Tak Seperti Drama Korea

Bab 2 dari 3

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Putri Terbuang

Ibuku, tak banyak yang tahu tentangnya. Aku memanggilnya Mamah. Dia memiliki paras keibuan dengan hidung mancung dan bulu mata yang lentik, sangat cantik. Suaranya terdengar seperti alunan melodi klasik, merdu. Rambutnya yang sepunggung, hitam legam bak bulu gagak. Setiap wanita pasti akan iri saat memandang wajahnya yang jelita. Setiap lelaki pasti akan jatuh cinta melihat karakternya yang lembut. Namun, menurut pendapatku, ia lebih dari segalanya. 

Kami selalu bersama, tidur, makan, mandi pun bersama. Cerita menjelang tidur selalu menjadi Bahasa kasih yang tak pernah bisa dilupakan, suaranya yang lembut dengan sapuan jemari lentiknya di rambut selalu teringat dan membuatku tergeragap menangis kala rindu padanya. Rindu sehebat-hebatnya, rindu yang membunuh dan selalu menghadirkan luka. 

Aku merindukannya seperti bulan merindukan Bintang, mereka hadir di waktu yang sama tapi tidak ditakdirkan bersama. Setiap memikirkannya, aku pasti juga terkenang dengan Kak Rendra, dan adik kecil kami Sabia juga Papah, lelaki yang tak terlalu berani menunjukkan kasih sayang pada anak anaknya. Lelaki tegas yang selalu memerhatikan anaknya diam diam, dia peduli jika anaknya menangis tapi tak terlalu percaya dengan kekuatan pelukan. Tapi begitulah lelaki, kata Mamah. 

Tak seperti pohon, yang tidak tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Aku dan beberapa orang tahu betul siapa yang menjaga dan merawatku. Hanya saja sebelum pohon itu menjulang serupa payung raksasa, mereka telah menebangnya. 

“Apapun yang terjadi, Yumna adalah anak Mamah. Mamah akan selalu bersama Yumna,” kata Mamah dengan berlinang air mata. 

Kalimat itu dia sampaikan sebelum melepasku menuju panggung pentas seni di Saung Angklung Udjo di Bandung. “Menarilah yang hebat, buat kami bangga ya sayang,” katanya selanjutnya. 

Ada darah seni yang mengalir begitu hebat di tubuhku, sebuah bakat yang aku sendiri tak tahu berasal dari mana. Karena Papah seorang peneliti dan Mamah Dosen di Perguruan tinggi yang memiliki bidang yang sama dengan Papah, tentang Bumi dan Fisika, kak Rendra pun mencintai teropong dan semua yang berhubungan dengan benda alam, sementara aku tak menyukainya. Nilaiku sangat buruk untuk Pelajaran hafalan atau hitung-hitungan, tapi Mamah tak pernah marah. Sampai akhirnya dia mengenalkanku akan dunia seni, bagaimana cara bermain angklung dan menari. Dari sanalah aku mulai mengenal bakatku. 

Di usia enam sampai 10 tahun Aku diikutsertakan di Sanggar Mang Udjo. Aku belajar bagaimana cara memainkan angklung, gamelan, juga menari. Di setiap acara, Mamah, Papah, kak Rendra dan Sabia selalu hadir melihat pertunjukkanku. Jemari-jemari terasa begitu lentik saat aku menari, aku berjinjit lalu berlenggak ke kanan kiri, dengan senyum yang tak boleh mati selama pertunjukkan. Di pertunjukkan sebelumnya, Mamah selalu semringah, Papah pun ikut tersenyum dan bertepuk tangan dengan hebat begitu pula Kak Rendra yang meski selalu jail padaku. 

Tapi hari itu berbeda, Aku memandang Mamah, Papah, Kak Rendra dan Sabia dari kejauhan. Air mata Mamah jatuh satu per satu seperti buih embun, Papah menunduk seperti enggan melihatku, Kak Rendra setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Sementara Sabia menari ikutan gerakanku. 

“Gerakanmu salah Yumna,” bisik temanku. Kami menari Tari Topeng, aku memaksa senyum meski hati ikut tergores melihat air mata Mamah. Setelah kami mengenakan topeng, air mataku ikut tumpah, tak satu pun yang tahu aku menangis di balik Topeng Rahwana, jemariku berayun, kedua kakiku melompat tapi air mataku terus merembes. Aku tak tahu apa yang sedang Mamah tangisi, tapi aku bisa merasakannya dengan begitu hebat. 

Mamah tak pernah menunjukkan air matanya di depanku. Kedekatanku dengan Mamah melebihi kedekatanku dengan siapapun. Bahkan hanya aku satu-satunya yang Mamah minta untuk meneteskan obat ke telinganya yang sedang sakit. Hanya padaku lah Mamah meminta diantar ke Pasar atau tempat mana saja yang ingin dia kunjungi, bukan kepada Kak Rendra atau Papah. Nyaris tak pernah ada masalah apapun di Keluarga kami, hanya ada pertengkaran kecil antara adik dan kakak, perebutan mainan antara aku dan Kak Rendra dan banyak hal kejadian yang justru akan menjadi sebuah kenangan yang sulit untuk dilupakan. Aku, Sabia, Kak Rendra, Mamah dan Papah, kami baik-baik saja. Sebelum hadirnya sosok laki laki yang akhirnya membuat senyum Mamah tenggelam. 

Malam demikian pekat, hujan begitu lebat ketika kami baru kembali dari berkemah di Lembang. Baru saja kaki kami menapak bumi setelah turun dari mobil, telinga kami sudah mendengar suara besi beradu dari ayunan di pekarangan rumah kami. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar mengenakan jaket jeans dan celana hitam lalu bangkit seraya tersenyum. 

Mamah kemudian refleks menutupiku dengan tubuhnya. Si lelaki kemudian menunduk mengalihkan pandang, menatap nanap ke mataku. Mata yang seolah olah berusaha ia kenali. 

“Bawa adikmu ke dalam Rendra!” seru Papah. 

Mata tajam itu terus mengikuti. Mata yang sedikit kemerahan. Ada sayatan pisau di matanya saat sinar lampu menyembur wajahnya. Senyumnya yang menyungging membuat tubuhku seperti ingin terbelah. Kak Rendra buru buru mengajakku masuk, aku dan Sabia masuk ke kamar, setelahnya Kak Rendra kembali ke kamarnya. 

Sejak malam itu, senyum Mamah perlahan berkurang. Wanita itu lebih sering menangis, kadang demam tanpa sebab. Papah pun semakin sering pulang larut, emosi membabibuta kadang menggerayanginya, lelaki itu tak pernah bertengkar dengan Wanita yang sangat dicintainya. Tapi sejak malam itu, keduanya selalu ribut meski akhirnya keduanya akan saling berpelukan dan menangis bersama. Kak Rendra pun demikian, wajah murungnya semakin sering terlihat. Tapi meski pun begitu, mereka tetap memberikan perhatiannya padaku, bahkan lebih. 

Kak Rendra yang selalu usil itu untuk pertama kalinya memberiku hadiah, “Buat kamu,” katanya di pekarangan sekolah saat jam istirahat. Sebuah kalung dari tali berwarna hitam dengan hiasan angklung kecil. 

“Kakak kenapa? Kok tiba tiba baik?” tanyaku. 

Dia diam.

“Biasanya kalo jam istirahat enggak mau jajan bareng, sekarang kok jajanin aku, kasih hadiah pula, kan ini bukan ulang tahun aku.”

Pemuda di depanku tersenyum, manis. Kulitnya yang sawo matang dengan warna rambut yang hitam pekat bak bulu gagak. Dia mengusap kepalaku, “kamu kan jago main angklung.”

“Ish kalung ini mah aku juga suka dapat di Sanggar,” balasku meledek. 

“Yang itu beda.”

“Apanya yang beda?”

“Kakak buat sendiri, ada ukiran nama kakak dan Sabia disitu.”

Kuperhatikan dengan seksama sambil menutup sedikit pandangan saking kecilnya. 

“Kenapa Cuma ada nama Kakak dan Sabia? Namaku kok enggak ada?” Aku protes. Dia meraih kalungnya, lalu memakaikannya, “Ini tandanya kakak dan Sabia adalah saudara kamu selamanya, kakak juga buatkan buat kakak dan Sabia,” katanya lagi sambil menunjukkan kalungnya yang dia sudah kalungkan di lehernya, “Yumna Sabia,” sambungnya. 

Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah dengan melihat begitu banyak perubahan. Kak Rendra yang lebih baik dari sebelumnya, yang lebih cengeng dari kebiasannya, Papah yang semakin jarang mengeluarkan suaranya dan Mamah yang sering sakit sakitan. Semua perubahan itu membuatku layu juga, di balik topeng menari aku menangis sejadi-jadinya meski tak tahu apa yang kutangisi. 

Setelah topeng kulepas, senyum kupaksa mengembang dan benar saja Papah kian membuang wajah dan Kak Rendra sudah meneteskan air mata begitu pula Mamah. Seusai pentas kami makan malam, suasana hangat yang berbeda dari hari hari sebelumnya, ada kue tart bertuliskan namaku meski bukan hari ulang tahunku, ada kotak hadiah di meja tapi air mata mereka menjadi jadi, ada suara yang tak bisa dikeluarkan, tak mampu disampaikan, Ketika Mamah menggenggam erat jemariku, dia terjatuh tak sadarkan diri. 

Kami menangis, Sabia histeris, Kak Rendra hanya diam di tempat duduknya lalu meninggalkan rumah, entah pergi ke mana. Papah memintaku untuk kembali ke kamar, sampai aku sepi sendiri tanpa mengerti satu hal pun. 

Esoknya, di jam pulang sekolah. Kak Rendra langsung menerabas masuk ke kelasku. Dia tergesa-gesa membantu memasukkan semua isi buku dan tempat pensilku ke dalam tas, kemudian menarik lenganku. Tak pernah sebelumnya Kak Rendra bersikap agresif seperti hari itu, dia menarik lenganku begitu erat hingga sakit pergelangan tanganku. 

“Kita mau ke mana Kak?” tanyaku ketus tapi Kak rendra terus menarik lenganku. Sampai akhirnya kami tiba di pekarangan belakang sekolah, dia baru melepas genggaman tangannya. 

Kak Rendra menumpuk meja meja rusak, menyandarkannya di dinding, lalu dia naik ke atasnya. 

“Kakak mau apa? Mau ke mana?” tanyaku. 

“Naik!” 

Aku menggeleng.

“Naik Yumna!” bentaknya. 

“Enggak mau, Yumna mau pulang.”

“YUMNA!” Dia membentak, matanya melotot. Aku gemetar. 

“Naik!” rutuknya. 

“Sebentar lagi Papah jemput Kak.”

Dia turun tergesa-gesa, lagi lagi menarik lenganku. “NAIK!” katanya lagi ketus. Dia raih tasku dan atas paksaan darinya kupijaki setiap meja kayu tua yang kaki kakinya sudah tak sama lagi ukurannya sampai berhasil menyebrangi dinding tua yang tinggi itu, Kak Rendra terus menggandeng tangaku dan perlahan kami meninggalkan sekolah. Usianya 12 tahun kala itu, sementara aku delapan. Hari itu, dia tak banyak bicara, Kak Rendra hanya menggenggam erat tanganku dan terus melangkah. Kami melintasi pematang sawah yang kanan kirinya mengalir air irigasi yang begitu jernih. 

“Yumna haus Kak,” kataku. 

Kak Rendra refleks berhenti, kami duduk di batu batu kali, di sebelah kami sebuah pohon trembesi, dedaunan ranting dan batangnya yang kokoh melindungi kami dari terik matahari. Kak Rendra membuka resleting tas, mengambil botol minum dan menyodorkannya padaku. 

“Yumna masih ingat rumah Nenek?”

“Masih.”

“Kita ke sana yuk.”

“Naik apa?”

“Jalan aja,” ajaknya.

“Tapi Mamah lagi sakit.”

“Gak apa apa. Ayo!” Kak Rendra memaksa. Aku tak bisa menolak, ajakan Kak Rendra seperti hadiah Tamasya seribu satu malam. Sepanjang perjalanan, pemuda itu bersiul, berlarian membuatku ngos ngosan mengejarnya, kami menyebur ke Sungai, bermain air di sana sampai lupa hari sudah hampir gelap dan rumah Nenek belum terlihat ujungnya. Sepatu kami basah, Baju juga basah, rambut, pipi, sampai bulu alis kami yang meneteskan air setelah berendam di sungai. Kami tertawa seharian,seperti mencoba tenang berlindung dari air mata atau amarah, setelahnya kami melanjutkan perjalanan Sepatu kami kalungkan di leher dan terus melangkah. Sampai tiba di penghujung jalan rumah Nenek, langkah Kak Rendra melambat begitu melihat mobil Papah, tangan Kak Rendra refleks erat menggenggam tanganku. 

Hal yang wajar karena takut diomeli, aku menunduk tapi tidak dengan Kak Rendra yang justru mengangkat wajahnya seolah olah bertemu dengan musuh terberatnya. 

“Dari mana saja kamu, siapa yang suruh kamu melakukan ini!” bentak Papah. Untuk pertama kalinya, lelaki itu meninggikan suara pada putranya. Kak Rendra diam, Papah melepaskan tangan Kak Rendra dengan kasar. “Jangan Pah!” teriak Kak Rendra. Papah menarik tanganku dan mendorong tubuh Kak Rendra. 

“Titip Rendra Buk,” kata Papah pada orang tuanya. Kak Rendra mengamuk, berontak, Kakek Nenek menangis, sementara Papah dengan tenang menggandeng tanganku menuju mobil. 

“Yumnaaaa!” teriak Kak Rendra, air mataku meluncur berusaha membaca kisah yang sama sekali tak kuketahui kalimat pembukanya. Kak Rendra kemudian berontak, berhasil lepas dari genggaman tangan Kakek dan Nenek dia berlari ke arahku, merampasku dari Papah. 

PLAK! Tamparan keras itu melayang ke wajahnya. “Berhenti Rendra!” rutuk Papah.

“Papah kenapa pukul Kakak?” Aku menangis, “Kenapa Papah.” 

“Masuk Yumna!” 

“Enggak! Yumna enggak boleh pergi!” Kak Rendra menghadang, dan akhirnya Papah memasukkan kami berdua ke dalam mobil. 

“Yumna mau pergi ke mana Pah?” tanyaku merengek, tapi Papah tetap diam menyetir. Pintu mobil dikuncinya otomatis, Kak Rendra berteriak teriak berhenti, dia sampai menyebut Papah Jahat. Suara kami hampir habis, tapi mobil itu terus melaju, sampai tak lama tibalah kami di sebuah persimpangan jalan. 

Dengan kasar Papah membuka pintu, mendorong tubuh Kak Rendra yang berontak dan menggapai lenganku. “Ikut Papah Yumna,” katanya dengan mata merah berkaca-kaca. 

“Jangan Papah! Jangan!” Kakak berteriak teriak di dalam mobil, dapat kulihat air mata membanjiri wajahnya, sementara aku di luar mobil berdiri berhadapan dengan Papah yang menyejajarkan tubuhnya denganku, Papah menekuk lututnya, menggenggam erat bahuku. 

“Yumna … maafkan Papah,” rintihnya. 

“Papah kenapa? Yumna dan Kakak yang salah karena main habis pulang sekolah, kenapa Papah yang minta maaf,” rintihku. 

Suara tangisan Kak Rendra menjadi pengantar percakapan kami. Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap inci sorot mata Papah yang juga meneteskan air mata, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat menghormati keputusannya untuk menangis, di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris.yang begitu menusuk kalbu.

Lalu dunia bagai dibelah. Ketika sosok lelaki yang beberapa malam lalu kulihat di depan pekarangan rumah kami, lelaki yang menatapku begitu dalam tiba tiba hadir di antara aku dan Papah. 

“Yumna … Yumna maafkan Papah dan Mamah.” Aku mulai sesenggukan tak berhenti, gemetar tanganku seperti dibenamkan ke dalam lumpur. 

“Sejak kemarin Papah dan Mamah berusaha memberitahu, tapi Papah tak sanggup ….”

Aku semakin diam, teriakan Kak Rendra menjelaskan segalanya. Seperti dunia di balik kabut, ada rahasia yang selama ini disimpan. 

“Yumna, kami bukan orang tuamu. Bapak ini adalah Ayah kandungmu.” 

Konon waktu akan mampu mengurai segalanya, membuat air bening menjadi keruh. Namun saat itu waktu gagal mengurai kepedihanku. Aku nyaris tak bisa bernapas saat Papah mengatakan itu, tubuhku yang ringkih kian remuk Ketika lelaki itu melepaskan kedua tangannya dari bahuku kemudian menyerahkan tanganku pada lelaki yang belum pernah kukenal itu. Aku merengek ketakutan, menangis histeris, meronta, mengemis. “Jangan tinggalkan Yumna Papah, Yumna janji jadi anak baik Papah! Yumna anak Papah Mamah! Yumna janji jaga Papah Mamah!” Tubuhku terseret, tangisan Kak Rendra kian menjadi jadi, tapi Papah tetap menutup telinganya, dia naik ke mobilnya setelah menurunkan barang barang dan meninggalkanku begitu saja. 

“Papah! Papah! Kak Rendraaa!” Aku berlari mengejar mobil, tapi mobil tanpa belas asih terus melaju, bahkan hingga kuterjatuh Papah tetap tak menghentikan mobilnya.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 5)
Komentar ( 3)
galuh triwahyuni · 20 Aug 2026 08:39

mbk is udah gak sabar kelanjutannya

Merpati Merpati · 16 Aug 2026 23:17

Mewek bacanya🥲🥹 lanjut mba is, gak sabar tunggu lama2

galuh triwahyuni · 12 Aug 2026 07:56

lanjut mbk
jangan lama2

Daftar Bab