AISENODNI

Bab 1 dari 42

Bab 2
100%
Memeriksa iklan...

Bab 1: Negeri Tanpa Keluh

Elian Arka baru menyadari betapa sunyinya sebuah kota ketika ia menginjakkan kaki di negara lain untuk pertama kalinya pada usia dua puluh tujuh tahun. Bukan sunyi karena jalan-jalannya lengang atau gedung-gedungnya kosong, tapi sunyi yang lahir dari wajah-wajah manusia yang saling menghindari pandangan. Orang-orang berjalan tergesa dengan kepala tertunduk menatap layar kecil di genggaman, sesekali menoleh dengan curiga ketika seseorang melintas terlalu dekat, seolah setiap langkah adalah kemungkinan buruk yang harus diwaspadai. Pengalaman itu hanya berlangsung tiga hari sebelum ia kembali ke tanah kelahirannya, tetapi tiga hari sudah cukup membuatnya mengerti bahwa rasa aman ternyata bukanlah sesuatu yang dimiliki semua bangsa.

Ketika pesawat yang membawanya menembus lapisan awan dan daratan, Aisenodni mulai tampak dari balik jendela, dadanya dipenuhi perasaan yang selalu sulit ia jelaskan. Kota-kota di bawah sana berdiri rapi seperti barisan kalimat yang ditulis oleh tangan seorang penyair yang tak pernah mengenal salah ketik. Jalan-jalan membelah permukiman dengan keteraturan yang nyaris mustahil ditemukan di tempat lain. Hamparan pepohonan tumbuh berdampingan dengan gedung-gedung kaca yang menjulang tanpa saling menelan langit. Sungai-sungai mengalir bening di antara taman-taman kota, sementara kereta magnetik meluncur senyap di atas jalur layang yang memantulkan cahaya matahari sore seperti seutas benang perak.

"Akhirnya pulang juga."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Elian, lebih seperti bisikan kepada dirinya sendiri daripada ungkapan yang ditujukan kepada siapa pun. Perempuan tua yang duduk di sebelahnya mendengar kalimat itu, lalu tersenyum hangat.

"Tidak ada tempat yang lebih menenangkan daripada rumah, bukan?"

Elian mengangguk pelan. "Ya, benar."

Pesawat mendarat dengan lembut. Tak terdengar tepuk tangan para penumpang sebagaimana kebiasaan di beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Semua orang turun dengan tertib, saling memberi jalan tanpa perlu diminta. Seorang anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan boneka kainnya bahkan belum sempat menyadari kehilangan itu ketika seorang pria berjas sudah memungutnya, berjongkok, lalu menyerahkan boneka tersebut dengan senyum yang begitu tulus sehingga anak itu membalasnya dengan pelukan singkat di kaki pria asing tersebut. Sang ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih, sementara pria itu hanya menggeleng pelan, seolah kebaikan sekecil itu tidak pantas menerima penghargaan sebesar apa pun. Pemandangan semacam itu terlalu biasa bagi warga Aisenodni. Namun setiap kali Elian kembali dari luar negeri, ia selalu melihatnya seperti seseorang yang baru pertama kali lahir ke dunia.

Bandara Internasional Aisenodni tidak dipenuhi petugas bersenjata. Yang berdiri di beberapa titik hanyalah petugas pelayanan dengan seragam abu-abu muda dan lencana bergambar pohon ek yang tumbuh dari sebuah lingkaran. Mereka lebih sering menunjukkan arah kepada wisatawan daripada memeriksa barang bawaan. Pemeriksaan keamanan tetap ada, tentu saja, tetapi berlangsung cepat, nyaris tanpa ketegangan. Tidak ada wajah tegang yang takut dianggap mencurigakan. Tidak ada bentakan. Tidak ada suara keras yang memerintahkan orang untuk bergerak lebih cepat.

Elian pernah bertanya kepada seorang rekannya dari luar negeri, mengapa setiap pemeriksaan di negara mereka terasa seperti memasuki wilayah perang. Rekannya hanya tertawa pahit.

"Karena kami tidak pernah benar-benar tahu siapa yang akan menusuk kami dari belakang."

Kalimat itu masih diingat Elian hingga sekarang, tetapi ia tidak pernah benar-benar memahami maknanya. Baginya, dunia memang punya sisi jahatnya. Ia membaca semuanya di buku sejarah negara-negara lain. Pembunuhan, pencurian, perang saudara, aksi teror, perdagangan manusia. Semua itu nyata. Semua itu pernah terjadi. Hanya saja, semua itu terasa begitu jauh. Sejauh kisah tentang naga atau kerajaan yang telah tenggelam berabad-abad silam.

Begitu keluar dari bandara, aroma tanah yang baru selesai diguyur hujan menyambutnya bersama embusan angin musim semi yang lembut. Pepohonan di sepanjang boulevard utama bergoyang perlahan, menggugurkan beberapa helai daun ke trotoar yang bahkan belum sempat terlihat kotor karena beberapa robot pembersih bergerak tenang menyapu setiap sudut jalan. Tidak terburu-buru, tidak pula lambat, seolah mereka memahami bahwa kebersihan bukan pekerjaan yang harus dikejar, melainkan kebiasaan yang dipelihara.

Elian memilih pulang menggunakan trem kota daripada kendaraan pribadi. Ia selalu menyukai perjalanan itu. Dari balik jendela kaca, kehidupan Aisenodni mengalir tanpa perlu dipamerkan. Seorang pemuda membantu lelaki tunanetra menyeberang jalan, lalu berlari kecil mengejar trem berikutnya tanpa sedikit pun terlihat kesal karena tertinggal. Dua perempuan yang baru selesai berolahraga berhenti untuk memungut sampah kecil yang tertiup angin, kemudian kembali mengobrol sambil tertawa. Seorang pengantar barang meninggalkan beberapa paket di depan rumah-rumah tanpa perlu meminta tanda tangan atau memastikan pemilik rumah ada di tempat. Tidak ada yang mengambilnya karena memang tidak ada yang ingin mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.

Elian tersenyum tipis. Entah sudah berapa kali ia mendengar wisatawan asing menyebut semua ini sebagai kemustahilan. Mereka selalu mengira masyarakat Aisenodni bersikap baik karena diawasi oleh teknologi yang terlalu canggih. Padahal, bagi Elian, kebaikan tidak pernah lahir dari rasa takut. Ia lahir dari keyakinan bahwa orang lain adalah sesama manusia yang sama berharganya dengan diri sendiri.

Trem meluncur membelah pusat kota dengan keheningan yang nyaris puitis. Rel-rel magnetiknya tidak mengeluarkan bunyi berderak sebagaimana kereta-kereta tua yang pernah Elian lihat di negeri lain. Yang terdengar hanya desau angin ketika badan trem melewati lorong pepohonan, lalu suara pengumuman yang lembut, nyaris terdengar layaknya seseorang yang sedang membacakan puisi daripada memberi tahu nama pemberhentian berikutnya. Di dalam kabin, orang-orang duduk berdampingan tanpa sekat-sekat kecemasan. Seorang lelaki berjas meminjamkan pengisi daya telepon kepada mahasiswa yang belum dikenalnya. Di sudut lain, seorang balita tertawa riang memainkan bayangan tangannya di jendela, sementara perempuan yang duduk di seberangnya ikut membuat bentuk-bentuk burung dengan jemarinya. Tak ada yang merasa terganggu oleh kebahagiaan kecil itu.

Sesaat Elian teringat percakapannya dengan seorang dosen sosiologi dari luar negeri beberapa bulan lalu.

"Apa rahasia bangsa kalian?" tanya lelaki itu setelah seminar internasional berakhir.

"Rahasia?"

"Ya. Tidak ada negara yang benar-benar bebas dari konflik. Selalu ada kelompok yang merasa tertindas, selalu ada orang yang membenci pemerintah, selalu ada jurang antara yang kaya dan yang miskin. Tapi setiap laporan tentang Aisenodni selalu mengatakan hal yang sama. Seolah negara kalian hidup di luar hukum alam."

Elian hanya tertawa kecil waktu itu.

"Mungkin karena kami diajarkan untuk menjadi manusia yang baik sejak kecil."

Lelaki itu ikut tersenyum, tetapi senyumnya menyisakan keraguan.

"Kalau sesederhana itu, dunia pasti sudah damai sejak lama."

Percakapan itu berakhir tanpa jawaban. Hingga hari ini pun, Elian tidak pernah benar-benar merasa perlu mencarinya.

Trem berhenti di Stasiun Arven. Begitu pintu terbuka, para penumpang turun bergantian tanpa saling berdesakan. Seorang perempuan muda yang sedang terburu-buru justru mempersilakan seorang lansia keluar lebih dahulu. Lansia itu membungkukkan badan kecilnya sebagai ucapan terima kasih, lalu berjalan perlahan dengan tongkat kayu yang tampak lebih berfungsi sebagai teman berjalan daripada penyangga tubuh. Tak seorang pun mengeluh karena harus menunggu beberapa detik lebih lama. Bagi orang-orang Aisenodni, waktu bukan sesuatu yang layak dipertengkarkan.

Di luar stasiun, matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasannya memantul di dinding-dinding kaca gedung pemerintahan, membuat seluruh kawasan administratif tampak seperti diselimuti lapisan madu tipis. Anak-anak memenuhi taman kota dengan suara tawa yang saling bersahutan. Sebagian bermain layang-layang, sebagian lagi berlari mengejar gelembung sabun yang diterbangkan seorang pria tua berambut putih. Tak ada pagar tinggi yang memisahkan taman dengan jalan raya. Tak ada papan bertuliskan larangan berlebihan. Yang ada hanyalah ruang terbuka yang dipercaya akan dijaga oleh orang-orang yang menggunakannya. Kepercayaan, barangkali itulah fondasi yang sesungguhnya menopang negeri ini.

Elian berjalan santai menuju apartemennya yang hanya berjarak beberapa blok. Di sepanjang perjalanan, ia melewati deretan pertokoan yang pintunya masih terbuka lebar meski beberapa pemilik toko tampak sedang mengobrol di kedai kopi seberang jalan. Tidak ada jeruji besi. Tidak ada gembok berlapis. Etalase kaca memajang berbagai barang bernilai tinggi tanpa rasa khawatir.

Di sebuah persimpangan, seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun berhenti mendadak. Dari saku jaketnya terjatuh sebuah dompet kecil. Anak itu sama sekali tidak menyadarinya hingga seorang perempuan yang sedang bersepeda memanggilnya dari belakang.

"Hei, milikmu tertinggal."

Anak itu berbalik, mengambil dompetnya, lalu membungkuk berkali-kali dengan wajah merah karena malu.

"Terima kasih, Kak."

Perempuan itu mengangkat tangan sambil tertawa kecil, lalu kembali mengayuh sepedanya. Sesederhana itu. Tak ada rasa curiga bahwa perempuan tersebut mungkin akan membawa lari dompet itu. Tak ada pula rasa takut dari perempuan itu ketika memanggil anak asing di jalan. Segala sesuatu mengalir seperti air yang telah menemukan jalurnya sendiri sejak lama. Kadang-kadang Elian bertanya dalam hati, apakah manusia memang pada dasarnya baik, lalu dunia yang membuat mereka berubah. Ataukah dunia memang sejak awal keras, hanya saja Aisenodni berhasil menemukan cara untuk melunakkannya. Ia belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, kota ini selalu menjawabnya dengan cara yang sama. Melalui senyum orang-orang yang tidak dibuat-buat. Melalui jalanan yang tidak dipenuhi ketakutan. Melalui anak-anak yang bermain hingga senja tanpa diawasi kecemasan. Melalui para lansia yang berjalan seorang diri tanpa khawatir menjadi korban kejahatan. Melalui rumah-rumah yang jendelanya terbuka, seolah seluruh negeri telah bersepakat bahwa rasa saling percaya jauh lebih kokoh daripada tembok setinggi apa pun.

Setibanya di apartemen, Elian berhenti sejenak di balkon lantai dua belas. Dari sana, hampir seluruh wajah kota dapat dipandang dalam sekali sapuan mata. Lampu-lampu mulai menyala perlahan mengikuti redupnya matahari, menyambut malam dengan kelembutan yang sama seperti pagi menyambut cahaya.

Di kejauhan tampak kubah gedung parlemen berdiri berdampingan dengan taman rakyat yang tak pernah sepi. Gedung-gedung kementerian tidak dikelilingi pagar tinggi ataupun kendaraan taktis. Orang-orang masih lalu-lalang di sekitarnya sambil membawa anak, mengajak anjing peliharaan berjalan, atau sekadar duduk menikmati udara senja.

Elian mengembuskan napas panjang. Ada kalanya ia merasa bersalah setiap kali mendengar berita tentang negara-negara yang masih sibuk dengan perang, perebutan kekuasaan, atau kebencian yang diwariskan turun-temurun. Sebab ia lahir di tempat yang bahkan tidak pernah memberinya kesempatan untuk memahami rasa takut seperti apa yang mereka ceritakan. Mungkin itulah anugerah terbesar yang dimiliki seseorang. Bukan kekayaan, bukan jabatan, bukan pula umur yang panjang. Namun kesempatan menjalani hidup tanpa perlu membenci hari esok.

Elian tersenyum kecil sebelum menutup pintu balkon. Malam mulai turun, dan seperti malam-malam sebelumnya, ia tahu esok pagi kota ini akan kembali terbangun dengan wajah yang sama: tenang, tertib, dan damai, seolah dunia memang selalu diciptakan seperti itu. Dan memang demikianlah Aisenodni dikenal oleh seluruh dunia. Di Aisenodni, tidak ada seorang pun yang memiliki alasan untuk membenci negaranya.

-II-

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 3)
Komentar ( 1)
Rayn Moorids · 07 Aug 2026 03:12

Oke

Daftar Bab