Sepatu Bolong

100%

Sepatu Bolong

Aku selalu tahu kapan hujan akan turun.

Bukan karena aku pandai membaca langit, tetapi karena setiap kali awan berubah gelap, aku mulai memikirkan sepatuku.

Sepatu hitam yang sudah tiga tahun menemaniku pergi ke sekolah.

Sebenarnya, sepatu itu sudah tidak pantas disebut sepatu. Sol bagian kanannya menganga. Bagian depannya robek. Tali sebelah kiri sudah ku ganti dengan tali rafia karena tali aslinya putus beberapa bulan lalu.

Dan ada satu lubang kecil di dekat ibu jari.

Lubang itu tidak besar.

Tetapi cukup untuk membuat air hujan masuk.

Setiap kali berjalan melewati halaman sekolah yang becek, aku bisa merasakan air dingin merembes ke dalam kaus kaki.

Dingin.

Menusuk.

Membuat kakiku mati rasa.

Namun aku tidak pernah mengeluh kepada Ibu.

Aku tahu dari mana uangnya berasal.

Ibu menjahit pakaian orang-orang di kampung kami. Sehari paling banyak mendapatkan tiga puluh sampai lima puluh ribu rupiah. Uang itu harus dibagi untuk membeli beras, membayar listrik, membeli obat, membayar kebutuhan sekolahku, dan entah berapa macam iuran yang selalu muncul dengan alasan pendidikan.

Jadi ketika aku berkata ingin membeli sepatu baru, aku sudah bisa membayangkan wajah Ibu.

“Sepatumu masih bisa dipakai, kan?”

Begitulah biasanya Ibu berkata.

Dan aku selalu menjawab, “Masih.”

Padahal sebenarnya tidak.

Pagi itu aku duduk di teras rumah sambil memasukkan kakiku ke dalam sepatu yang sudah lembap. Hujan turun sejak subuh.

“Rak, makan dulu.”

Aku menoleh.

Ibu berdiri di pintu dapur sambil membawa sepiring nasi dengan telur dadar tipis.

Aku tersenyum.

“Telurnya buat Ibu saja.”

“Ibu sudah makan.”

Aku tahu Ibu berbohong.

Tapi aku pura-pura percaya.

Aku mengambil nasi itu.

“Bu…”

“Hm?”

“Besok ada pembayaran kegiatan sekolah.”

Tangan Ibu yang sedang merapikan rambutnya berhenti.

“Berapa?”

Aku menunduk.

“Seratus lima puluh ribu.”

“Besok?”

Aku mengangguk.

“Katanya wajib.”

Ibu diam cukup lama.

Kemudian dia tersenyum kecil.

“Nanti Ibu usahakan.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi aku tahu arti sebenarnya.

Ibu akan mengambil pekerjaan tambahan.

Mungkin menjahit sampai tengah malam.

Mungkin meminjam uang kepada tetangga.

Mungkin mengurangi uang makan.

Aku menatap sepatuku.

Untuk sesaat aku merasa bersalah karena masih bersekolah.


Hujan semakin deras ketika aku berangkat.

Aku berlari sambil menutupi kepala dengan tas.

Air masuk melalui lubang sepatu.

Ciprat.

Ciprat.

Ciprat.

Setiap langkah membuat kaus kakiku semakin basah.

Ketika sampai di gerbang sekolah, aku melihat Pak Darma, guru kesiswaan, berdiri di sana.

Tatapannya langsung jatuh ke kakiku.

“Raka.”

“Iya, Pak?”

“Sepatumu kenapa?”

“Rusak, Pak.”

Pak Darma menggeleng.

“Sekolah punya aturan.”

Aku diam.

“Sepatu harus hitam dan layak.”

Aku melihat kakiku.

Sepatuku masih hitam.

Tetapi ternyata menjadi miskin juga memiliki ukuran kelayakan.

“Besok diperbaiki.”

“Iya, Pak.”

“Kalau tidak?”

Aku tidak menjawab.

Pak Darma menunjuk kakiku.

“Jangan masuk sebelum diganti.”

Aku menatap halaman sekolah.

Teman-temanku berlarian melewati ku.

Tidak ada yang berhenti.

Tidak ada yang bertanya.

Aku berdiri di bawah hujan seperti seseorang yang sedang dihukum karena tidak mampu membeli sesuatu.

Beberapa menit kemudian wali kelasku datang dan mengizinkanku masuk.

Aku berjalan menuju kelas dengan kepala tertunduk.

Tetapi sebelum masuk, aku mendengar suara tawa dari belakang.

“Eh, lihat sepatu Raka!”

Aku tidak menoleh.

“Bolong!”

Beberapa anak tertawa.

Aku menggigit bibir.

Aku ingin marah.

Aku ingin mengatakan bahwa mereka tidak tahu bagaimana rasanya melihat ibunya bekerja sampai larut malam hanya untuk membayar sekolah.

Tetapi aku diam.

Karena di sekolah ini, anak seperti aku belajar satu hal lebih cepat daripada pelajaran matematika.

Kami belajar bagaimana menelan malu.


Saat jam istirahat, aku berdiri di depan papan pengumuman.

Ada poster besar bertuliskan:

PROGRAM SEKOLAH BERBAGI

Di bawahnya terdapat foto seorang siswa menerima sepasang sepatu baru.

Aku mengenal anak itu.

Namanya Kevin.

Anak pengusaha.

Dia bahkan sering datang ke sekolah menggunakan sepatu berbeda setiap beberapa hari.

Aku membaca tulisan di bawah foto.

“Sekolah peduli terhadap kesejahteraan siswa.”

Aku hampir tertawa.

Lalu mataku menangkap tulisan kecil di bagian bawah.

Donasi kegiatan sosial siswa: Rp25.000 per bulan.

Aku mengerutkan kening.

“Lucu, ya?”

Aku menoleh.

Dimas berdiri di sampingku.

“Apa?”

“Program berbagi.”

Aku menunjuk poster.

“Kita yang bayar donasinya.”

Dimas diam.

“Kalau kita yang bayar, kenapa sekolah yang disebut berbagi?”

Dimas menatap sekeliling.

Kemudian dia mendekat.

“Jangan banyak tanya.”

“Kenapa?”

“Karena ada yang pernah bertanya.”

“Siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Namanya Ardi.”

“Terus?”

“Dia dulu sering mempertanyakan uang kegiatan.”

Aku menunggu.

“Setelah itu?”

“Pindah sekolah.”

Aku mengerutkan kening.

“Memangnya kenapa?”

Dimas menatapku.

“Dia bilang uang kegiatan yang dikumpulkan sekolah terlalu banyak. Dia juga pernah menemukan kwitansi yang jumlahnya berbeda dengan uang yang diminta dari siswa.”

Aku terdiam.

“Dia punya buktinya?”

Dimas mengangguk.

“Punya.”

“Di mana?”

“Katanya disimpan di ponselnya.”

Aku melihat wajah Dimas.

“Lalu?”

“Ponselnya disita.”

“Guru?”

Dimas mengangguk.

“Setelah itu Ardi tidak pernah masuk sekolah lagi.”

Aku menelan ludah.

Bel masuk berbunyi.

Dimas pergi lebih dulu.

Aku masih berdiri di depan poster itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihat sepatu Kevin.

Aku melihat angka.

Aku melihat kwitansi.

Aku melihat uang.

Dan aku mulai bertanya-tanya, berapa banyak anak seperti aku yang dipaksa membayar sesuatu yang sebenarnya tidak mampu mereka bayar?


Hari berikutnya, Ibu memberikan uang seratus lima puluh ribu kepadaku.

Uang itu terlipat rapi.

Aku tahu Ibu mendapatkannya dari mana.

Dia menjahit sepanjang malam.

Matanya merah.

Jarinya bahkan tertusuk jarum.

Aku menggenggam uang itu.

“Bu.”

“Hm?”

“Kalau aku tidak ikut kegiatan, tidak apa-apa?”

Ibu menatapku.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

Aku ingin mengembalikan uang itu.

Tetapi aku tahu Ibu akan kecewa.

Jadi aku memasukkannya ke dalam tas.

Sesampainya di sekolah, aku membayar uang kegiatan.

Bendahara kelas memberiku kwitansi.

Aku melihat jumlahnya.

Rp150.000.

Tetapi ketika aku tidak sengaja melihat kuitansi milik siswa lain, jumlahnya hanya Rp100.000.

Aku terdiam.

“Kenapa?”

Aku menunjuk kwitansi itu.

“Kenapa punyanya seratus ribu?”

Bendahara langsung mengambil kertas tersebut.

“Beda kegiatan.”

“Tapi kegiatannya sama.”

Wajahnya berubah.

“Jangan ikut campur.”

Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Sepulang sekolah, aku mencari Dimas.

“Dim.”

Dia menoleh.

“Aku menemukan sesuatu.”

Aku menunjukkan kwitansiku.

Dimas langsung pucat.

“Jangan simpan itu.”

“Kenapa?”

“Buang.”

“Tidak.”

“Raka!”

Aku terkejut.

Dimas jarang sekali berteriak.

Dia menarik lenganku ke tempat yang sepi.

“Kamu tidak tahu siapa yang bermain di belakang semua ini.”

“Aku cuma ingin tahu uangnya ke mana.”

Dimas menatapku lama.

“Kalau kamu terus mencari tahu, bukan cuma sepatu yang akan bolong.”

Aku tertawa hambar.

“Memangnya apa lagi?”

Dimas tidak menjawab.


Malamnya, aku menemukan sesuatu di tas sekolah.

Sebuah amplop putih.

Tidak ada nama.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada fotokopi beberapa kwitansi.

Jumlah uangnya berbeda-beda.

Nama kegiatan sama.

Tanggalnya sama.

Tetapi jumlah pembayaran siswa berbeda.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tulisan tangan.

“Kalau kamu ingin tahu ke mana uang sekolah pergi, cari ruang arsip lama.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku tidak tahu siapa yang memasukkan amplop itu ke tasku.

Aku juga tidak tahu siapa yang menulisnya.

Tetapi malam itu aku membuat keputusan.

Besok aku akan mencari ruang arsip lama.

Bukan karena aku berani.

Aku justru sangat takut.

Namun selama bertahun-tahun aku sudah diajarkan bahwa orang miskin harus diam agar tetap bisa bersekolah.

Dan mungkin, pikirku, sudah waktunya seseorang bertanya.

Karena ternyata pendidikan tidak selalu gelap karena tidak ada cahaya.

Kadang-kadang pendidikan menjadi gelap karena ada orang-orang yang sengaja mematikan lampunya.

Aku menatap sepatuku.

Lubangnya semakin lebar.

Aku tersenyum getir.

Mungkin selama ini aku mengira sepatu bolong adalah tanda bahwa hidupku terlalu miskin.

Ternyata sepatu itu justru menjadi saksi.

Saksi bahwa di tempat yang seharusnya mengajarkan kejujuran, ada terlalu banyak hal yang disembunyikan.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: