Bab 1 dari 1
Seorang perempuan mengedarkannya pandangannya ke sekitar. Nampak penuh, dimana-mana terdapat orang yang memulai aktivitasnya di pagi hari ini.
Halte trem di kawasan Novoli nampak penuh. Zaluya, perempuan itu mengeratkan jaketnya. Dilahirkan di negara eropa tetap membuat dia kedinginan saat musim dingin melanda.
Apalagi Novoli, kawasan sebelah barat laut dari kota Firenze, atau nama yang lebih familiar adalah Florence.
Zaluya berjinjit, berusaha mencari seseorang. Ke mana temannya itu? Mereka berencana mencari pekerjaan saat ini.
"Ke mana dia? Kenapa lama sekali?" gerutunya.
Suara langkah kaki terdengar di mana-mana. Begitulah Italia, Firenze, Novoli di pagi hari. Tidak berisik, meskipun dingin namun terasa hangat.
Bau espresso menyengat, membuat dirinya meneguk ludahnya. "Halo, Zalu!" sapaan dengan bahasa Italia dari seseorang perempuan yang menghampirinya.
Zaluya mengangkat tangannya. "Halo, Giu," balasnya. Giulia salah satu temannya, yang berdarah eropa asli. Berbeda dengan dirinya yang sebenarnya berdarah Asia. Orang tuanya imigran dari negara kepulauan, Indonesia.
Giulia merangkul Zaluya. "Kau tidak kedinginan menunggu di sini?" tanyanya.
Zaluya mendelik. "Menurutmu saja, Giu," katanya.
Giulia tertawa dengan bibir tebalnya itu. Wajahnya yang putih menjadi kemerahan akibat menertawakan Zaluya. "Minum yang hangat dulu," ajaknya setelah selesai tertawa.
Zaluya hanya mengangguk. Mereka pergi ke salah satu bar pinggir jalan, hanya di sana mereka bisa meminum espresso dengan uang kecil yang mereka punya.
"Salve!" sapaan ramah terdengar kembali dari Giulia kepada penjual.
"Salve! Giu, apa yang kamu butuhkan sekarang? Kopi... atau aku?" Laki-laki yang berhidung mancung, dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi itu tersenyum dalam bar pinggir jalan kepada Giulia.
"Berisik Natteo, pagi-pagi sudah membuat onar," balas Giulia ketus.
Natteo tertawa. Matanya beralih kepada Zaluya yang sudah duduk di kursi bar pinggir jalan itu. "Yasudah, bagaimana kalau Zalu saja?" tanyanya.
"Natteo, lebih baik layani kami sekarang atau kamu akan kehilangan uangmu," jawab Zaluya.
Natteo kembali tertawa, dia mengangguk paham. "Seperti biasa gadis-gadis?" Memang bar milik Natteo sudah menjadi langganan Zaluya dan Giulia.
Harganya yang sangat murah, dan juga rasa yang tidak jauh berbeda dengan caffe besar membuat mereka dengan mantap menyarap setiap hari dengan jajanan bar Natteo.
"Ya, Natteo," jawab Giulia.
Natteo mulai bergerak membuat pesanan pelanggannya. Sementara itu, dua gadis yang berumur dua puluh dua tahun itu mengobrol ria.
"Setelah ini kita akan ke mana?" tanya Giulia.
Zaluya berpikir sesaat sebelum menjawabnya. "KIta ke kota saja, pencarian staff di sana pasti banyak."
"Sepertinya berkuliah seru, ya," kata Giulia sembari melihat orang-orang yang mungkin mahawasiswa berllu-lalang.
"Seru jika kita punya uang atau beasiswa," jawab Zaluya. Hidup di negara Eropa juga tidak mudah, biaya kuliah memang terjangkau jika dibandingkan negara lain. Namun, tetap saja mereka harus fokus mencari uang terlebih dahulu.
"Kalau begitu, kenapa tidak mencoba mendaftar beasiswa?" Natteo yang mendengarkan ikut membuka suaranya.Tangannya bergerak mengeluarkan beberapa cornetto dari oven. Di banyak negara, roti itu lebih dikenal sebagai croissant.
Roti menggembung yang baru saja Natteo keluarkan mengalihkan atensi kedua gadis itu. Cornetto berwarna keemasan itu tampak lezat. Uap hangat masih mengepul, membuatnya semakin menggoda untuk disantap bersama secangkir espresso di pagi musim dingin ini.
Zaluya dan Giulia saling berpandangan. Mereka mengangguk ketika mengetahui keinginan satu sama lain.
"Natteo, untuk tambahan hari ini kami juga ingin cornetto itu," kata Zaluya.
"Hari ini kalian tergoda oleh cornetto-ku, ternyata," jawabnya disambung tawa. Natteo memang begitu, sangat jahil.
Natteo menyimpan dua cangkir espresso di hadapan masing-masing kedua gadis itu. Disusul dua cornetto hangat yang disajikan di atas piring kecil.
Kedua gadis itu kesenangan. Mereka mengucapkan terima kasih lalu segera menyarapnya. Dengan keheningan dari mulut namun kebisingan dari trem yang melintas di jalanan Novoli ini.
Pandangan Zaluya juga berkeliling melihat beberapa orang yang bahkan meminum kopi sembari berdiri di depan meja bar lalu pergi tergesa-gesa setelah menghabiskan dan membayarnya.
"Kalian akan pergi ke mana?" tanya Natteo.
"Seperti biasa, mencari pekerjaan," jawab Giulia setelah menelan cornetto yang berada dalam mulutnya.
"Ke pusat kota? Bukankah di sini juga banyak lapangan kerja?" tanya Natteo. Novoli juga sangat padat, banyak hotel, restoran dan yang lainnya, jadi dia sedikit bingung karena kedua gadis itu memilih mencari di pusat kota.
"Ya memang benar, hanya saja kami ingin lingkungan yang berbeda, pusat kota juga indah," jawab Zaluya. Pusat kota Firenze memang lebih kental dengan kata antik.
Bergelar warisan dunia UNESCO, membuat kedua gadis yang sangat menyukai seni itu tertarik dengan pusat kota.
"Bekerja bersama ku saja." Natteo duduk di kursi dalam bar miliknya, berhadapan dengan kedua gadis itu.
Zaluya tertawa mendengarnya. "Boleh saja jika upahnya besar," jawabnya.
"Kenapa perempuan sangat berfokus kepada uang?" tanya Natteo.
Zaluya dan Giulia tertawa mendengar itu. "Kau membeli makanan tanpa uang memang bisa. Tapi setelah itu kau akan masuk sel penjara," jawab Giulia.
"Sudah lah. Ayo kita segera pergi, sebelum antrean trem makin panjang dan kita kehabisan waktu," sela Zaluya.
Cornetto dan espresso mereka sudah habis. Masing-masing membayarnya lalu pergi ke halte dan masuk ke dalam trem.
Selama perjalanan menuju pusat kota Firenze, perbukitan sesekali muncul di sela-sela bangunan, lalu menghilang lagi ketika trem memasuki kawasan yang lebih padat.
Pemandangan pagi di perjalanan selalu membuat Zaluya merasakan kenyamanan. Jika di negara Eropa sudah seindah ini dengan perbukitannya, bagaimana keindahan di negeri asal orang tuanya? Entahlah, matanya tidak pernah melihat secara langsung keindahan negara kepulauan itu.
"Kau sedang memikirkan apa?" tegur Giulia melihat Zaluya hanya diam dengan pandangan ke luar jendela.
"Aku penasaran dengan negara Indonesia. Orang tua berasal dari sana, namun mereka tidak ingin pulang," jawab Zaluya.
"Kenapa tidak kau sendiri ke sana?" Giulia mengeluarkan bukunya. Buku fiksi yang sangat dia gemari.
Zaluya tersenyum lebar. "Jika aku punya uang, maka aku tidak akan memikirkan negara itu, Giu."
"Lalu?"
Zaluya menghela napasnya, Giulia terkadang lambat dalam berpikirnya. "Lalu aku akan langsung terbang daripada memikirkannya saja," jawabnya.
Giulia tertawa begitu mengerti, seperkian detik dia membaca bukunya dengan fokus diperjalanan ini. Zaluya menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya mempunyai teman seperti ini. Namun apa daya, dia juga bersyukur berteman dengan Giulia.
Perjalanan yang tersisa disertai dengan keheningan di dalam trem ini. Orang-orang sibuk dengan aktivitasnya, membaca buku, merenung, mendengarkan musik melalui earphone.
Pusat kota selalu menyenangkan bagi Zaluya. Semua di dalamnya terasa sangat indah dan megah, membuat dia ingin menggambarnya akan kelak di masa tua dia tetap bisa melihat keindahan itu.
Namun tangannya seperti dikutuk agar menghasilkan gambar yang buruk rupa.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya
Izin baca
terima kasih sudah berkenan membacaa👋