Omnipotent Amidst the Apocalypse

Bab 2 dari 11

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Monster Laba-laba

Wujud di hadapan Noah dan Sarah bukan lagi sekadar manusia yang kehilangan akal. Di balik kabut senja yang kian pekat, makhluk itu berdiri dengan anatomi yang mengerikan. Kepala dan rahangnya masih berukuran manusia, dengan sisa-sisa rambut yang rontok parah. Namun, dari balik kulit punggungnya yang menebal dan bersisik seperti reptil, mencuat beberapa pasang kaki panjang yang runcing dan berbulu kaku—persis seperti kaki laba-laba raksasa.


?Sarah membekap mulutnya sendiri. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan. Di antara distorsi genetik yang menjijikkan itu, ia masih mengenali fitur wajah kekasihnya.


?"Ro... wan..." bisik Sarah, suaranya hancur.


?Makhluk itu—Rowan—merangkak limbang-limbung. Paha kirinya mengucurkan cairan pekat; luka parah yang ia dapat tiga hari lalu saat melindungi Sarah dari ayah wanita itu yang mendadak mengamuk. Kelemahan fisiknya membuat makhluk itu meraba-raba meja di sekitarnya. Detik itu, Noah melihat sebuah kacamata tergeletak di dekat Rowan.


?Monster ini butuh kacamatanya. Insting Noah berteriak.


?Tanpa membuang waktu, Noah mengayunkan pipa besi di tangannya, menghantam kacamata itu hingga hancur berkeping-keping.


?PRAAAK!


?Raungan memekikkan telinga seketika meledak dari mulut Rowan. Suaranya begitu melengking, menghantam gendang telinga hingga Noah dan Sarah terpaksa berlutut sambil menutup telinga rapat-rapat. Rowan mengamuk, mencakar udara dengan membabi buta.


?Noah menyadari sesuatu dari gerakan liar itu: makhluk ini memiliki penglihatan yang sangat buruk. Ia hanya mengandalkan pendengaran yang luar biasa sensitif.


?Noah segera meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menatap Sarah dengan tatapan penuh penekanan. Jangan ada suara. Sarah yang gemetar hebat hanya bisa mengangguk pasrah.


?Dengan gerakan pelan, Noah mengulurkan tangan, meraih jemari Sarah yang genetar. Mereka mulai melangkah mundur, sejengkal demi sejengkal, menghindari puing-puing kertas dan kabel di lantai ruang rapat. Genggaman tangan Sarah terasa bergetar hebat. Di ruang sesempit ini, detak jantung mereka sendiri terdengar seperti bom waktu.Namun, keberuntungan tidak bertahan lama.


?KRIET.


?Sol sepatu Sarah tidak sengaja menginjak pecahan kaca kecil. Bunyinya teramat pelit, namun bagi Rowan, itu seperti alarm.


?Gerakan monster itu langsung terhenti. Kepala laba-labanya berputar patah-patah ke arah mereka. Noah dan Sarah membeku, menahan napas hingga dada mereka terasa sesak. Ketakutan melingkupi atmosfer ruangan. Rowan meraba lantai, hingga cakarnya menemukan bingkai kacamata yang telah hancur.


?Dengan sisa kecerdasan manusianya yang mengerikan, Rowan memasang bingkai kacamata rusak itu ke wajahnya. Meski lensanya retak seribu, celah kecil di sudut kaca sepertinya berhasil memfokuskan penglihatannya.


?Mata besar monster itu berkedip, menangkap siluet Sarah. Selama beberapa detik, kemarahan Rowan meredup, digantikan oleh tatapan sendu yang amat menyakitkan. Mulutnya bergerak-gerak, seolah ingin mengeja nama wanita yang dicintainya.


?Namun, momen kemanusiaan itu sirna seketika saat pandangan Rowan bergeser ke samping Sarah. Ia melihat Noah. Seorang pria asing yang memegang tangan wanitanya. 


?SREEEAAACCHH!


?Cemburu dan nafsu membunuh bercampur menjadi satu. Mengandalkan kaki-kaki runcing di punggungnya untuk menopang paha yang terluka, Rowan melompat keluar dari reruntuhan lemari.


?"Lari!" teriak Noah, melepaskan penyamaran mereka.


?Mereka berhamburan keluar ke lorong kantor. Lorong yang sempit menjadi keuntungan tersendiri karena kaki-kaki laba-laba Rowan yang panjang terus membentur dinding dan pintu, sedikit menghambat kecepatannya. Namun, makhluk itu tetaplah predator yang cepat.


Noah berlari memimpin di depan, jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia berbelok tajam di tikungan lorong, lalu memosisikan diri di balik pilar beton yang tebal untuk menyergap. Ia bersiap menarik Sarah masuk ke tempat persembunyian.

?Namun, saat ia menoleh, Sarah tidak ada di sana.


?"Sial!" umpat Noah dalam hati. 


Lorong labirin ini telah memisahkan mereka. 


?Di ujung lorong yang berbeda, Sarah berlari dengan sisa-sisa tenaganya. Suara kaki runcing Rowan di belakangnya terdengar kian mendekat. Tidak ada pilihan lain, Sarah menerobos masuk ke sebuah ruangan direksi di ujung koridor dan langsung membanting pintunya rapat-rapat.


?Ruangan itu buntu. Hanya ada jajaran meja kerja yang berantakan dan sebuah balkon yang menghadap ke luar gedung.


?BRAK! BRAK! 


Pintunya mulai dihantam dari luar.

?Dengan panik, Sarah menyapu pandangan. Tidak ada senjata. Merasa terdesak, ia merenggut sebuah papan nama meja berbahan kayu ek yang tebal dan berat. Hanya itu tamengnya.


?Pintu kayu ruangan itu jebol. Rowan merangkak masuk, memenuhi langit-langit ruangan dengan kaki-kaki runcingnya. Sarah mundur teratur hingga punggungnya membentur pagar pembatas balkon. 


?"R-rowan... kumohon... ini aku," bisik Sarah, air matanya menetes di atas papan kayu.


?Monster di hadapannya mendesis. Kacamata rusaknya miring di hidung. Sisi manusianya telah kalah total. Satu kaki runcing di punggung Rowan terangkat tinggi, mengarah tepat ke dada Sarah seperti tombak yang siap menghujam.


Sarah memejamkan mata, bersiap menghadapi kematian. Jika ia melompat ke belakang, jatuh dari lantai empat pun akan membunuhnya.


?WUSH! JLEB!


?"GAARRRGGHH!"


?Sebuah anak panah meluncur deras dari arah samping, menancap tepat di luka lama pada paha kiri Rowan. Monster itu melolong kesakitan. Karena keseimbangannya goyah, ia urung menyerang Sarah, memilih berbalik dan merangkak cepat keluar ruangan untuk menyelamatkan diri dari ancaman baru.


?Sarah terduduk lemas di lantai balkon, napasnya tersengal-sengal.


?"Kamu tidak apa-apa?" sebuah suara berat terdengar dari balkon sebelah, yang hanya berjarak dua meter.


?Seorang pria berdiri di sana, memegang sebuah crossbow yang masih berasap. "Aku bisa saja membidik kepalanya tadi, tapi aku mendengar kamu memanggil namanya. Kurasa... dia orang yang penting bagimu."


?Sarah mendongak, matanya yang basah menatap pria asing itu penuh rasa terima kasih. "Terima kasih... terima kasih banyak...."


"William. Aku tahu ini bukan waktu terbaik untuk berkenalan, tapi kita harus bergerak," ucap pria itu sembari menyampirkan senjatanya. "Tunggu di sana, aku akan ke ruanganmu."


?Di sisi lain lantai empat, Noah bergerak. Di tangannya kini terdapat senjata baru: pipa besi yang ujungnya telah ia ikat erat dengan pisau dapur runcing yang ia temukan di pantri kantor.


?"Sarah!" panggil Noah dengan setengah berbisik, melompati beberapa tubuh manusia yang masih tidak sadarkan diri di lantai—menanti saat untuk berubah.


?Langkah Noah terhenti saat melihat dua orang keluar dari salah satu ruangan. Salah satunya adalah Sarah, dan di sampingnya ada seorang pria asing berjaket taktis.


?"Sarah!" Noah berlari mendekat.


?Namun, alih-alih lega, Sarah menatap Noah dengan kilatan amarah dan kekecewaan. "Kamu meninggalkanku! Untung ada William... kalau tidak, aku sudah mati di tangan Rowan!"


?Noah mengernyitkan dahi. "Aku tidak meninggalkanmu. Aku bersiap menyergapnya di tikungan, kupikir kamu ada di belakangku."


?Sarah memalingkan wajah, terlalu lelah dan syok untuk berdebat.


?William menengahi, menatap Noah dengan selidik sebelum menurunkan ketegangannya. "Sudahlah. Setidaknya aku senang mengetahui aku bukan satu-satunya manusia waras yang tersisa di gedung ini."


?"Kamu... siapa? Dan bagaimana kamu bisa tetap sadar?" tanya Noah waspada, memperhatikan atribut William yang tampak seperti penyintas berpengalaman.


?"Namaku William. Dan soal kenapa aku sadar? Aku juga tidak tahu. Yang kutahu pasti, kita harus segera keluar dari lantai ini. Sudah banyak monster yang kubunuh, dan di ruangan-ruangan lain gedung ini... masih ada banyak lagi yang bersarang," jawab William tenang, namun kata-katanya menyuntikkan kengerian baru.


?"Banyak?" Noah terenyak. Jadi, Rowan bukan satu-satunya?


William tersenyum kecut, melihat ekspresi bingung Noah. "Jangan-jangan kalian baru masuk ke gedung ini? Monster laba-laba tadi itu belum ada apa-apanya. Dan sebentar lagi matahari akan hilang."


?William berbalik, memberi kode agar mereka mengikuti langkahnya. "Ayo cepat ke tempat persembunyianku. Sebentar lagi seluruh gedung ini menjadi neraka."


?BERSAMBUNG. 


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab