Tuselak

Bab 2 dari 36

Bab 1 Bab 3
100%
Memeriksa iklan...

Bab 2: Dari Mereka yang Dikucilkan

Dulu, Bapak pernah bercerita tentang Bu Hamidah dari Kayu Manis. Ternyata kehidupan yang selama ini dijalaninya tak jauh berbeda dengan kami di Kayu Jati. Kata Bapak, Bu Hamidah selalu dikucilkan. Masyarakat Kayu Manis demikian tak jauh berbeda perilakunya dengan warga kampungku sendiri. Bahkan bisa dikatakan masyarakat Kayu Manis jauh lebih ekstrem dalam mengucilkan orang yang memilih tak seragam atau sama dengan kebanyakan orang lain.

Bu Hamidah menjadi salah satu korban penyalahgunaan ilmu hitam oleh seorang belian di kampungnya. Berawal dari sebuah kehilangan yang hati dan akalnya tak dapat menerima, ia pergi mencari dukun-dukun sakti di Kayu Manis. Hingga sampailah ia pada satu dukun bernama Amat Beduk. Warga kampung menyegani Amat Beduk, menobatkannya sebagai dukun paling mujarab dalam menyembuhkan segala macam penyakit yang datang dari alam gaib.

Permintaan Bu Hamidah pada Amat Beduk hanya satu, yaitu bagaimana caranya bisa berkomunikasi dengan almarhum suaminya yang telah meninggal. Keadaannya saat itu, suami Bu Hamidah baru meninggalkan dunia sekitar tiga bulan. Sejak hari kematian sang suami, Bu Hamidah tak pernah berhenti menangis. Dia sampai dicap gila oleh warga dan para tetangga. Namun, bagi Bu Hamidah, kehilangan suaminya adalah luka paling gila dan sakit daripada mendengar para tetangga mencerocos tentang mentalnya. Bu Hamidah sendiri tak memiliki keturunan sama sekali.

Walau permintaannya terdengar agak sinting dan kurang masuk akal, tetapi Bu Hamidah berkeras dan meyakini tak ada yang mustahil di dunia ini. Dia percaya orang hidup masih terhubung melalui batin sehingga pasti ada cara menghubungi suaminya yang telah berbeda alam dengannya. Amat Beduk yang telah mendengarkan keluh kesah Bu Hamidah dan permintaan sintingnya, langsung memberi solusi yang terdengar begitu baik dan patut dicoba.

Bapakku bilang, Bu Hamidah diberikan mantra-mantra, diminta mandi dengan bunga tujuh rupa, diminta mencari persimpangan sungai, kemudian tidur di samping kuburan suaminya tujuh hari tujuh malam. Tak ada keraguan bagi Bu Hamidah dalam melakukan semua syarat yang dijelaskan Amat Beduk. Dia melakukannya dengan baik dan penuh antusias.

Jangan tanya padaku bagaimana bacaan mantra itu sebab aku pun tidak terlalu peduli pada hal demikian. Aku hanya serius dan fokus pada cerita kelam Bu Hamidah. Dia telah lama menjadi langganan bapakku. Bu Hamidah pun bukan orang yang congkak lagi galak. Dia murah senyum, dan tentu saja baik hatinya. Buktinya, pernah beberapa kali aku diberi uang pada saat Bu Hamidah berkunjung ke rumah mengambil jagung-jagung pesanannya.

Memang, tak hanya satu yang bernama Bu Hamidah yang menjadi pelanggan sang bapak. Namun, yang menjadi langganan tetap hanya Bu Hamidah dari Kayu Manis seorang. Karena Bu Hamidah sering memberiku uang, bapakku memercayakan cerita hidupnya padaku. Ia langsung bercerita pada malamnya setelah uang yang diberi Bu Hamidah habis kupakai membeli permen dan jajanan.

Singkat cerita, setelah Bu Hamidah selesai melakukan semua yang disyaratkan Amat Beduk, dia benar-benar bisa berbicara dengan suaminya yang telah meninggal itu.

“Memangnya bisa orang mati berkomunikasi dengan orang yang masih hidup, Pak?” tanyaku pada saat cerita belum selesai dipaparkan. Bapakku tampak menghela napas sambil tersenyum merekah.

“Dengar dulu kelanjutan ceritanya. Kan, ceritanya belum selesai,” ucap Bapak yang kemudian membuatku menyengir.

Ternyata sosok yang berkomunikasi dengan Bu Hamidah bukanlah sang suami. Katanya, Bu Hamidah tahu betul bagaimana suaminya saat mengobrol dengannya. Dan dia langsung sadar saat sosok itu tidak seperti yang ia kenal. Awalnya Bu Hamidah ragu, apakah orang mati bisa berubah, terutama sifat, sikap, dan cara bicaranya. Tentu saja, dia tak punya semacam jawaban yang bisa dipercaya begitu saja. Akan tetapi, Bu Hamidah memilih tidak percaya pada sosok tersebut. Begitu sialnya Bu Hamidah, ia tak bisa melepaskan diri dari sosok yang mirip suaminya itu.

Hingga pada akhirnya, Bu Hamidah terserang semacam virus yang menggerogoti tubuhnya. Aku tak tahu dari mana datangnya virus itu. Sebab bapakku pun tak pernah menjelaskannya secara lebih rinci. Yang jelas, virus itu kemudian bersarang di dalam tubuh Bu Hamidah, lalu mengubah bentuk tubuhnya menjadi sangat menyeramkan. Bu Hamidah kepanasan, lalu menanggalkan semua pakaiannya hingga bugil.

Bu Hamidah berlari ke hutan dan menuju sungai.

“Hingga pada saat itu, Bu Hamidah merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia kelaparan, tapi semua makanan tak bisa masuk ke dalam perutnya. Apa pun makanan yang menurut kita enak sebagai manusia, justru sebaliknya bagi beliau. Bu Hamidah terpontang-panting di hutan dan dia menemukan kotoran binatang.

“Betapa anehnya, kotoran yang beliau temukan ternyata jauh lebih enak daripada makanan yang setiap hari kita konsumsi,” jelas bapakku. Tiba di bagian itu, rasanya aneh melihat bapakku yang jauh lebih serius dari sebelumnya. Aku sadar betul karena melihat dahinya mengerut dan napasnya terdengar agak berat.

“Tapi, kan, Bu Hamidah orangnya baik, Pak. Kalau datang ke sini selalu mengucap salam. Dan Bu Hamidah pun mengenakan kerudung,” dalihku, mencoba memberi pendapat. Sebab aku merasa betul-betul yakin bahwa pikiranku tak pernah bisa menerima logika semacam orang baik seperti Bu Hamidah memakan kotoran.

Pendapatku itu langsung mendapat balasan dari sang bapak. Dia bilang, Bu Hamidah memang perempuan yang tak pernah meninggalkan salat. Dia selalu pergi ke musala saat waktunya tiba.

Walau demikian, kebingungan yang pernah terjadi dalam pikiranku tersebut akhirnya kembali aku ingat setelah melihat Bu Hamidah dalam sosok menyeramkannya. Mana kala dokar (delman atau bendi) yang aku tumpangi berhenti, lampu petromaks yang menerangi jalannya kuda tiba-tiba saja mati tanpa sebab yang jelas. Pak Sukar menjerit sambil berucap istigfar. Buru-buru dia memeriksa lampu petromaks yang mati, mengecek bahan bakarnya, mengecek beberapa bagiannya, tetapi tak ada yang aneh. Bagaimana bisa lampu petromaks itu mati, sedangkan angin yang bertiup di ruas-ruas jalan ini pun hanya berdesir pelan? Lagi pula, lampu petromaks mana yang bilamana angin berembus, ia langsung mati? Sungguh aneh dan mustahil.

“Kalau begini caranya, kita harus lebih berhati-hati, Dik,” kata Pak Sukar setelah tidak menemukan solusi apa pun untuk menghidupkan lampu petromaks itu. “Dik. Pindah saja ke depan. Saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika Dik Wati duduk di belakang.”

Tak lama aku berpikir atas solusi yang ditawarkan Pak Sukar. Aku berpindah posisi dari belakang ke depan, tepat di sebelah Pak Sukar selaku kusir.

Memang aneh jika dinalar secara akal sehat. Meskipun lampu petromaks itu mati, seharusnya masih bisa dihidupkan kembali. Sayang, usaha itu gagal total sehingga hanya menyisakan kebingungan di benak kami.

Pak Sukar kembali memerintahkan kuda cokelatnya melanjutkan perjalanan. Aku menggenggam erat-erat uang receh dan uang kertas yang beberapa waktu lalu aku terima dari Bu Hamidah atas bayaran jagungnya sebanyak satu tas keresek besar.

Hanya kehenginan mencekam yang membalut suasana di sekitar kami. Suara kodok dan jangkrik yang bernyanyi tak sedikit pun bisa menghibur hati kami yang tengah ketakutan. Suara derit roda delman yang beradu gesek dengan tanah ikut semarak memeriahkan kekonyolan kami atas ketakutan yang meredam seluruh suasana. Betapa beruntungnya, Pak Sukar memulai percakapan saat aku sendiri terlalu fokus dengan degup jantungku.

“Saya sendiri sering mendengar kalau di jalan ini memang angker, Dik Wati. Beberapa teman kusir saya sering bercerita menemukan makhluk-makhluk yang bentuknya aneh.”

“Aduh, Pak Sukar jangan cerita yang seram-seram. Saya jadi makin takut,” kataku. Aku mengerti Pak Sukar tak sengaja menceritakan hal-hal demikian. Mungkin karena ia sudah kehabisan topik untuk dibicarakan. Atau bisa jadi karena terbawa suasana yang sudah terlampau mencekam.

“Oh, benar juga. Maaf, Dik Wati. Kalau begitu, kita fokus saja pada jalannya. Semoga kita selamat sampai rumah.”

Hanya beberapa menit semenjak Pak Sukar berhenti menuturkan cerita-cerita seram kepadaku, bola mataku yang sudah sejak lama ingin tercongkel sendiri ini menyaksikan sebentuk badan. Sesosok makhluk yang aku tak tahu pasti jenisnya. Aku gemetaran dalam kekalutan yang dalam. Hingga makin dekat delman pada sosok itu, aku menyaksikan rambut panjang kusam tergerainya. Mataku yang telah beradaptasi dengan gelap, demikian jelas melihat sebadan manusia, atau mungkin juga bukan manusia, berdiri tepat di depan delman yang kontan saja Pak Sukar hentikan jalannya. Kusaksikan dengan rasa takut yang makin menjalar dalam benak, air liur kental merabas keluar dari mulut sosok tersebut. Biar kuberitahu, sosok itu baru saja kutemui beberapa waktu lalu, tetapi dengan wajah yang lebih rupawan dan bercahaya.

Kali ini, aku melihatnya dalam rupa yang berbeda belaka. Bu Hamidah. Tepat seperti yang pernah bapakku ceritakan. Perempuan soleha yang kata bapakku ramah dan baik kepada siapa pun, menjelma sebagai bentuk yang manusia mana pun nyaris tak kenali.

“Bu Hamidah ….” Dadaku makin meronta dalam gelap dan rasa takut yang begitu subur. Aku heran setengah mati dibuatnya. Mata sosok itu tak ada bagian putihnya, tertutupi hitamnya selayak warna bola mata Bu Hamidah dalam bentuk manusia. Kulihat kuku-kuku panjangnya begitu runcing sehingga tak akan terlalu sulit jika hanya untuk mencincang daging binatang ataupun manusia.

 

-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab