Pulang ke Arahmu

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Rahasia Yang Disembunyikan

Sejak amplop cokelat itu datang, ada sesuatu yang berubah di rumah.

Bukan sesuatu yang bisa dilihat.

Tidak ada perabot yang berpindah. Tidak ada orang yang pergi. Tidak ada pertengkaran besar.

Semuanya masih sama.

Namun Tara mulai menyadari bahwa ibunya lebih sering diam.

Kadang, saat sedang makan malam, perempuan itu tiba-tiba melamun terlalu lama. Ketika ditanya, jawabannya selalu sama.

“Capek.”

Tara tahu itu bukan jawaban sebenarnya.

Ia hanya belum tahu apa pertanyaannya.

Sudah tiga hari sejak amplop itu datang, tetapi ia tidak pernah melihatnya lagi.

Sela juga tidak pernah membicarakannya.

Mungkin karena mereka berdua sepakat untuk pura-pura tidak penasaran.

Atau mungkin karena mereka sama-sama takut dengan apa yang mungkin mereka temukan.

Pagi itu, Tara sedang memasukkan beberapa buku ke dalam tas ketika Sela muncul di depan pintu kamarnya.

“Kak.”

Tara tidak menoleh.

“Hm?”

“Kita punya foto waktu kecil nggak?”

Tangan Tara berhenti.

“Kenapa?”

“Mau lihat.”

“Lihat di album.”

“Album yang mana?”

“Yang di lemari ruang tengah.”

Sela menggeleng.

“Sudah aku cari.”

“Terus?”

“Nggak ada.”

Tara akhirnya menoleh.

“Nggak ada?”

“Yang ada cuma foto-foto waktu aku sudah agak besar.”

Ia mengernyit.

“Memangnya kenapa?”

Sela masuk ke kamar dan duduk di ujung tempat tidur.

“Aku tadi cari foto waktu kita kecil.”

“Buat apa?”

“Iseng.”

Tara memperhatikannya.

Sela memainkan ujung bajunya.

Ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

Tara tahu kebiasaan itu.

Kalau Sela mulai memainkan ujung baju, biasanya ada hal yang mengganggu pikirannya.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Sel.”

“Apa?”

“Cerita.”

Sela menghela napas.

“Kakak ingat nggak foto pertama kita?”

Tara mencoba mengingat.

Ia memang memiliki banyak foto bersama Sela.

Foto ulang tahun.

Foto hari raya.

Foto ketika mereka masuk sekolah.

Foto saat Sela kehilangan gigi depan.

Foto ketika Tara pertama kali mengajari Sela naik sepeda.

Tetapi foto pertama?

Entah kenapa, ia tidak bisa mengingatnya.

“Kenapa aku nggak punya foto kita waktu aku masih bayi?”

Tara terdiam.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun kali ini, ia tidak memiliki jawaban.

“Bukannya ada?”

“Nggak tahu.”

“Mungkin disimpan ibu.”

“Mungkin.”

Sela berdiri.

“Ya sudah.”

Ia tersenyum kecil.

Tetapi Tara tahu senyum itu bukan senyum yang sebenarnya.


Malamnya, Tara terbangun karena mendengar suara dari ruang tengah.

Ia melihat jam.

02.13.

Suara perempuan terdengar pelan.

Ibunya.

Tara membuka pintu kamar sedikit.

Dari celah pintu, ia melihat ibunya berdiri sambil memegang sesuatu.

Sebuah kotak.

Kotak kayu kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Jangan sekarang…”

Suara ibunya terdengar sangat pelan.

Tara mengerutkan kening.

Lalu terdengar suara ayah.

“Kita nggak bisa menyimpannya selamanya.”

Tara membeku.

Ayahnya jarang berbicara dengan nada seperti itu.

“Aku tahu.”

“Sudah waktunya.”

“Belum.”

“Anak-anak sudah besar.”

Hening.

Tara menahan napas.

Anak-anak?

Mereka sedang membicarakan siapa?

Sela?

Dirinya?

“Kamu pikir kalau kita diam, semuanya akan selesai?”

Suara ayah semakin rendah.

“Aku cuma ingin mereka baik-baik saja.”

“Dan kalau mereka tahu nanti?”

“Biar aku yang menghadapinya.”

Tara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia tidak seharusnya mendengar percakapan ini.

Ia tahu.

Tetapi kakinya tidak bergerak.

Kemudian ibunya mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuh Tara terasa dingin.

“Bagaimana kalau Tara ingat?”

Tara membeku.

Namanya.

Mereka sedang membicarakan dirinya.

Ia mundur perlahan sebelum pintu kamar terbuka.

Namun suara langkah dari ruang tengah membuatnya buru-buru masuk kembali.

Pintu kamar ditutup.

Tara berdiri di baliknya sambil menahan napas.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki melewati depan kamarnya.

Lalu hening.

Tara duduk di tepi tempat tidur.

Tangannya terasa dingin.

Apa yang harus ia ingat?

Ia memejamkan mata.

Mencoba mengingat masa kecilnya.

Rumah ini.

Kamar ini.

Sela.

Ibu.

Ayah.

Semuanya ada.

Semuanya terasa nyata.

Tapi ada satu hal yang tiba-tiba mengganggunya.

Ia tidak bisa mengingat kapan pertama kali ia datang ke rumah ini.

Tidak ada satu pun ingatan tentang hari pertama.

Tidak ada hari pertama tidur di kamar ini.

Tidak ada hari pertama bertemu Sela.

Yang ia punya hanya potongan-potongan kecil.

Dirinya dan Sela berlari di halaman.

Sela memanggilnya kakak.

Ibu tersenyum.

Ayah membawa sebuah kotak.

Tetapi sebelum semua itu…

Kosong.

Benar-benar kosong.


Keesokan paginya, Tara bertingkah seperti biasa.

Ia sarapan.

Minum kopi.

Mengantar Sela.

Bercanda dengan ibu.

Seolah semalam tidak pernah terjadi.

Tetapi ketika Sela duduk di sampingnya di dalam mobil, gadis itu memperhatikannya.

“Kak.”

“Hm?”

“Kakak kurang tidur?”

“Kenapa?”

“Mata Kakak.”

Tara mengusap wajah.

“Biasa.”

Sela diam beberapa detik.

“Semalam Kakak dengar sesuatu?”

Tara menoleh.

Jantungnya kembali berdegup.

“Apa?”

“Entahlah.”

Sela menatap keluar jendela.

“Aku juga dengar suara ibu sama ayah.”

Tara menggenggam kemudi lebih erat.

“Ngomongin apa?”

“Nggak tahu.”

Sela kemudian menatapnya.

“Tapi aku dengar namamu.”

Hening.

Mobil terus bergerak di jalan yang ramai.

Tara tidak menjawab.

Sela juga tidak bertanya lagi.

Namun sejak pagi itu, mereka mulai menyimpan rahasia yang sama.

Sama-sama tahu ada sesuatu.

Sama-sama tidak tahu apa.


Sore hari, ketika Tara pulang lebih dulu, ia melihat pintu kamar orang tuanya sedikit terbuka.

Ia berhenti.

Entah mengapa, langkahnya membawa dirinya ke sana.

Ia tahu ini salah.

Ia tahu seharusnya ia tidak masuk.

Tetapi rasa penasaran yang selama beberapa hari terakhir semakin besar akhirnya mengalahkan rasa bersalah.

Tara masuk.

Kamar itu kosong.

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada yang aneh.

Lemari.

Meja.

Tempat tidur.

Foto keluarga.

Ia hampir menyerah ketika melihat laci kecil di bawah meja.

Terkunci.

Tara mencoba membukanya.

Tidak bisa.

Ia mencari kunci.

Tidak ada.

Kemudian ia melihat sebuah foto yang terselip di belakang bingkai.

Ia mengambilnya.

Foto lama.

Warnanya sudah sedikit pudar.

Seorang perempuan muda berdiri sambil menggendong bayi.

Tara menatap foto itu lama.

Perempuan itu adalah ibunya.

Bayi itu…

Tara memperbesar pandangannya.

Ada sesuatu yang aneh.

Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.

12 April 2001.

Tara menghitung dalam kepala.

Tanggal lahirnya adalah 8 November 2000.

Ia seharusnya sudah berusia beberapa bulan dalam foto itu.

Namun yang membuatnya semakin bingung adalah tulisan lain di bawah tanggal tersebut.

Hanya tiga kata.

Hari pertama Tara.

Tara merasa tenggorokannya tercekat.

Hari pertama?

Apa maksudnya?

Ia membalik foto.

Ada tulisan tangan lain di bagian belakang.

Jangan pernah beri tahu dia sebelum waktunya.

Tara menatap tulisan itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka.

Ia tersentak.

Cepat-cepat ia mengembalikan foto ke tempatnya dan keluar dari kamar.

Namun saat ia menutup pintu, ia berhadapan dengan Sela.

Sela berdiri di lorong.

Menatapnya.

“Kak?”

Tara diam.

Sela melihat pintu di belakangnya.

“Kakak dari kamar ibu?”

Tara tidak menjawab.

Sela berjalan mendekat.

“Ada apa?”

Tara menatap adiknya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Ia ingin bertanya kepada Sela apakah selama ini ia pernah merasa ada sesuatu yang aneh.

Ia ingin bertanya apakah Sela ingat kapan mereka pertama kali bertemu.

Ia ingin bertanya apakah Sela tahu sesuatu tentang dirinya yang tidak ia ketahui.

Namun sebelum satu pun pertanyaan keluar, suara ibu terdengar dari ruang depan.

“Tara?”

Keduanya menoleh.

Ibu mereka berdiri di sana.

Wajahnya berubah begitu melihat Tara.

Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Hanya menatap putranya beberapa detik.

Kemudian pandangannya berpindah kepada Sela.

Dan untuk pertama kalinya, Tara melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat dari wajah ibunya.

Takut.

Bukan takut kepada mereka.

Tetapi takut terhadap sesuatu yang mungkin sudah terlalu lama disembunyikan.

“Kenapa?” tanya Tara.

Ibunya diam.

“Tadi ibu panggil?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Sela mulai melihat keduanya bergantian.

“Ibu?”

Perempuan itu menghela napas.

“Tidak apa-apa.”

Tara tersenyum tipis.

“Kalau memang nggak apa-apa, kenapa ibu kelihatan takut?”

Ibunya terdiam.

Sela menggenggam lengan Tara.

“Kak…”

Tara menatap tangan Sela yang memegang lengannya.

Hangat.

Familiar.

Rumah.

Semua hal yang selama ini ia kenal.

Namun tiba-tiba, untuk pertama kalinya, Tara merasa ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar ia kenal.

Dan mungkin, selama ini, bukan rumahnya yang menyimpan rahasia.

Melainkan dirinya sendiri.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab