Ulama Tanpa Mimbar

100%

Ulama Tanpa Mimbar

Aku selalu berpikir bahwa menanggung beban hidup sendirian adalah seni yang paling sunyi. Orang lain tidak mau mengerti mengenai apa yang aku usahakan, mengenai apa yang aku ikhtiarkan. Kebanyakan orang hanya mau melihat hasilnya tanpa tahu perjuangan berdarah-darah di dalamnya. Ibarat kesuksesan, ya standarnya harus berhasil. Namun dalam kasusku, kenyataannya tidak sama sekali.


Perjuangan mencari kerja di tengah berita PHK massal yang berdengung di mana-mana membuat dunia rasanya makin menyempit. Belum lagi nasib para pekerja kreatif yang ruang geraknya makin bergeser dengan adanya AI, hingga realitas pahit tentang gaji guru honorer yang nilainya bahkan lebih kecil dari harga sepasang sepatu murah. Semua orang dipaksa bertahan hidup demi segelintir rupiah yang nilai mata uangnya kian terjun bebas. Ditambah pidato-pidato yang bukannya menenangkan, malah semakin membuat masyarakat kecil terpuruk di tengah turunnya angka-angka ekonomi. Di media sosial, orang-orang bahkan memilih mengakhiri hidup hanya karena nilai trading-nya merah melulu, sementara BBM di berbagai wilayah kian langka. Kondisi masyarakat kini berubah drastis: semua orang terpaksa menjadi penjual, sedangkan pembelinya semakin sedikit. Belum lagi... ah, aku terlalu capek untuk menuliskan semuanya. Semoga Tuhan menguatkan kita untuk tetap bisa bertahan dan berpikir waras di tengah kondisi yang gila saat ini.


Sore itu, kepalaku rasanya mau pecah.


Di dalam kamar kontrakan yang sempit, hawa udara terasa begitu pengap seolah dinding-dinding betonnya perlahan bergerak merapat untuk menjepit tubuhku. Di layar ponsel, sisa saldo rekeningku menatapku dengan dingin—sebuah angka mati yang bahkan tidak cukup untuk membeli ketenangan semalam. Aplikasi marketplace yang sejak pagi kupantau dengan cemas hanya menyisakan tumpukan obrolan yang menggantung. Orang-orang datang hanya untuk bertanya, menawar harga dengan sadis seolah barang daganganku tidak memiliki harga diri sama sekali, lalu menghilang begitu saja tanpa permisi setelah diberi alamat lengkap. Padahal barang dagangan itu ialah benda-benda berharga yang sengaja aku kumpulkan selama ini, demi ditukarkan dengan beberapa rupiah untuk menyambung hidup. Aku hanya bisa menggaruk kepala, lantas tersenyum getir. Begitu lucunya hidup ini.


Di luar, langit Bandung mulai bergeser ke arah abu-abu yang muram. Ada rasa sesak yang merayap lambat dari dada, naik ke tenggorokan, lalu menyumbat jalan napas. Sebuah rasa muak yang membuatku ingin menghapus seluruh jejak keberadaanku dari dunia digital, mematikan ponsel untuk selamanya, lalu lenyap begitu saja. Karena tidak tahan dengan keheningan dinding kontrakan, aku memutuskan keluar dari kontrakanku di sekitar Kiaracondong, berjalan kaki di atas trotoar yang kian lama terasa tidak ramah. Di sepanjang jalan, kuperhatikan para pengendara yang terjebak macet. Mereka semua bukan pemalas, batinku. Kita semua hanya sedang sama-sama dikurung oleh nasib yang melelahkan.


Langkah kaki yang lunglai akhirnya membawaku terhenti di sudut pertigaan dekat Stasiun Kiaracondong. Tempat di mana riuh suara peluit kereta beradu dengan bising kendaraan. Di sana, kepulan asap tipis membumbung dari sebuah wajan besar yang hitam legam. Mang Dudung, pria paruh baya dengan kaos oblong yang sudah melar kerahnya, sedang sibuk membolak-balik adonan di balik gerobak cirengnya.


Aku memesan lima ribu rupiah. Uang selembar terakhir yang sengaja aku keluarkan agar aku punya alasan legal untuk berdiri di sana, agar tidak terlihat seperti orang gila yang sedang linglung di tepi jalan. Dan ya, perutku juga memang terasa lapar.


"Sabar, Kang. Minyaknya harus pas panasnya," ujar Mang Dudung tanpa menoleh. Matanya fokus menatap adonan putih yang perlahan dimasukkan ke dalam minyak panas.


Aku hanya mengangguk pelan, melempar senyuman klise. "Mang, pernah kepikiran gak, kenapa cireng adonan sekecil itu kalau digoreng suka tiba-tiba meledak?" tanyaku, asal bicara untuk mengusir sunyi.


Mang Dudung terkekeh, suaranya berat dan serak. "Oh, eta mah ada ilmunya, Kang. Cireng meledak itu karena suhunya kaget. Adonannya dingin, minyaknya langsung terlalu panas, terus kita yang goreng buru-buru pengen dia cepat matang. Akhirnya, tekanan di dalamnya gak kuat menahan panas dari luar. Jedarrr! Minyaknya ke mana-mana, kitanya yang perih kena cipratan."


Beliau mengambil satu cireng yang sudah mengembang sempurna, meniriskannya dengan gerakan santai. "Makanya, kuncinya di kesabaran mengelola api. Apinya jangan kegedean di awal. Biarkan dia hangat dulu, berteman dulu sama minyaknya. Nanti kalau kulit luarnya sudah kuat dan matang perlahan, dia gak bakal meledak. Dia bakal mengembang dengan tenang."


Aku tertegun di samping gerobak kayunya. Angin sore stasiun berembus menusuk tulang, tapi dadaku mendadak terasa hangat. Di dalam kepalaku, kata-kata Mang Dudung sama sekali tidak sedang membahas tentang tepung tapioka. Beliau sedang menelanjangi hidup saya. Tentang bagaimana saya yang dingin, rapuh, dan belum selesai dengan diri sendiri ini, tiba-tiba dilemparkan ke dalam "minyak panas" ujian hidup selama bertahun-tahun. Tuntutan ekonomi yang mencekik, biaya berobat yang terus menuntut, serta ekspektasi orang-orang sekitar yang suhunya makin memanas. Saya kaget. Dan persis seperti cireng yang salah asuhan api itu, beberapa kali saya hampir meledak hancur karena tidak kuat menahan tekanan sendirian.


Dalam tradisi yang saya pelajari dulu, gelar "ulama" selalu disematkan pada orang-orang yang berdiri tegak di atas mimbar dengan pakaian jubah rapi. Tapi sore ini, di hadapan gerobak kayu yang bergoyang ditiup angin malam, saya sadar saya sedang berhadapan dengan seorang ulama yang sesungguhnya. Seorang ulama tanpa mimbar dan sorban, yang justru berhasil mengajari saya bab paling sulit: kesabaran mengelola api di dalam dada.


Beliau tidak mengutip teks-teks kuno yang rumit. Beliau hanya menggunakan adonan tepung murah untuk menjelaskan bagaimana cara bertahan hidup yang presisi di tengah dunia yang suhunya sedang membakar kita hidup-hidup. Obrolan remeh itu menjadi jawaban mutlak atas keresahan yang saya sandang berbulan-bulan. Tuhan tidak pernah terlambat, kitanya saja yang sering kali terlalu terburu-buru ingin matang di atas api yang salah.


Aku menerima bungkusan plastik cireng hangat itu. Saat menyerahkan selembar uang terakhir di kantongku, aku menatap mata Mang Dudung yang dipenuhi kerutan lelah, namun tetap terasa teduh.


"Hatur nuhun, Mang. Ilmunya," ucapku lirih.


Mang Dudung tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak lagi lengkap. "Sami-sami, Kang. Tong stres teuing. Jalani we santai."


Kalimat pendek itu telak mengenai dadaku. Aku berjalan pulang menuju kontrakan dengan langkah kaki yang tidak lagi seberat tadi. Rasa sesak di dadaku perlahan mengurai, mirip seperti adonan aci yang mulai menyesuaikan diri dengan suhu minyak di dalam wajan. Hidup mungkin masih akan terasa sangat panas besok pagi, dan layar ponselku mungkin masih akan sepi. Tapi malam ini, aku belajar satu hal mahal dari sudut pertigaan stasiun: aku tidak perlu buru-buru. Aku hanya perlu memperkuat kulit luar mental, mengatur volume api ego di dada, dan membiarkan waktu mematangkanku perlahan.


Tanpa perlu meledak.


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke: