Sisa Napas dari Cinta yang Kau Paksa Mati
Enam tahun, Kasih. Itulah umur sebuah perjuangan yang kutanam dengan seluruh denyutku, yang kupeluk meski tubuhku sendiri nyaris patah oleh beban yang kupikul sendirian. Aku mencintaimu sepenuh napas, bahkan ketika dunia mengeruhkan langkahmu, aku tetap menjadi lelaki yang berdiri paling depan, mengadang luka apa pun demi memastikan kau tetap merasa pulang.
Namun siapa sangka, yang meruntuhkan semuanya bukan badai, bukan dunia, melainkan egomu sendiri, yang tumbuh seperti belati dan menangkup tenggorokan cintaku hingga nyaris tak bisa bernapas lagi.
Kau bilang kau ingin dimengerti, tapi tak sekali pun kau mencoba menyelami laut di dadaku yang selalu bergemuruh untuk menjagamu tetap tenang. Kau bilang aku kurang peka, padahal setiap kali kau hancur, akulah yang memunguti serpihmu dengan tangan penuh getar agar kau tetap utuh walau sedikit.
Enam tahun, Kasih. Enam tahun aku mencangkul harap di tanah yang kau injak sesuka hati. Aku menjahit ulang hatiku sendiri setiap kali kau mengoyaknya dengan kata-kata yang lebih tajam dari apa pun yang pernah kutakuti. Aku bertahan, bukan karena bodoh, tapi karena aku percaya cinta yang dijaga sungguh-sungguh pasti menemukan jalannya.
Ternyata aku keliru. Cinta kita bukan mati karena waktu, tapi karena egomu terlalu megah untuk memberi ruang bagi kita berdua. Dan aku, lelaki yang selama ini berdiri untukmu, kini roboh oleh keputusanmu yang kau ucapkan tanpa getar, seolah enam tahun hanyalah debu yang mudah kau tiup pergi.
Kasih, jika ada yang harus mengalah, aku sudah melakukannya berkali-kali hingga nyawaku sendiri terasa menyusut. Jika ada yang harus mencoba, aku sudah habis-habisan sampai tak ada lagi tenaga yang bisa kuberikan selain keikhlasan terakhir.
Kini biarlah aku pergi dengan langkah yang masih terseok, dengan hati yang masih penuh bekas cakar kenanganmu. Bukan karena aku tak lagi cinta, tapi karena aku akhirnya mengerti: tak ada lelaki yang bisa menang melawan ego yang kau banggakan.
Dan jika suatu hari kau menoleh ke belakang mencari enam tahun yang hilang, kau akan tahu yang kaubiarkan pergi bukan hanya seorang lelaki, melainkan seluruh doa yang selama ini menjaga hidupmu tanpa pernah meminta balasan apa-apa.
Marion D'rossi
Depok, 18 November 2025
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya