SURJAN UNTUK LARA

Bab 1 dari 5

Bab 2
100%

Bab 1: PERTEMUAN YANG TAK DISENGAJA

Pagi itu, Yogyakarta masih diselimuti udara sejuk. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara suara gamelan modern terdengar lembut dari pengeras suara di lobi Hotel Pradana.

Hotel itu bukan sekadar tempat menginap. Bangunannya merupakan perpaduan kemewahan modern dengan arsitektur Jawa yang begitu kental. Tiang-tiang kayu jati berdiri kokoh, ukiran tradisional menghiasi dinding, dan aroma bunga melati bercampur dengan wangi kayu membuat siapa pun yang masuk seolah dibawa ke dunia yang berbeda.

Namun, pagi itu Lara tidak sempat menikmati semua keindahan tersebut.

Ia berlari tergesa-gesa melewati lorong hotel sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi.

Napasnya memburu.

Seragam kerjanya sedikit kusut. Rambutnya yang diikat sederhana beberapa helai terlepas dari ikatan.

"Semoga belum terlambat," gumamnya.

Ternyata harapannya sia-sia.

Begitu sampai di lobi, seorang pria berdiri dengan wajah penuh kemarahan. Ia adalah manajer hotel.

"Lara!"

Suara keras itu membuat langkah Lara terhenti.

"Iya, Pak."

"Ini hari pertama kamu bekerja, jangan bikin masalah!"

Lara menundukkan kepala.

"Maaf, Pak. Saya tadi terlambat karena dari rumah sakit. Ibu saya sedang dirawat."

"Alasan terus!"

Lara menggigit bibirnya. Ia ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ia membutuhkan pekerjaan itu.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Untuk ibunya.

Sejak ayahnya meninggal, hanya Lara yang menjadi tumpuan keluarga. Penghasilannya sebagai pegawai hotel memang tidak besar, tetapi baginya pekerjaan itu adalah satu-satunya harapan.

Lara menarik napas panjang dan kembali bekerja.

Saat itulah pintu utama hotel terbuka perlahan.

Entah mengapa, suasana lobi tiba-tiba berubah.

Beberapa pegawai yang sedang bekerja berhenti sejenak. Percakapan mereka terputus.

Seorang laki-laki memasuki lobi.

Langkahnya tenang.

Ia mengenakan Surjan hitam yang terlihat sederhana, tetapi begitu elegan. Pakaian tradisional Jawa itu justru membuat penampilannya semakin berwibawa.

Sepatu kulitnya mengilap.

Wajahnya tampan, tetapi tidak berlebihan. Tatapan matanya tajam, namun menyimpan keteduhan yang sulit dijelaskan.

"Mas Raka datang..."

Bisikan seorang pegawai terdengar.

Lara yang sedang membawa nampan menoleh.

Untuk beberapa detik, matanya terpaku pada laki-laki itu.

Raka.

Nama yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Namun, pagi itu takdir seolah sengaja mempertemukan mereka.

Lara berjalan tanpa benar-benar memperhatikan arah.

Danβ€”

**BRUK!**

Tubuhnya menabrak Raka.

Nampan di tangannya miring.

Kopi panas tumpah ke Surjan hitam yang dikenakan Raka.

Semua orang terdiam.

Wajah Lara langsung pucat.

"Astaga!"

Ia buru-buru meletakkan nampan.

"Maaf! Maaf, Mas! Saya benar-benar nggak sengaja!"

Lara panik.

Ia sudah membayangkan dirinya dipecat pada hari pertama kerja.

Namun Raka justru tidak marah.

Laki-laki itu menatap Lara beberapa saat.

"Kamu luka?"

Lara mengangkat wajah.

"Hah?"

Raka menunjuk tangannya.

"Tanganmu kena kopi panas."

Lara baru menyadari kulit tangannya memerah.

"Oh..."

Raka mengambil sapu tangan batik dari saku bajunya.

Tanpa banyak bicara, ia mengusap tangan Lara perlahan.

Lara terdiam.

Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah menghilang.

Tatapan mata mereka bertemu.

Lara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia segera menarik tangannya.

"Terima kasih, Mas."

Raka hanya tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, manajer datang dan menarik Lara ke samping.

"Kamu tahu siapa beliau?"

Lara menggeleng.

"Tamu hotel?"

Manajer menatapnya tak percaya.

"Itu Mas Raka Pradana."

Lara semakin bingung.

"Memangnya siapa, Pak?"

Seorang pegawai yang berdiri tidak jauh dari mereka berbisik,

"Dia pewaris Hotel Pradana."

Lara terdiam.

Pandangannya kembali tertuju kepada Raka.

Jadi laki-laki yang baru saja ia tabrak adalah pemilik tempat ia bekerja?

Wajah Lara semakin pucat.

Raka berjalan menuju pintu keluar.

Namun sebelum masuk ke mobil klasik hitam yang menunggunya, ia berhenti.

Ia menoleh ke arah Lara.

"Nama kamu siapa?"

Lara sedikit gugup.

"Lara..."

Raka tersenyum.

"Lara."

Ia mengulang nama itu perlahan.

"Nama yang indah."

Setelah itu Raka masuk ke mobil.

Mobil hitam itu bergerak meninggalkan halaman hotel.

Lara berdiri mematung.

Matanya mengikuti mobil tersebut sampai semakin jauh.

Di dalam hatinya muncul perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan.

Namun Lara belum tahu bahwa pertemuan singkat itu akan mengubah hidupnya.

Dan bahwa dunia Raka ternyata jauh lebih berbeda dari dunianya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 2)
Komentar ( 1)
Rayn Moorids · 29 Aug 2026 11:34

Izin lanjut baca

Daftar Bab