Bab 1 dari 15
Aroma kayu cendana dan minyak pualam menyapu keheningan ruang kerja rektorat yang biasanya kaku. Siang itu, cahaya matahari yang menerobos dari balik tirai tinggi terasa tidak berdaya melunakkan atmosfer tegang yang sengaja diciptakan oleh kehadiran seorang pria di sudut ruangan.
Richard Vance berdiri menjulang membelakangi jendela. Jas abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Savile Row melekat sempurna pada bahunya yang lebar dan tegap. Posturnya memancarkan otoritas mutlak—jenis dominasi kaku dari seorang CEO muda sekaligus pangeran yang telah berkuasa selama berabad-abad. Hanya butuh waktu dua bulan bagi Richard untuk mempelajari dunia manusia, menahan diri dari godaan darah dan juga mendapat posisi yang sekarang ia tempati.
Di atas meja jati raksasa di depannya, tertumpuk dokumen beasiswa dan magang eksklusif ER Fashion, sebuah program kemitraan baru yang nilainya cukup untuk mendanai seluruh fakultas seni selama satu dekade. Namun, Richard tidak memedulikan angka-angka bernilai jutaan dolar itu. Fokus mata cokelat tegangnya sepenuhnya terkunci pada gadis yang baru saja melangkah melewati pintu kayu mahoni.
Isabella.
Bella berdiri membeku di dekat pintu, menggenggam tali tas bahunya erat-erat. Jantungnya berdegup secara aneh—sebuah ritme tidak beraturan yang terpacu bukan hanya karena rasa terkejut dipanggil ke ruangan rektor secara mendadak, melainkan karena sosok pria yang kini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya objek yang bernapas di dalam ruangan itu.
"Silakan masuk, Miss Isabella." Suara Richard memecah keheningan. Intonasinya halus, cair, namun memiliki kedalaman berat yang terasa menggetarkan hingga ke dasar dada Bella. "Rektor sedang ada urusan mendadak di luar. Beliau menyerahkan proses penandatanganan penyerahan beasiswa ini sepenuhnya kepadaku."
Bella menelan ludah. Kertas pengumuman magang yang ada di jemarinya terasa berat. "Tapi, Mr. Vance... saya bahkan belum sempat menghadiri sesi wawancara tahap akhir kemarin. Bagaimana mungkin nama saya—"
"Sembilan puluh delapan poin lima," potong Richard pelan. Langkah kakinya yang mantap dan tanpa suara merayap mendekati Bella. "Itu nilai portofolio desainmu. Kau tidak memerlukan wawancara konyol untuk membuktikan bakatmu pada orang-orang yang bahkan tidak memahami nilai dari sebuah karya seni sejati."
Richard berhenti tepat dua langkah di depan Bella. Tingginya yang mencolok memaksa Bella mendongak, menjebak pandangan matanya pada rahang tegas dan bibir tipis pria itu yang terukir menjadi senyuman tipis—senyuman yang terasa seperti jaring sutra yang memikat.
"Kemarilah," bisik Richard. Perintah itu terselubung dalam nada lembut yang tak terbantahkan. "Tandatangani berkas ini, dan posisi desainer magang utama di ER Fashion resmi menjadi milikmu."
Langkah kaki Bella terasa bagaikan bergerak di dalam air. Terhipnotis oleh magnetisme kuat yang memancar dari pria di depannya, ia melangkah mendekati meja jati. Kertas dokumen tebal berlis emas itu sudah terbentang di sana.
Bella mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk meraih pulpen berujung emas di atas meja. Namun, sebelum jemarinya sempat menekan mata pena ke atas kertas, sebuah kehangatan masif tiba-tiba mengurungnya dari belakang.
Richard telah bergeser. Pria itu berdiri rapat di belakang tubuh Bella.
Jarak di antara mereka terkikis habis hingga tidak tersisa sehelai benang pun. Gesekan kain jas mewah Richard yang kaku bersentuhan langsung dengan gaun bahan katun tipis yang dikenakan Bella. Kehangatan tubuh Richard yang luar biasa memancar meresap ke kulit punggung Bella, menciptakan kontras yang membakar.
Aroma cendana, kulit mahal, dan jejak hawa dingin yang samar memabukkan indra penciuman Bella. Saat Bella menahan napasnya, Richard merapatkan tubuhnya makin dalam. Tangan kanan pria itu yang lebar dan hangat terulur dari belakang, menangkup jemari Bella yang memegang pena secara menyeluruh.
"Genggam penamu dengan mantap, Isabella," desah Richard tepat di samping telinga Bella.
Hembusan napas hangat pria itu menerpa tengkuk dan garis rahang Bella yang terbuka, memicu sengatan erotis yang menyapu sepanjang tulang belakang gadis itu. Bulu kuduk Bella berdiri seketika. Tubuhnya gemetar hebat di dalam kurungan fisik pria tersebut.
Tangan Richard yang menangkup tangan Bella tidak hanya sekadar memandu gerakan penandatanganan, melainkan perlahan meremas jemari Bella. Kulit telapak tangan Richard yang tegap terasa begitu dominan, memaksakan kendali penuh atas setiap goresan tinta di atas kertas.
"Mr. Vance..." bisik Bella, suaranya nyaris tenggelam dalam desakan napasnya yang memburu. "Anda... Anda terlalu dekat."
Bukannya mundur, Richard justru memiringkan kepalanya. Bibir tebalnya kini melayang hanya sejarak milimeter dari kulit halus leher Bella. Richard menarik napas dalam-dalam, secara terbuka menghirup aroma manis dan hangat dari denyut nadi yang berdetak liar di leher gadis itu—denyut Darah Suci yang selama tiga ratus tahun menjadi impian terlarangnya.
"Apakah kedekatan ini mengganggumu, Birdie?" gumam Richard. Suaranya berubah menjadi ketegangan fisik yang begitu pekat dan provokatif. Jemari kirinya yang bebas merayap perlahan ke samping pinggul Bella, menekan pinggang ramping gadis itu agar menempel rapat pada lekuk tubuh tegapnya.
Bella merasakan kerasnya dada Richard yang menekan punggungnya, merasakan setiap hembusan napas berat yang membakar lehernya. Otaknya menyuruhnya untuk berbalik dan melangkah mundur, namun reaksi fisiknya justru sebaliknya—tubuhnya melemah, melebur dalam pesona tak tertahankan dari predator yang sedang memburu mangsanya.
"Jantungmu berdetak sangat cepat, Isabella," bisik Richard lagi, kini menggerakkan tangan Bella untuk menyelesaikan huruf terakhir dari namanya di atas dokumen. "Dan tanganmu... kau begitu gemetar di dalam genggamanku."
Bella memejamkan mata saat merasakan sapuan bibir Richard yang hampir menyentuh tengkuknya ketika pria itu berbicara.
"Saya... saya hanya gugup karena berkas ini."
Richard terkekeh pelan—sebuah tawa berat bertempo lambat yang menggetarkan dada tegapnya yang menempel di punggung Bella.
"Jangan gemetar, Isabella," ucap Richard dengan nada dewasa yang begitu cair dan provokatif, menyapu tepat di lipatan leher sensitif Bella. "Penaku tidak akan menggigitmu... kecuali kalau kau yang memintanya."
Kalimat itu mengirimkan gelombang panas berisiko tinggi yang merambat cepat ke area intim di dalam tubuh Bella. Napas Bella tertahan sepenuhnya. Penanda tanganan selesai, namun Richard tidak segera melepaskan keintiman fisik itu.
Pria itu membiarkan tangannya tetap melingkari tangan Bella selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dalam keheningan yang sarat akan gairah tersembunyi, Richard perlahan menggeser jemarinya dari tangan Bella, bergerak merayap naik menyusuri lengan mulus gadis itu, mengusap kain tipis gaunnya sebelum jari-jarinya yang tebal dan dingin membelai halus garis tulang punggung Bella dari atas hingga ke pinggang.
Sentuhan fisik yang terbuka dan penuh kepemilikan itu mengirimkan sengatan listrik gaib yang memicu desah halus dari bibir Bella. Seluruh persendian gadis itu terasa meloloskan daya tahan.
"Selamat," bisik Richard lembut, akhirnya mengambil satu langkah mundur namun matanya tetap mengunci pandangan Bella yang kini berbalik dengan napas memburu dan pipi merona merah padam. "Kau resmi menjadi bagian dari duniaku sekarang."
Richard mengangkat map dokumen berlis emas itu dan menyerahkannya. Ketika Bella meraih map tersebut dengan jari-jarinya yang masih lemas, Richard sengaja membiarkan buku-buku jarinya menggesak ibu jari Bella secara perlahan—sebuah godaan fisik terakhir yang membuat dadanya kempis oleh gejolak emosi yang tak tertampung.
Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun akibat luapan gairah dan kebingungan batin yang membakar, Bella memeluk map tersebut di dadanya dan berbalik. Ia melangkah tergesa-gesa keluar dari ruangan rektorat, membiarkan bunyi langkah kakinya menghilang di sepanjang koridor sepi.
Begitu pintu mahoni tebal itu tertutup rapat dan menyisakan keheningan mutlak, topeng ketenangan sang CEO mahal itu runtuh seketika.
Richard mengepalkan kedua tangannya. Pria itu bertumpu pada pinggiran meja jati raksasa. Dada tegapnya kembang-kempis menahan lapar fisik yang luar biasa—aroma manis leher Bella yang tadi dihirupnya dari jarak milimeter masih tertinggal menari-nari di ujung lidahnya, membakar dahaga abadi yang telah ditahannya selama tiga ratus tahun.
Aura kegelapan merembes keluar dari tubuhnya, memadamkan cahaya matahari di sudut ruangan. Di balik lensa kontak cokelat yang dikenakannya, iris mata Richard membara merah menyala seperti api darah yang haus akan pembalasan dan pemenuhan obsesi.
Krak!
Suara retakan kencang bergema di ruangan yang hening itu. Cengkeraman jemari Richard yang mengandung kekuatan supernatural meremas kayu jati murni tebal lima inci di tepi meja hingga hancur berkeping-keping, menumpahkan seluruh keputusasaan dan gairah predator yang kini siap memangsa tujuannya.
BERSAMBUNG ....
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya