Wanita Simpanan Milik Bodyguard Polos

Bab 1 dari 2

Bab 2
100%

Bab 1: Bodyguard Mesum

Suara digital pengunci pintu apartemen berbunyi bip nyaring, disusul notifikasi pesan singkat di layar ponsel Maharani.


“Buka pintunya. Aku di depan.”


Satu baris pesan dari Toni itu seketika meluruhkan ketegangan yang menumpuk di pundak Maharani. Gadis itu menghela napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berpacu liar. Momen kepulangannya dari mal baru saja berubah menjadi adegan kejar-kejaran implisit yang mencekam. Langkah kaki misterius di lorong parkir, sorot mata asing yang mengintip dari balik kaca mobil bertinta gelap, hingga derap sepatu yang membuntutinya sampai ke depan lift, semua itu membakar adrenalinnya.


Ini bukan cermin paranoia semata. Selama seminggu terakhir, ancaman itu nyata. Seseorang sedang berburu keberadaannya. Dan Maharani tidak perlu menjadi detektif untuk menebak siapa dalangnya: Rani, istri sah Toni. Wanita itu jelas tidak menyukai fakta bahwa suaminya menyimpan wanita simpanan berparas jelita di apartemen mewah tengah kota. Teror ini adalah pesan terbuka dari Rani, menggunakan tangan-tangan bayaran berdarah dingin.


Maharani melompat turun dari ranjangnya. Tanpa alas kaki, ia berlari kecil menuju pintu utama, memutar kunci manual, dan menggeser daun pintu lebar-lebar.


"Sayang!" panggil Maharani setengah menjerit.


Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung menghambur, menubrukan tubuhnya ke dada Toni. Ia memeluk pria berkemeja rapi itu dengan erat, mentransfer sisa getaran ketakutan yang masih menjalar di ujung-ujung jarinya.


"Kau tidak apa-apa, kan, Rani?" tanya Toni cepat. Suaranya dipenuhi nada protektif yang dipaksakan.


"Aku tidak apa-apa. Tapi aku takut sekali. Orang itu makin berani mendekat," bisik Maharani, makin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Toni.


"Tenang. Tak perlu takut lagi. Ada aku di sini," balas Toni seraya menepuk-nepuk punggungnya.


"Iya, Sayang..."


Di tengah rengkuhan itu, sudut mata Maharani menangkap sebuah presensi asing. Seorang pria muda berdiri tegap di sudut remang koridor, tepat di belakang Toni. Posturnya menjulang bagai dinding beton, dengan bahu lebar, dada tegap, dan potongan rambut militer yang sangat rapi. Rahangnya mengeras kukuh, memancarkan aura bahaya yang dingin dan terlatih.


Maharani mengurai pelukannya, menyipitkan mata dengan pandangan menilai. "Dia siapa, Sayang?"


"Ayo masuk dulu. Aku akan memperkenalkan kalian di dalam," ujar Toni mengibaskan tangan, memberi isyarat agar mereka memindahkan percakapan ke area privat.


Ketiganya melangkah masuk ke ruang tamu apartemen yang bernuansa modern minimalis. Pria asing itu melangkah tanpa suara, berjalan dengan ritme konstan yang memperlihatkan kontrol tubuh tingkat tinggi.


"Mulai hari ini, dia adalah bodyguard pribadimu," Toni membuka suara sembari menunjuk pria di sampingnya. "Namanya Semesta. Dia mantan personel pasukan khusus angkatan militer dengan rekam jejak tempur yang bersih, bahkan sempat ditarik menjadi pengawal VIP di lingkungan Paspampres. Dia sangat berpengalaman dalam taktik proteksi jarak dekat. Kau akan aman 100 persen bersamanya."


"Bodyguard?" Mata Maharani membelalak lebar. Kaget sekaligus terheran-heran.


"Iya. Dia akan mengawasimu 24 jam."


"Tidak! Tidak! Sama sekali tidak!" potong Maharani cepat, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gaya menantang. "Aku tidak mau dipantau bodyguard!"


"Kenapa lagi, Rani?" Toni menghembuskan napas frustrasi.


"Aku tidak suka ada orang luar di dalam ruang pribadiku! Aku tidak mau hidupku, urusanku, sampai jam tidurku diatur-atur oleh laki-laki asing yang mukanya sekaku tembok begitu!" seru Maharani liar, menunjuk langsung ke arah wajah Semesta.


Toni mendekat, merangkul bahu ramping wanita muda itu dengan lembut. "Ayolah, ini demi keselamatanmu sendiri."


"Tetap tidak mau! Aku bisa jaga diri!"


"Jaga diri bagaimana? Nyawamu sedang diincar, Rani! Ini bukan permainan. Rani istriku, bisa saja mengirim eksekutor yang lebih nekat esok hari. Kau butuh perisai hidup!" nada suara Toni meninggi, menyuntikkan gravitasi kenyataan ke dalam perdebatan mereka.


"Aku tahu aku dalam bahaya, tapi membawa pengawal militer ke dalam apartemenku itu sangat berlebihan! Kamu bercanda?"


Toni menangkup kedua pipi Maharani, menatap lurus ke dalam manik matanya. "Aku tidak sedang bercanda. Ini demi wanita yang paling kucintai. Tolong, sekali ini saja, turuti permintaanku."


Maharani melipat bibirnya, menyipitkan mata ke arah Semesta yang masih berdiri dalam posisi istirahat di tempat. Pria itu benar-benar tidak bergerak, tidak pula mengedipkan mata secara abnormal.


"Lihat Semesta," lanjut Toni membujuk. "Dia tipe profesional yang tidak banyak bicara. Dia efisien, taktis, dan terlatih untuk tidak mencampuri urusan pribadimu. Tugasnya hanya memastikan napasmu tetap berhembus."


"Justru itu yang bikin aku risih!" tembak Maharani tanpa ragu. "Coba kamu lihat mukanya. Datar, dingin, tidak ada ekspresi sama sekali. Dia lebih mirip mayat hidup daripada manusia!"


Diisengi dan dihina tepat di depan wajahnya, Semesta sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Otot wajahnya terkunci rapat. Tidak ada kedutan di rahang, tidak ada perubahan ritme napas. Ia berdiri laksana patung perunggu.


Toni terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Sikap dingin dan tanpa emosi itu justru standar operasi mereka. Semakin sedikit emosi, semakin cepat respons tempurnya."


"Terserah," dengus Maharani, memutar bola matanya.


"Jadi bagaimana? Kau mau menerimanya?" panggil Toni menuntut kepastian.


Gadis berjiwa liar itu mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. Otaknya yang cerdik dan hiperaktif mulai berputar. Opsi menolak sepertinya sudah tertutup rapat, tapi menerima bulat-bulat jelas bukan gayanya.


"Oke," ujar Maharani akhirnya, mengungkit dagunya tinggi-tinggi. "Dia boleh tinggal. Tapi begitu dia bikin kesalahan sekecil apa pun, atau berani berulah sedikit saja, aku sendiri yang bakal tendang dia keluar dari sini!"


***


Malam makin larut, tetapi atmosfer di dalam kamar utama apartemen terasa sangat abnormal.


Maharani, yang baru saja hendak menyusup ke bawah selimut dengan piyama tipisnya, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Di sudut ruangan, tepat dua langkah dari pinggir tempat tidurnya, Semesta berdiri tegap dalam kegelapan yang samar.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ?!" bentak Maharani, menegakkan duduknya.


"Saya menjalankan protokol pengamanan, Nona," jawab Semesta datar. Suaranya bernada bariton yang berat dan tenang.


"Pengamanan apa? Aku ini mau tidur! Ngapain kamu melotot di situ?"


"Tugas proteksi mencakup fase rentan Target, termasuk saat Target sedang tertidur pulas."


Maharani langsung menyibak selimut, melompat turun dari ranjang, dan mendekati Semesta hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Gadis itu mengikis jarak secara agresif, mendongak menantang sang prajurit.


"Heh, Muka Tembok! Kalau kamu berdiri di samping ranjangku semalaman, justru kamu yang jadi ancaman paling berbahaya buat aku!" cerocos Maharani tanpa tendeng aling-aling. "Siapa yang bisa jamin kamu tidak punya niat mesum? Bisa saja begitu aku tertidur nyenyak, kamu lepas kendali, tergiur lihat tubuhku, terus bertindak macam-macam! Dan dengan postur monster begini, mana mungkin aku bisa melawan?!"


Tuduhan itu sangat liar dan tanpa dasar, namun Semesta tidak menunjukkan gangguan sedikit pun. Matanya tetap menatap lurus ke depan, melewati kepala Maharani.


Gadis itu mendengus gusar. Ia berjalan cepat menuju pintu kamar, memutarnya, lalu membukanya lebar-lebar. "Keluar sekarang! Aku mau tidur!"


Semesta tidak bergeming. Posisi kakinya terkunci di lantai.


"Aku bilang KELUAR!" jerit Maharani dengan nada melengking yang sanggup memecahkan kesunyian apartemen.


"Mohon maaf, Nona. Perintah operasional dari Tuan Toni adalah melakukan pengawasan melekat 24/7 di dalam area yang sama dengan Target."


"Oh, jadi kamu berani membangkang perintahku?!" Maharani melangkah mendekat lagi, menatap tajam manik mata pria itu, berusaha mencari celah emosi di sana. Namun yang ia temukan hanyalah kedalaman yang dingin dan hampa.


Semesta membisu.


"Sialan!" umpat Maharani kasar.


Ia tahu ia berada di pihak yang kalah jika beradu ketahanan mental dengan seorang veteran tempur. Kedisiplinan pria ini terpatri di tingkat seluler. Menyadari hal itu, otak cerdik Maharani langsung beralih ke rencana sekunder.


"Oke! Kamu boleh menetap di kamar ini," kata Maharani sembari naik kembali ke ranjangnya. "Tapi tolong, jangan berdiri tepat di samping ranjanhku! Kehadiranmu merusak pemandangan!"

?Semesta mengevaluasi permintaan itu sejenak, lalu melangkah mundur tiga langkah secara simetris, menciptakan jarak terukur dari ranjang.


"Apakah jarak ini cukup, Nona?" tanya Semesta.


"Mundur lagi!"


Semesta mengambil beberapa langkah mundur lagi sampai bagian belakang lututnya menyentuh pinggiran sofa panjang di dekat dinding luar.


"Duduk di sofa itu!" perintah Maharani lagi.


"Saya lebih sigap dalam posisi berdiri, Nona."


"Kamu tidak punya rasa capek, ya? Berdiri berjam-jam seperti tiang listrik!"


"Ini bagian dari latihan endurance dasar."


"Duduk saja kenapa, sih? Atau jangan-jangan... kamu punya ambeien makanya tidak bisa duduk?" celetuk Maharani santai, menunjukkan senyum mengejek yang provokatif.


Semesta tidak langsung merespons tuduhan konyol itu. Namun, demi menghentikan debat kusir yang merusak efisiensi taktis, ia akhirnya menurunkan posisi tubuhnya dan duduk tegap di atas sofa.


"Baik, Nona. Saya duduk."


Maharani tersenyum puas. Rasa kemenangannya meletup-letup. Paling tidak, ia berhasil memaksa 'binatang buas' tak beremosi ini mengikuti salah satu maunya.


Ia menarik selimut hingga sebatas dada, memiringkan tubuhnya, dan mencoba memejamkan mata. Namun, baru dua menit berlalu, rasa tidak nyaman kembali merayap. Meski Semesta duduk di sofa, pandangan mata pria itu tetap tertuju lurus ke arah ranjang tanpa jeda, seolah sensor matanya tidak membutuhkan pelumasan air mata.


"Kamu tidak punya niat untuk tidur?" tanya Maharani gatal, kembali membuka matanya.


"Tidak, Nona."


"Kenapa?"


"Pengawal yang tertidur adalah pengawal yang siap mati bersama targetnya."


"Cih! Bahasa mu tinggi sekali," cibir Maharani. "Kamu benar-benar tidak mengantuk sama sekali?"


"Tidak, Nona."


"Dasar aneh... Kamu ini manusia apa ikan, sih?"


Satu alis Semesta terangkat sangat tipis. "Ikan?"


"Iya! Mata melotot terus tidak pernah kedip dari tadi!" cerocos Maharani gemas.


Untuk pertama kalinya, sudut bibir Semesta kedutan ke atas. Sebuah dorongan reflek yang langsung ia tekan kembali dalam hitungan milidetik. Tapi Maharani sempat menangkap kilatan ekspresi tersebut.


"Udah, deh! Tidur saja! Pejamkan matamu! Aku risih ditatap terus seperti objek eksperimen!"


"Tidak bisa, Nona. Itu melanggar standar pengamanan."


"Grrrr! Muka tembok ini benar-benar bikin darah tinggi!" Maharani yang kehabisan kesabaran langsung menyambar ponselnya di atas nakas. Ia mengoperasikan layar sentuh dengan kasar dan menempelkan ponsel ke telinganya.


"Sayang! Suruh manusia batu ini keluar dari kamarku sekarang juga!" semprot Maharani begitu sambungan telepon di seberang sana terhubung.


"Maksudmu Semesta?" suara Toni terdengar tenang.


"Siapa lagi! Dia tidak mau keluar dari kamar, tidak mau tidur, dan terus menatapku tanpa berkedip seperti ikan pesut! Aku bisa gila kalau begini terus!"


Terdengar tawa kecil Toni di seberang telepon. "Rani, dengarkan aku. Semesta itu prajurit terbaik. Semua yang dia lakukan adalah prosedur standar untuk memastikan tidak ada penyusup yang bisa menyentuhmu. Kau hanya perlu terbiasa."


"Jadi kamu lebih membela dia daripada aku?!"


"Bukan begitu, Rani, tapi__”


Bip.


Maharani mematikan sambungan secara sepihak. Mukanya merah padam karena kesal. Ponselnya ia lempar asal ke atas kasur. Ia menoleh lagi ke arah Semesta yang masih duduk dalam posisi sempurna di sofa.


"Kamu pasti senang, kan? Tertawa di dalam hati karena suamiku lebih membela kamu!" tuduh Maharani sengit.


"Tidak, Nona."


"Bohong!"


"Saya bertindak atas dasar profesionalisme, bukan favoritisme."


"Halah! Merem gih!" bentak Maharani lagi.


"Tidak bisa, Nona."


"Argh!" Maharani mengerang frustrasi. Otaknya yang jahil kembali berputar cepat. Jika pria ini mengagungkan konsep kehebatan dan profesionalisme, maka ia tahu cara memprovokasinya.


"Berarti kamu bukan bodyguard hebat," cetus Maharani dengan nada meremehkan. "Katanya veteran pasukan khusus. Katanya mantan Paspampres. Tapi masa harus mengandalkan mata terbuka cuma buat menjaga satu wanita di dalam ruangan tertutup?"


Gadis itu menyibak selimut, berjalan cepat ke arah lemari pakaian, dan menarik keluar selembar kain syal hitam panjang dari sutra. Ia melangkah anggun namun penuh niat licik mendekati Semesta.


"Nih, pakai!" Maharani menyodorkan kain itu tepat di depan hidung Semesta.


Semesta memandang kain sutra itu, lalu menatap wajah Maharani yang dipenuhi seringai penuh kemenangan. "Apa maksudnya ini, Nona?"


"Kalau kamu tidak mau tidur, tutup matamu pakai kain ini!" seru Maharani. "Tunjukkan padaku seberapa hebat kamu. Kalau kamu benar-benar pengawal kelas dunia, kamu pasti bisa mendeteksi bahaya dan melindungiku bahkan dengan mata tertutup rapat. Ya, kan? Kalau kamu berhasil, baru aku percaya dan mempertaruhkan nyawaku di tanganmu."


Semesta membisu. Pertimbangan taktis dan rasa harga diri sebagai mantan prajurit elit bertarung singkat di dalam kepalanya. Menutup mata jelas mengurangi visibilitas visual, namun dalam ruang tertutup selebar 5x6 meter dengan satu pintu masuk, pendengarannya yang terlatih sudah lebih dari cukup untuk mendeteksi pergerakan udara atau engsel pintu yang bergeser.


"Baik. Saya terima tantangan Anda, Nona," ujar Semesta tenang.


Ia mengambil kain sutra hitam tersebut dari tangan Maharani. Dengan gerakan terampil dan cekatan, Semesta melilitkan kain tebal itu mengelilingi kepalanya, menutup penuh kedua matanya, lalu mengikatnya kuat-kuat di bagian belakang.


Maharani menahan napas, lalu tertawa tanpa suara sampai matanya menyipit. Kemenangan mutlak! Pengawal militer bermuka datar yang tangguh ini ternyata sangat lugu dan mudah dimanipulasi oleh trik sederhana. Gadis itu melangkah jingkat kembali ke tempat tidurnya dengan hati puas luar biasa.


***


Tit... Tit... Tit...


Suara alarm berfrekuensi tinggi dari ponsel Maharani berdering nyaring tepat pukul 08.00 pagi.


Gadis itu menggeliat malas, merenggangkan otot-otot tubuhnya di atas kasur empuk. Perlahan-lahan, ia membuka matanya yang masih berat karena kantuk. Pandangannya yang kabur perlahan fokus pada sebuah bayangan hitam besar yang berdiri tepat di samping ranjangnya.


"AAAAAARRRRGGGHHH!"


Maharani menjerit histeris, menyerapkan diri ke sudut kepala ranjang sambil menarik selimut hingga menutupi lehernya.


"Ada ancaman?! Di mana targetnya?!" suara Semesta memotong udara pagi dengan nada tegas dan penuh kewaspadaan. Kain penutup mata hitamnya sudah menghilang.


Maharani memegangi dadanya yang berdetak kencang, napasnya memburu. Baru setelah kesadarannya kumpul penuh, ia teringat bahwa sosok berbahaya di sampingnya adalah Semesta, pengawal pribadinya sendiri.


"Huuuh..." Maharani bernapas lega, mengusap dahinya yang berbilur keringat dingin.


Namun Semesta tidak memperhatikan kelegaannya. Dalam hitungan fraksi detik, pria itu sudah bergerak cepat ke arah jendela kaca. Tangan kanannya menyapu cepat ke balik jas, memegang Glock 17 berwarna hitam doff, lalu mengarahkannya ke sudut-sudut strategis kamar dengan presisi mematikan.


"Kamu mau ngapain?!" teriak Maharani, matanya melotot melihat senjata api sungguhan berada di tangan pria itu.


"Menetralkan area. Saya akan melindungi Nona dari ancaman," jawab Semesta dengan posisi menembak yang sempurna, siap menarik pelatuk kapan saja.


"Ancaman dari Mbahmu! Yang bikin aku teriak ketakutan dari tadi itu KAMU, bukan orang lain!"


Semesta membeku di tempat. Senjatanya perlahan turun. Ia menoleh sedikit. "Saya?"


"Iya! Kamu! Bangun-bangun ada bayangan hitam berdiri melotot di samping kasur, siapa yang tidak kena serangan jantung!" cerocos Maharani berapi-api.


Mendengar penjelasan konyol itu, ketegangan otot di wajah Semesta perlahan mengendur. Bibirnya yang biasanya terkunci rapat, tanpa sadar tertarik tipis ke samping, membentuk sebuah senyuman kecil yang sangat samar.


"Kamu senyum?" panggil Maharani, menunjuk wajah pria itu.


Semesta dengan cepat menurunkan senjatanya, mengamankannya kembali ke holster tersembunyi di balik pinggangnya, lalu menegakkan posisi tubuh. "Tidak, Nona. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."


"Kenapa harus minta maaf? Nah begitu, dong! Tersenyum itu bagus!" seru Maharani liar sembari menyibak selimut dan berdiri di atas ranjang. "Daripada mukamu datar melulu kayak patung semen. Sayang tahu tidak, muka ganteng dan gagah begini tapi kelakuan kaku banget!"


Semesta memilih untuk mengabaikan pujian bernada provokatif tersebut. "Nona mau ke mana?" tanya Semesta saat melihat Maharani melompat turun dari kasur dan berjalan menuju sudut kamar.


"Mau mandi! Kenapa? Kamu mau ikut mandi juga?" ketus Maharani, melemparkan pandangan jahil.


Bukannya menjawab, Semesta justru melangkah lebar melintasi ruangan, mendahului langkah Maharani, dan menyusup masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu.


"Eh! Eh! Mau ngapain kamu?!" jerit Maharani terkejut.


Semesta memeriksa balik tirai shower, memeriksa ventilasi atas, mengecek celah bawah wastafel, serta memastikan tidak ada bahan peledak atau kamera tersembunyi. "Saya harus melakukan penyisiran sterilisasi area basah terlebih dahulu demi memastikan keselamatan Nona."


Maharani menepuk jidatnya sendiri, mendesah pasrah dengan tingkah kelewat profesional bodyguard barunya. "Terserah kamu, deh. Terserah!"


"Area dinyatakan steril. Silakan masuk, Nona," ujar Semesta beberapa saat kemudian, berdiri di samping pintu kamar mandi.


Gadis berambut panjang itu melangkah masuk ke dalam area kamar mandi berlantai marmer tersebut. Namun tepat saat ia hendak menutup pintu, Semesta ikut melangkah masuk dan berdiri tegap di dekat pintu shower.


Maharani menghentikan tangannya di gagang pintu. "Kamu ngapain ikut masuk ke dalam ruangan sempit ini?!"


"Saya akan tetap berjaga di dalam untuk mengantisipasi potensi bahaya mendadak."


"Kamu gila, ya?! Kamu mau menonton aku mandi tanpa busana?!"


"Saya akan memejamkan mata dan berbalik arah menghadap dinding," sahut Semesta sangat polos dan tanpa dosa.


"Dasar bodyguard edan!"


Sabar Maharani akhirnya pecah. Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, gadis berjiwa liar itu mendorong tubuh kekar Semesta keluar dari pintu kamar mandi. Pria itu, yang tidak berniat menyakiti majikannya, membiarkan dirinya terdorong mundur hingga pintu kamar mandi dibanting keras tepat di depan hidungnya.


BLEK! Kunci pintu diputar dari dalam.


Hampir satu jam berlalu. Suara siraman air dari dalam kamar mandi akhirnya berhenti.


Maharani mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut. Karena sudah terbiasa tinggal sendirian di apartemen mewah ini tanpa pernah ada gangguan, pikiran hiperaktifnya terkadang lupa pada detail-detail kecil. Setelah mengeringkan badan, ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan santai, berniat mengambil pakaian santainya di lemari pakaian utama.


Ia melangkah melenggang tanpa sehelai kain pun yang melekat di tubuh mulusnya yang masih basah oleh sisa-sisa titik air.


Namun, begitu kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, pandangannya langsung bertabrakan dengan Semesta yang sedang berdiri tegap di tengah ruangan, siap menjalankan tugas pengawalannya.


Mata Semesta yang tajam membeku seketika. Selama sepersekian detik, pandangan mata prajurit terlatih itu menangkap lekuk tubuh polos majikannya secara utuh tanpa filter.


Dua detik hening yang mematikan.


"AAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"


Jeritan Maharani melengking hebat, memecahkan kesunyian apartemen dengan frekuensi yang sanggup meretakkan kaca jendela. Suara teriakan itu sepuluh kali lebih dahsyat dari jeritannya saat bangun tidur tadi pagi.


Gadis itu dengan cepat menarik kain gorden terdekat untuk menutupi tubuhnya, wajahnya merah padam antara malu, murka, dan campur adur. Sementara itu, Semesta, prajurit elit yang tak pernah panik di medan tempur, seketika membalikkan badannya secara ekstrem menghadap dinding, dengan posisi tubuh kaku sempurna dan telinga yang perlahan memerah hebat.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 2)
Komentar ( 2)
Rayn Moorids · 29 Aug 2026 20:15

Bagus

Hiro Sayank · 30 Aug 2026 07:53

Mkasih ya

Daftar Bab