Bab 1 dari 4
Hujan turun deras malam itu.
Air membasahi kaca jendela rumah besar yang selama lima tahun terakhir disebut Elsa sebagai rumah.
Di ruang tengah, jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit.
Elsa duduk sendirian di sofa.
Di tangannya ada secangkir teh yang sejak tadi tidak disentuh.
Matanya terus menatap layar ponsel.
Satu pesan yang baru saja masuk membuat seluruh tubuhnya membeku.
Aku melihat Adrian bersama perempuan lain. Mereka di Hotel Aruna. Kamar 1708.
Pesan itu berasal dari nomor tak dikenal.
Elsa mengernyit.
Awalnya ia ingin mengabaikannya.
Adrian memang sering pulang larut akhir-akhir ini. Alasannya selalu sama ada rapat, klien, pekerjaan yang menumpuk.
Elsa berusaha percaya.
Sebab bukankah seorang istri harus percaya kepada suaminya?
Namun malam itu, ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah.
Ia membuka galeri ponsel.
Di sana terdapat foto pernikahannya dengan Adrian.
Lima tahun lalu.
Adrian tersenyum sambil memegang tangannya.
"Aku akan menjagamu seumur hidup."
Kalimat itu tiba-tiba terasa seperti kebohongan paling pahit yang pernah ia dengar.
Elsa berdiri.
Ia mengambil jaket dan kunci mobil.
Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, Elsa memutuskan mengikuti suaminya.
Hotel Aruna hanya berjarak dua puluh menit dari rumah.
Hujan membuat perjalanan terasa lebih panjang.
Ketika Elsa tiba, ia memarkir mobil agak jauh dari pintu utama.
Jantungnya berdebar ketika melihat sebuah mobil hitam yang sangat dikenalnya.
Mobil Adrian.
Elsa turun.
Tangannya dingin.
Ia berjalan masuk ke lobi dengan langkah perlahan.
"Permisi."
Seorang petugas hotel menghampirinya.
"Selamat malam, Bu."
Elsa tersenyum tipis.
"Maaf, saya ingin bertemu seseorang."
"Namanya siapa, Bu?"
Elsa hampir menjawab.
Namun ia mengurungkan niat.
"Ah... tidak apa-apa."
Ia berbalik.
Tetapi sebelum pergi, matanya menangkap layar monitor kecil di meja resepsionis.
Kamar 1708.
Elsa menelan ludah.
Ia naik ke lantai tujuh menggunakan lift.
Setiap detik terasa seperti hukuman.
Ketika pintu lift terbuka, lorong hotel begitu sunyi.
Elsa berjalan menuju kamar 1708.
Dari balik pintu terdengar suara tawa.
Suara perempuan.
Kemudian suara laki-laki yang sangat ia kenal.
"Adrian..."
Langkah Elsa berhenti.
Dunia seakan mendadak kehilangan suara.
Ia mendekat.
Pintu kamar tidak tertutup rapat.
Dan dari celah kecil itu, Elsa melihat sesuatu yang membuat dadanya seperti dihantam benda keras.
Adrian.
Suaminya.
Sedang memeluk seorang perempuan.
Perempuan itu membelakangi Elsa.
Tetapi ketika perempuan tersebut menoleh sedikit, wajahnya terlihat jelas.
Elsa mengenalnya.
Vania.
Sahabat yang selama ini paling ia percaya.
Perempuan yang selalu datang ke rumahnya.
Perempuan yang bahkan pernah menangis di depan Elsa ketika bercerita tentang kisah cintanya yang kandas.
Ternyata selama ini...
Vania adalah perempuan yang berada di sisi suaminya.
"Kenapa kamu masih bersama Elsa?" tanya Vania.
Adrian terdiam.
Kemudian terdengar jawabannya.
"Karena semuanya belum selesai."
Elsa menahan napas.
"Perceraikan dia."
"Aku akan melakukannya."
"Kapan?"
Adrian menarik napas panjang.
"Setelah semuanya aman."
Elsa menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Air mata jatuh tanpa suara.
Selama ini ia pikir dirinya adalah seorang istri.
Ternyata di mata suaminya, ia hanya sebuah penghalang.
Elsa mundur perlahan.
Ia tidak ingin mereka tahu bahwa ia telah melihat semuanya.
Ia berjalan menuju lift.
Tangannya gemetar ketika menekan tombol.
Begitu pintu lift tertutup, air matanya pecah.
Namun ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada perselingkuhan.
Sesuatu yang baru saja ia dengar.
"Setelah semuanya aman."
Apa maksud Adrian?
Malam semakin larut ketika Elsa kembali ke rumah.
Ia tidak menyalakan lampu.
Ia duduk dalam kegelapan.
Pikirannya berputar.
Ia membuka laptop dan mulai memeriksa rekening bersama, dokumen perusahaan, serta beberapa transaksi yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan.
Ada sesuatu yang aneh.
Beberapa bulan terakhir, Adrian diam-diam memindahkan sejumlah besar uang dari rekening perusahaan.
Bukan sedikit.
Jumlahnya mencapai miliaran rupiah.
Elsa mulai mengerti.
Perselingkuhan itu mungkin bukan satu-satunya rahasia.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Adrian.
Elsa menatap nama itu cukup lama sebelum menjawab.
"Halo?"
"Sayang, kamu belum tidur?"
Suara Adrian terdengar tenang.
Seolah beberapa jam lalu ia tidak sedang berada di kamar hotel bersama perempuan lain.
Elsa menahan tangis.
"Belum."
"Aku mungkin pulang agak malam."
Elsa memejamkan mata.
"Adrian."
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku tidak ada..."
Ia berhenti.
Adrian tertawa kecil.
"Kenapa bicara begitu?"
"Jawab saja."
Hening beberapa detik.
Kemudian Adrian berkata,
"Aku akan sangat kehilanganmu."
Elsa tersenyum pahit.
Air matanya kembali jatuh.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Kalau begitu... jangan pernah menyakitiku."
Hening.
Kali ini cukup lama.
"Aku tidak akan pernah menyakitimu."
Panggilan berakhir.
Elsa menatap layar ponselnya.
Ada rasa dingin menjalar di seluruh tubuh.
Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Orang yang paling mudah membunuh kepercayaan kita adalah orang yang paling kita cintai.
Pukul dua dini hari.
Elsa akhirnya tertidur.
Namun ia terbangun ketika mendengar suara pintu depan terbuka.
Adrian pulang.
Elsa tetap memejamkan mata.
Langkah kaki suaminya terdengar mendekat.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Adrian berdiri di ambang pintu.
Ia menatap Elsa yang sedang tidur.
Kemudian matanya beralih pada meja di samping tempat tidur.
Sebuah map cokelat tergeletak di sana.
Adrian mengambilnya.
Wajahnya berubah.
Di dalam map itu terdapat salinan transaksi perusahaan.
Bukti pemindahan uang.
Dan satu lembar dokumen perceraian yang sudah ditandatangani Elsa.
Adrian menggertakkan rahang.
"Jadi kamu sudah tahu..."
Elsa sebenarnya belum tidur.
Namun ia tidak bergerak.
Adrian memasukkan dokumen itu ke dalam sakunya.
Kemudian ia keluar dari kamar.
Beberapa menit kemudian, Elsa membuka mata.
Air mata mengalir di pipinya.
Ia tahu.
Adrian telah melihat semuanya.
Dan sekarang, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.
Keesokan paginya, Adrian bersikap seperti biasa.
Ia bahkan mencium kening Elsa sebelum berangkat kerja.
"Jaga diri."
Elsa tersenyum.
"Kamu juga."
Mobil Adrian menghilang di ujung jalan.
Elsa berdiri di depan rumah sambil menggenggam ponselnya.
Ia hendak menelepon pengacara.
Namun sebuah pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Jangan percaya suamimu.
Elsa membalas:
Siapa kamu?
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Seseorang yang tahu apa yang akan terjadi malam ini.
Jantung Elsa berdegup keras.
Pesan berikutnya masuk.
Kalau ingin hidup, jangan pergi ke mana pun bersama Adrian malam ini.
Elsa terdiam.
Namun sebelum ia sempat membalas, Adrian menelepon.
"Sayang."
"Ya?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam nanti."
Elsa menatap layar ponsel.
Untuk beberapa detik, ia merasa sedang melihat wajah seorang asing.
"Di mana?"
"Restoran di luar kota."
"Kenapa jauh sekali?"
Adrian tertawa.
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu."
Elsa memejamkan mata.
Pesan anonim itu kembali terlintas di pikirannya.
Kalau ingin hidup... jangan pergi ke mana pun bersama Adrian malam ini.
Ia hampir menolak.
Namun kemudian Adrian berkata,
"Aku ingin membicarakan masa depan kita."
Elsa terdiam.
"Baik."
"Jam tujuh aku jemput."
Panggilan berakhir.
Elsa menatap langit yang mulai mendung.
Ada firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan.
Ia tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir ketika dunia mengenal dirinya sebagai Elsa.
Karena beberapa jam kemudian...
sebuah mobil akan ditemukan hancur di dasar jurang.
Dan semua orang akan percaya bahwa Elsa telah meninggal.
Termasuk suaminya sendiri.
Hanya saja...
mereka tidak tahu bahwa kematian Elsa hanyalah awal dari pembalasannya.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya