Papan pengumuman ajaib

Bab 2 dari 7

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Robekan kertas yang salah

BAB 2: ROBEKAN KERTAS YANG SALAH*


Salju turun tidak berhenti sampai jam sembilan pagi. Aku duduk di depan jendela sambil memeluk bantal. Napasku keluar seperti asap. Di Depok, di bulan Agustus. Logika mana yang bisa menjelaskan ini?.


HP-ku masih berdering. Grup sekolah sudah tembus 999+ pesan. Ada yang kirim foto, kirim video, ada yang live, bahkan sampai buat Tagar `#SaljuDepok`dan itu sudah trending nomor satu di Twitter.


`Boni: GUE LAGI BIKIN BENTENG SALJU DI DEPAN RUMAH`  


`Boni: BESAR NYA SE MOBIL`  


`Dita: Itu namanya igloo, bukan benteng. Dan secara sains, ini tidak mungkin terjadi. Suhu rata-rata Depok 31°C.`  


`Teman 1: BERARTI LIBUR SEMINGGU KAN BU?`  


`Teman 2: Kalo seminggu gue bisa jago main salju`


Tangan ku gemetar, Bukan karena dingin. Tapi karena takut. Kertas yang ku robek kemarin, Tulisan tanganku sendiri. `Besok sekolah libur karena hujan salju.`


Tidak mungkin, Tidak mungkin itu ada hubungannya.


"Rian, sarapan!" teriak Ibu dari dapur. "Itu di luar beneran salju? Ibu kira kiamat."


Aku menggeleng meskipun Ibu tidak lihat. "Enggak Bu. Katanya sih fenomena langka." Ujar Ayah


"Fenomena langka kok bisa pas hari ada ulangan Matematika," gumamku pelan.


---


Jam sudah menunjukkan jam sepuluh, aku tidak tahan. Aku pakai jaket tebal, syal, lalu aku coba keluar rumah. 


Depok tiba-tiba berubah jadi Eropa. Anak-anak berlarian, Bapak-bapak tukang ojek bingung mau narik atau main salju, dan Ibu-ibu PKK sibuk foto-foto buat status WA. Dan di tengah keramaian itu, aku hanya punya satu tujuan; SMP Bakti Pertiwi.


Aku berlari ke sekolah, Namun gerbang sekolah dikunci. Ada pengumuman ditempel: `LIBUR KARENA CUACA EKSTREM`. Tapi aku tidak ke gerbang depan, Aku muter ke pagar belakang yang agak rusak. Aku Loncat, dan mendarat di tanah yang becek... eh, yang bersalju.


Koridor belakang nampak sepi, Hanya ada suara angin dan salju yang turun dari atap.


Dan di sana papan tua itu masih berdiri (Mading itu) semua berawal dari Mading tua itu. Kertas robekku masih menempel disana. Tapi sekarang tidak miring lagi, bahkan tidak terlipat. Posisinya lurus, rapi, tepat di tengah papan. Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang merapikannya semalaman.


Di sekeliling kertas itu, kacanya pun sudah tidak terlihat berembun. Justru menghangat, dan Aku mencoba tempelkan telapak tanganku terasa hangat. Jantungku berdebar kencang.


"Gak mungkin... gak mungkin..." bisikku.


Tiba-tiba ada suara dari belakang.


"Ngapain lo di sini?"


Aku hampir loncat, karna terkejut.


Dita, datang dengan jaket tebal, syal, dan tetap membawa buku catatan.


"Lo... lo kok bisa di sini?" tanyaku gagap.


"Grup bilang ada yang lihat lo loncat pagar," jawab Dita datar. "Secara statistik, 90% kalau ada kejadian aneh, pelakunya lo."


Sebelum aku sempat jawab, tiba-tiba suara lain muncul.


"WOY ADA SALJU BENERAN!"


Boni, Tiba-tiba dia datang nyosor dari semak-semak, seluruh kepalanya penuh salju. Di tangannya ada dua kantong plastik berisi... ayam geprek? 


"Gue kira kantin buka," katanya polos. "Ternyata tutup. Ya udah gue beli di luar."


Tiga serangkai pun lengkap sudah. Lalu Dita melihat mading itu, Matanya langsung menyipit. "Itu tulisan lo?"


Aku diam.


"RIAN!" Dita menaikkan suaranya. "Jawab!"


Aku akhirnya mengangguk pelan. "Iya, aku iseng... kemarin sore."


Lalu semua terasa hening, Hanya suara salju yang jatuh.


Lalu Boni yang pertama pecah. "HAH? SERIUS? BERARTI KALO GUE NULIS 'AYAM GEPREK GRATIS' BENERAN GRATIS DONG?"


"BO-DOH," bentak Dita. "Ini tidak lucu, Bon. Ini fenomena alam yang tidak bisa dijelaskan. Kita harus lapor guru."


"Lapor apa?" kataku cepat. "Lapor kalau gue yang nulis? Nanti gue diskors."


"Kita tidak tahu ini ulah lo," kata Dita, tapi matanya menyelidik. "Kita hanya perlu menguji."


"Nguji apa?" 


Dita mengeluarkan pulpen dari tasnya. "Hipotesis. Jika mading ini benar-benar mengabulkan tulisan, maka kita harus menguji dengan variabel terkontrol."


Boni langsung semangat. "VARIABEL TERKONTROL ITU AYAM GEPREK!"


---


Satu jam kemudian, kami bertiga bersembunyi di balik pot besar di koridor belakang. 


Di tangan Dita ada kertas kecil, Tulisan tangannya rapi banget.


`Percobaan 1: Meminta es teh gratis di kantin besok.`


"Kita tempel?" tanya Boni berbisik.


"Tunggu," kata Dita. "Kita harus lihat dulu apakah ada efek."


Kami menunggu 10 menit, dan tidak terjadi apa-apa.


"Gagal," gumamku kecewa. "Tadi berarti cuma kebetulan aja."


Baru saja aku mau berbalik, lampu koridor tiba-tiba berkedip. Sekali, Dua kali. Dan kertas di dalam mading tadi... berubah.


Tulisan `Percobaan 1` itu sekarang ada di tengah. Rapi, Seakan ditempel ulang.


"Astaga," bisik Dita. Buku catatannya hampir jatuh. "Ini nyata."


Boni langsung loncat. "BERARTI BESOK ES TEH GRATIS! GUE PESEN 10!"


"Jangan teriak!" kataku sambil menutup mulut Boni. "Ada orang."


Kami bertiga lari tunggang-langgang keluar sekolah, bersembunyi di balik gerbang. Napas terengah-engah, karna takut ketahuan.


Di perjalanan pulang, tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Boni memecah keheningan.


"Jadi... kita punya kekuatan super?"


"Tidak," potong Dita. "Kita punya masalah besar."


---


Besoknya, apa yang ditulis Dita kemarin di Mading itu benar-benar terjadi. Aku datang ke sekolah. Dingin, sangat dingin. Salju itu sudah mencair, tapi udara masih 18°C, Aneh.


Jam istirahat, kami bertiga ke kantin. Bu Kantin berdiri di depan. Di papan tulis kecilnya ada tulisan baru; `PROMO: ES TEH GRATIS UNTUK SEMUA SISWA HARI INI`.


Satu kantin pun langsung heboh.


"GRATIS?!" teriak Boni. Dia langsung ambil 4 gelas. "MAKASIH BU!"


Bu Kantin tersenyum. "Iya, nak. Tadi pagi ada donatur anonim yang bayarin semua."


Donatur anonim ??. Kami bertiga saling pandang.


Malamnya, di grup chat, Dita mengirim pesan panjang:


`Dita: Hipotesis terbukti. Mading itu mengabulkan permintaan tertulis.`


`Dita: Tapi ada 3 hal yang harus kita sepakati.`


`Dita: 1. Jangan sampai orang lain tahu.`


`Dita: 2. Jangan serakah.`


`Dita: 3. Jangan digunakan untuk menyakiti orang.`


`Boni: SETUJU. PERTAMA: AYAM GEPREK GRATIS SEBULAN`


`Rian: Bon...`


`Dita: _meninggalkan grup_`


Tapi besoknya Dita tetap datang, Dengan buku catatan baru. Judulnya: `PROTOKOL MADING`.


"Kita namai operasi ini," kata Dita serius. "Operasi Tiga Serangkai."


"Lebay," kataku.


"Terserah," kata Dita. "Yang penting, mulai sekarang semua permintaan harus lewat voting."


Masa keemasan ini pun dimulai.


Hari pertama: `PR Bahasa Indonesia ditiadakan`. Bu Guru malah bilang, "Anak-anak, hari ini kita nonton film saja ya."  


Hari kedua: `Jam olahraga diperpanjang 2 jam`. Lapangan kering padahal semalam hujan.  


Hari ketiga: `Pak BP tidak galak hari ini`. Pak BP malah senyum dan bilang, "Semangat ya anak-anak."


Sekolah berubah jadi surga, seperti yang aku impikan selama ini. Boni naik 2 kilo, Dita nilainya makin tinggi karena tidak ada PR. Dan Aku... aku mulai ketagihan.


Sampai hari keempat. Saat kami datang ke sekolah, ada sesuatu yang berbeda di mading itu. Ada kertas baru, tapi bukan tulisan kami. Tulisannya miring, tergesa-gesa, dan ditulis dengan tinta merah.


`Ujian Matematika besok, soalnya 1 sampai 10 jawabannya semua A.`


Darahku langsung dingin.


"Siapa?" bisik Dita. Wajahnya pucat. "Siapa lagi yang tahu?"


Boni menelan ludah. "Apa... apa kita ketahuan?"


Aku menatap kertas itu. Di sudutnya ada bercak, Seperti bekas jari. Dan di bawah mading, tergeletak gunting tua yang kemarin tidak ada.


Gunting dengan gagang kayu. Dan di gagangnya, terukir samar-samar: `D`.


"Rian," kata Dita pelan. "Sepertinya kita tidak sendirian."


Angin dari jendela bertiup. Kertas di dalam mading bergetar, padahal kacanya tertutup.


Hari itu, untuk pertama kalinya, aku takut pada tulisanku sendiri.


Karena jika ada orang lain yang bisa menulis di mading itu... 


maka kekacauan baru saja dimulai.


[Bersambung ke Bab 3]


---

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 2)
Komentar ( 1)
Rayn Moorids · 20 Aug 2026 14:55

Lnjut kakak

Daftar Bab