi di sampingku. Aku menoleh hanya untuk menemukan Vivin dengan mata bengkak. “Hai, Vin. Kamu sakit?” aku spontan bertanya.


“Kau tau kau tak butuh jawaban kan?” Ya ampun, kasar sekali jawabannya.


“Vin, Kak Rangga tidak...”


“Jangan dibahas.” Vivin memotong kalimatku, masih tidak merasa perlu menoleh padaku.

Tapi 5 detik kemudian, “Kau seharusnya terus terang saja, Ra. Tidak perlu repot-repot membelokkan cerita.”


Hah, dasar Vivin. Bahkan saat kesal pun topik soal Rangga selalu penting.


“Hei, apa maksudmu? Kamu pikir aku sengaja mengarang cerita? Buat apa?”


“Menyakitiku, barangkali,” katanya sambil mengangkat bahu.Aku benar-benar emosi mendengarnya.


“Vin, kau keter--." Aku belum sempat menyelesaikan kalimat ketika satu suara memanggil dari pintu kelas.


“Ra, jangan lupa, jam istirahat di kantin ya.”


Rangga menghilang dengan kedipan mata dan senyumnya yang khas, menyisakan aku yang gugup, Vivin yang nelangsa dan seisi kelas yang sibuk ber-ssshhhh...sssshhhh, dasar gosipper.


Dan pelajaran pagi itu berlangsung sangat membosankan dengan manusia ketus di sampingku. Bahkan saking ketusnya, Vivin memilih berjalan ke pojok kelas hanya untuk bertanya cara mengerjakan soal nomor lima pada Sinta. Kurasa dia lupa kalau kawan baiknya ini jago Fisika.


Vivin sengaja berbalik arah ke kantin lain ketika sadar kami menuju ke tempat yang sama. Seburuk itu ya aku di matanya?


“Hai, aku sudah memesan minuman kesukaanmu.” Rangga menarik kursi buatku.


Ya ampun, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini.


“Kok tau aku suka jus mangga?" Aku berusaha bersikap senormal mungkin.


“Aku suka merhatiin kamu. Kamu layak merasa tersanjung, Ra." Lagi-lagi dengan senyumnya yang membunuh.


“Karena diperhatikan cowok terkeren di sekolah?” Ya ampun, apakah aku benar-benar mengatakannya?


Gotcha, akhirnya kau mengaku. Hahah."


Sialan, wajahku pasti memerah, dan seketika senyumku lenyap begitu mataku menangkap tatapan Vivin dari kantin sebelah. Sedang apa sih dia di situ?


“Kak Rangga seharusnya tidak perlu ke kelasku tadi, aku tidak lupa kok,” kataku sambil mengaduk jus mangga dengan sedotan.


"Rangga saja. Ok?"


Aku mengangguk, meski masih canggung. Aku tak terbiasa memanggil kakak kelas hanya dengan namanya.


Rangga melanjutkan kalimat sambil mengaduk minuman. “Memangnya nggak boleh? Apa ada yang marah?”


Ya, ada. Dan orang itu sepagi ini membuat suasana hatiku sangat tak nyaman.


“Jadi, apa jawabanmu?”


“Belum tau."


Ya ampun, Ra. Kau cukup bilang iya, susah amat sih.


“Oke, kuharap kamu punya jawabannya besok, dan kamu harus mau, Ra!"


Heh, kok maksa?


 ***


Selalu sulit menjalin pembicaraan dengan orang yang cemburu berat padamu.


"Vin, jangan lupa sore ini kita ngerjakan tugas Kimia di rumahku.”


Sorry, aku sudah pindah ke kelompok Sinta.”


Apa? Seenak itu dia beralih ke kelompok lain?


“Vin, kau tidak perlu bertingkah konyol begitu. Aku bahkan belum menjelaskan apa-apa,” protesku dengan galak.


Vivin lebih galak, “Tidak perlu, Ra. Kau sudah menjelaskan semuanya seharian ini.”


Aku tahu yang dimaksud Vivin. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku pulang sendiri, maksudku tidak termasuk saat Vivin sakit atau apalah. Aku tidak berselera memenuhi ajakan pulang bersama Rangga.


HP-ku berdering, ada nama yang baru kemarin kutambahkan ke daftar kontak. Rangga.


“Halo, Vin, sudah dapat jawabannya?”


“Bukannya aku bilang besok?”


“Aku nggak sabar, Vin, hehe.”


“Kenapa harus aku, sih?”


“Karena kamu memang pantas, Ra."


Syukurlah dia tidak melanjutkan dengan kalimat "Kau layak tersanjung, Ra."


Dan kupingku mendadak geli.


“Kau layak tersanjung, Ra."


***

“Tetoooot, waktu berpikir habis. Apa jawabanmu?” Rangga mengangetkanku. Sepagi ini dia sudah menunggu di pintu kelasku.


“Apaan sih, bikin kaget aja, nggak enak diliat yang lain.”


Aku protes sambil menghindari tatapan mata teman-teman sekelas yang siap menyusun gosip dengan bumbu-bumbu tambahan soal kehadiran Rangga sepagi ini.


“Aku kan cuma menagih janji, jangan lupa kau bilang hari ini.”


“Hari ini bukan berarti sepagi ini kan?”


“Maksudmu, aku harus menunggu sampai jam dua belas malam?”


Maybe”, aku menjawab cuek. Rangga gemas.

  

“Nanti sore, di tempat biasa!” Rangga berlalu santai sambil bersiul.


Kata “di tempat biasa” yang nyatanya akan menjadi yang kedua kalinya kukunjungi, jelas membuat mata Vivin (ngapain juga dia sudah datang sepagi ini) membelalak. Dasar Rangga, sejago-jagonya sains ternyata payah memilih diksi.


“Emm, Vin. Nanti sore ikut aku, ya?”


Hei, lihat mata monster Vivin. “Sorry, aku bukan obat nyamuk.”


“Ayolah Vin, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Ok?”


“Didepan Kak Rangga? Nggak usah ya," katanya galak, dia bahkan merasa tidak perlu menurunkan nada suaranya.


Baiklah, tidak ada gunanya berbicara pada orang yang terbakar api cemburu. Just shut-up, Rara!


***

“Apa? Vivin teman kamu itu? Kenapa harus ada dia sih.” Rangga protes mendengar syarat yang kuajukan.


“Mungkin karena dia LAYAK."


“Stop. Itu kata milikku,” protes yang kedua.


“Kau tak punya hak paten, Bung. Dan hei, kita disini bukan untuk membahas diksi konyolmu, kan?”


Hahaha, aku menyukai situasi ini. Si Tampan jagoan sekolah idola para cewek tidak berkutik di depanku. Rara gitu loh, selain jago sains juga pendebat ulung.


“Oke, tapi pastikan dia tidak macam-macam,” Rangga akhirnya mengalah.


Leave it to me, she won’t make a mess. I promise."


Kecuali jika aku gagal memperbaiki suasana hatinya. Aduh, gimana caranya ya?

***


Semilir angin menggoyangkan jilbabku. Aku menunggu dengan bosan, terlebih karena aku harus tetap bersembunyi sampai Sinta menyelesaikan tugasnya. Vivin menyeruput sekali lagi jus alpukat di depannya sambil sesekali melihat jam tangan.


Lalu ponselnya berdering.


“Sin, kamu di mana sih? Telatnya pake banget segala." Vivin mengomel di telepon. Tapi kemudian air mukanya berubah. “Oh, maaf, aku nggak tau. Ya udah, semoga lekas sembuh ya.” Tut, terpurus.


Aku tersenyum, operasi pencarian sekutu yang memakan waktu seharian ternyata berjalan lancar. Bayangkan, aku harus menanyakan satu-persatu teman sekelas sampai menemukan orang yang ibunya sedang sakit. Dan Sinta orangnya.


Jadi, rencananya Sinta janjian sama Vivin mencari buku buat tugas kelompok di Gramedia. Tapi batal karena ibu Sinta sakit. Setidaknya tak ada yang perlu berbohong, kan? Lagipula, siapa sih yang tega membatalkan janji dan berbohong soal ibu yang sakit? Itu namanya raja (atau ratu ya?) tega.


Your turn!


Aku memberi kode. Rangga mendekati Vivin yang masih kesal.


“Hai, Vin. Boleh gabung?” Rangga bertanya dan membuat Vivin tersedak.


Vivin yang setengah tak percaya tidak bisa menghalangi Rangga menarik kursi dan duduk di depannya.

  

“Mana Rara?” Vivin akhirnya bertanya. Untuk pertama kalinya sejak Rangga merebut hatinya. Koreksi, tidak ada yang merebut. Vivin saja yang ke-GR-an.


“Itu dia datang.”


Rangga menunjuk ke arah kedatanganku. Aku tahu seberapa kesalnya Vivin. Tentu saja pertanyaannya barusan hanya basa basi, eh malah aku benar-bena muncul, hahahah.


“Maaf telat." Aku santai menarik kursi.


Vivin memasang wajah bingung. Telat? Maksudnya?


“Silahkan dimulai, Tuan!” aku berkata pada Rangga dengan kedipan mata ke arah Vivin. Vivin belum sempat bertanya saat Rangga mulai membuka suara.


“Baiklah. Vivin, kami butuh bantuan kamu.” Tanpa basa basi, khas Rangga.


“Eh?” hanya itu suara yang keluar dari mulut Vivin. Dia menoleh padaku yang memberi isyarat agar mendengarkan saja apa kata Rangga.


Rangga mengeluarkan selembar kertas penuh coretan, itu adalah lokasi traffic light di kota ini. Dan selembar lagi, juga penuh coretan, itu lokasi pasar, tempat wisata, mal dan tempat keramaian yang lain.


Lalu meluncurlah penjelasan Rangga. Soal rencana bergerilya ke sudut-sudut kota untuk membujuk para anak jalanan yang tersebar di kota ini. Dari pengamen hingga pencopet. Tujuannya satu, mengajak mereka belajar bersama supaya pintar dan berhenti melakukan pekerjaan rendah mereka. Memang harusnya ini tugas pemerintah, tapi kalau kita bisa berbuat, mengapa harus menunggu?


Aku tahu Vivin tak lagi memperhatikan kalimat Rangga, tapi takjub menelisik setiap inci gurat wajah Rangga dari dekat. Sikap memalukan Vivin yang tidak bisa hilang.


“Jadi, aku, Rara dan teman-teman yang lain akan bertindak sebagai pengajar. Sedangkan kamu akan menyediakan tempat yang layak sebagai markas kita. Karena kamu tidak mungkin mengajar mereka, kan?”


Aku menendang kaki Rangga dan melolot, maksudnya apalagi kalau bukan, Jaga bicaramu! Rangga buru-buru meralat.


“Eh, maksudku untuk tahap awal kita sudah punya sepuluh pengajar termasuk aku dan Rara, jadi kamu bisa melakukan yang lain saja.”


Tapi Vivin yang gilanya kumat malah bilang, “Oh, nggak papa kok. Jadi tukang hapus papan tulis pun aku mau, asal ada Kak Rangga." Memalukan.


Aku melotot padanya, maksudnya, Jaga harga dirimu, gadis bodoh!


 Vivin malah balik melotot. Aku salah apa?


Dan Rangga ikutan melotot. Kau bilang dia tidak akan mengacau.


Aku menarik napas dalam-dalam.


Tamat.





Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: