Andai ku di posisimu
Ku pasti lebih baik
Begitulah pikirku
Tapi... benarkah begitu?
Setelah melihatmu jadi seperti itu
Yang mengatakan...
"Aku pasti lebih baik"
"Aku pasti lebih bijaksana"
Lucunya, itu hanya angin semata
Dirimu tetap seperti pendahulu
Pendahulu yang telinga dan mata
Sudah tak berfungsi seperti katamu
Apakah itu adat-istiadat?
Setiap generasi ada penerusnya
Tapi mengapa harus begini?
Kenapa yang diwariskan bukan kebijaksanaan?
Melainkan keegoisan dan ketidakpedulian
Sekarang ku bingung...
Takut...
Kalau aku di sana
Aku pun jadi penerus adat-istiadat
Yang katanya harus dijunjung tinggi
Tapi tak punya hati nurani?
Inderaku pun bisa saja mati
Seperti mereka yang lebih dulu
Mendengar tanpa mendengarkan
Melihat tanpa memahami
Aku melihat saudara-saudaraku menunduk
Saat kata-katanya dibungkam
Aku melihat saudara lain tertawa hambar
Saat yang lainnya menghapus air matanya
Aku melihat saudara-saudaraku diam
Saat hak mereka dirampas dengan alasan "adat"
Mungkin inilah yang terbaik
Melihat serta mengamati
Menasehati lalu mengadili
Menyimpan kata di balik senyuman
Menyembunyikan luka di balik aturan
Tapi aku tak ingin begitu...
Aku ingin suaraku tak hanya menggema,
Tapi juga menggugah hati yang mendengarnya
Aku ingin mataku tak hanya melihat,
Tapi juga dipahami
Semoga nanti...
Adat yang menekan itu hilang ditelan bumi
Hilang, serta lenyap tanpa jejak
Tapi berganti menjadi yang lebih baik
Yang tak hanya diwariskan,
Tapi juga dipertahankan
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya