I am Your Boss

Bab 2 dari 28

Bab 1 Bab 3
100%
Memeriksa iklan...

Bab 2: Sekretaris Baru

"Pak, ada seorang perempuan yang ingin bertemu. Katanya dia mau melamar sebagai sekretaris Bapak. Saya sudah bilang kalau kita lagi tidak butuh karyawan baru, tapi dia keras kepala banget," lapor Lina, resepsionis yang bekerja di perusahaan ini.

"Ya ampun! Kamu tidak becus, Lina. Seharusnya kamu bisa meyakinkan dia kalau kita tidak butuh karyawan baru. Kalau perlu, panggil satpam dan usir dia dari sini!" jawabku, sedikit kesal.

"Tapi, Pak ... orangnya—"

"Sudah, saya yang akan temui dia. Di mana dia sekarang?" potongku, tak sabar.

"Di depan ruangan Bapak," jawabnya pelan, penuh keraguan.

Aku menatap tajam Lina, mengangkat sebelah alis, dan mendengkus kesal. Bagaimana bisa resepsionis sepertinya bisa begitu ceroboh? Seharusnya dia dan satpam yang sudah aku gaji bisa bekerja sama dengan baik. Kalau ada orang yang tidak diundang seperti perempuan itu, mereka berdua harusnya sudah mengusirnya.

Dengan perasaan yang masih dirundung kekesalan, aku berjalan menuju kantorku yang ada di lantai tiga gedung tinggi ini. Perusahaanku memang terdiri dari tiga lantai, dan di atasnya ada beberapa perusahaan lainnya. Sekitar tiga ratus karyawan bekerja di bawah kepemimpinanku, dengan banyak penyumbang dana yang terus membantu perusahaan ini berkembang.

Sesampainya di lorong menuju ruang kerjaku, aku melihat seorang perempuan berdiri di sana. Rambutnya lurus, terikat rapi sampai ke punggung. Ia mengenakan rok selutut berwarna hitam dan atasan putih sederhana. Saat melihatku berjalan menuju ke arahnya, ia menyunggingkan senyuman kecil, sedikit malu. Di tangan kanannya, ia memegang amplop cokelat, sepertinya berisi identitas diri dan berbagai sertifikat kerja sebagai bukti pencapaiannya, berharap aku tertarik merekrutnya. Tapi, aku jelas tahu. Di kantor ini sudah ada HRD yang mengurus semua urusan perekrutan karyawan.

"Maaf, Pak. Nama saya Tari," ucapnya dengan sedikit membungkuk, memberi hormat saat aku mendekat.

"Ada perlu apa kamu menemui saya?" tanyaku dengan dahi berkerut, mataku seolah malas menatapnya.

"Saya ... mau melamar pekerjaan," jawabnya dengan suara hati-hati.

"Maaf, kami sedang tidak butuh karyawan. Kantor ini sudah kebanyakan karyawan. Coba kamu melamar di kantor lain saja," kataku, sambil melangkah menuju pintu ruanganku, mulai memutar kenop pintu.

Namun, ia menghentikanku dengan suara yang sedikit lebih tinggi. "Pak! Maaf, tapi ... Bapak bisa lihat dulu berkas-berkas saya? Saya sudah bawa semua dokumen yang diperlukan. Saya juga bawa portofolio agar Bapak tertarik merekrut saya."

Aku terdiam sejenak, berhenti memutar kenop pintu, menoleh ke arahnya dengan pandangan yang sulit terbaca.

"Tak perlu," jawabku tegas. "Saya tidak butuh karyawan. Kalaupun saya membuka lowongan, HRD yang akan mengurusnya."

Tari tampak ragu sejenak, tapi kemudian dengan tiba-tiba ia meraih ujung kemeja hitamku. Di titik itu, rasa kesalku benar-benar memuncak. Kenapa perempuan keras kepala seperti dia harus ada di sini? Rahangku mengeras, dan aku membalikkan badan untuk menatapnya.

"Saya tidak butuh karyawan!" tegasku, dengan tatapan tajam yang bertujuan mengintimidasi. Tapi ia tetap tidak gentar. Ia bahkan semakin berani, menyodorkan berkas-berkas prestasinya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Kenapa kamu ingin sekali bekerja di sini?" tanyaku, merasa sedikit penasaran meski masih kesal.

"Pak, tolong. Saya sangat butuh pekerjaan. Saya punya alasan kenapa ingin sekali bergabung dengan perusahaan Bapak. Saya punya pengalaman sebagai sekretaris, dan saya bisa diandalkan untuk urusan pencatatan dan pengelolaan jadwal kerja," jawabnya, nada suaranya penuh harap.

Aku terdiam sejenak. Ya, aku tahu setiap orang pasti punya alasan mereka sendiri. Semua orang punya masalah hidup yang tak terungkap. Saat itu, ingatanku kembali ke enam tahun yang lalu. Saat itu, aku hidup hanya dengan mengandalkan hasil parkir kendaraan. Melamar pekerjaan dengan ijazah sekolah menengah yang sudah lusuh, tak ada satu pun perusahaan yang mau menerimaku. Aku bingung, apakah selembar kertas benar-benar menjadi tolok ukur seseorang? Bisakah sepotong kertas itu membuktikan kemampuan seseorang? Apakah memiliki berkas lamaran menjamin kemampuan dan dedikasi?

Aku menatap perempuan di depanku. Matanya yang sendu menyimpan kesedihan mendalam, tapi di sana juga ada pendar harapan yang berkilau di bola matanya yang hitam.

Aku menghela napas, membalikkan badan, dan akhirnya berkata, "Masuklah."

Ia terdiam beberapa detik sebelum melangkah masuk. Aku duduk di kursi kerjaku, memandangi langkahnya yang pelan. Terlihat jelas ia merasa lega, tapi aku tahu di dalam hatinya juga ada perasaan gugup yang menggelayuti.

"Duduklah," lanjutku.

Ia segera duduk di kursi yang berada di seberang mejaku. Bola matanya memicing, seolah menghindari tatapanku yang tajam. Dengan sedikit ragu, ia menyodorkan amplop cokelat yang berisi berkas lamaran dan beberapa kertas bukti prestasi, seperti keahlian mengelola data dengan komputer, serta sertifikat lainnya.

“Saya tidak butuh berkas-berkas kamu. Tidak penting!” ucapku tegas.

Tari tampak terkejut, tapi tetap mempertahankan sikapnya. “Lalu, apa yang harus saya lakukan agar bisa diterima bekerja di sini, Pak?”

Aku menatapnya sekilas. “Kamu ingin melamar sebagai apa di perusahaan ini?”

“Saya punya pengalaman sebagai sekretaris, Pak. Kalau bisa—”

“Mau langsung jadi sekretaris?” Aku mendengkus, tidak sabar. “Dulu pernah bekerja di mana?”

“Saya pernah bekerja di perusahaan advertising, Pak.”

“Kenapa berhenti bekerja di sana?”

“Saya—“

“Oke, cukup.” Aku memotongnya. “Tidak perlu cerita panjang lebar.”

Aku berdiri dan berjalan ke sekeliling meja, berbicara dengan nada yang lebih serius. “Yang harus kamu tahu, di perusahaan ini, semua karyawan harus mengikuti perintah saya. Saya bos di sini. Tidak boleh ada yang terlambat datang, dan ada peraturan-peraturan lain yang mengatur kedisiplinan karyawan. Yang lebih penting, karyawan di perusahaan ini dilarang keras untuk saling jatuh cinta, berpacaran, atau sesuatu yang berbau percintaan!” tegasku sambil memutar kursi dan berdiri di samping tempat Tari duduk.

Tari tampak sangat gugup, menelan ludah dengan cemas saat aku mendekat. Aku bisa melihat ketegangan di wajahnya.

“Apa pun perintah yang saya berikan kepada karyawan, tidak boleh dibantah. Harus dilaksanakan dengan baik. Pendapat saya tidak boleh dilawan, harus diterima tanpa kecuali.”

Tari mengangkat tangannya ragu-ragu, mencoba berbicara.

“Ada apa?” tanyaku dengan nada datar.

“Saya mau bertanya, Pak. Kenapa karyawan di sini tidak boleh ....” Ia ragu, tampak cemas.

“Saling jatuh cinta maksud kamu?” Aku menebak dengan nada sinis.

“I-iya, Pak,” jawabnya, wajahnya merah karena malu.

“Karena itu adalah peraturan yang saya buat. Tidak ada yang boleh melanggar aturan itu. Tidak ada yang boleh membantah. Perintah saya mutlak harus dilaksanakan.” Aku berhenti sejenak, menatapnya tajam. “Kalau kamu bersedia dengan aturan-aturan yang saya sebutkan, atau yang belum saya sebutkan, kamu bisa diterima bekerja di sini sebagai sekretaris saya. Sekretaris yang dulu? Tidak kompeten dan sering bolos. Saya akan pecat dia.”

Aku membuka laci meja, mengambil beberapa lembar kertas, dan melemparkannya di depan Tari.

“Baca itu. Kalau kamu siap, tandatangani kontraknya. Nanti saya beri salinan untukmu, tapi yang penting sekarang, baca dan pahami isinya.” Aku duduk kembali di kursi dan menyandarkan tubuh, menunggu reaksinya.

Dengan pelan, Tari mengambil tumpukan kertas itu dan mulai membaca pasal-pasal yang tercetak tebal pada kontrak. Matanya sesekali menatapku, seolah mencari petunjuk. Setelah beberapa menit, pandangannya bertemu dengan mataku.

“Bagaimana? Paham? Sudah siap?” Aku bertanya sambil tersenyum sinis, menajamkan tatapanku.

Tari menghela napas panjang, meletakkan kertas itu kembali ke meja, dan meraih pulpen yang ada di dekatnya. Tanpa berkata apa-apa, ia menandatangani kontrak tersebut, membuatnya resmi menjadi sekretarisku hari itu juga.

“Oke. Sekarang kamu resmi menjadi sekretaris saya. Dan ... ada beberapa hal lagi yang lupa saya sebutkan. Kamu tidak boleh bicara sebelum saya memerintahkan kamu untuk bicara, atau sebelum saya bertanya kepada kamu. Akan ada peraturan-peraturan lain yang akan saya sebutkan jika saya sudah ingat nanti.”

Tari menelan saliva dengan susah payah. Napasnya terdengar berat, dan ia mengangguk pelan, menandakan bahwa ia mengerti.

“Bagus kalau kamu sudah mengerti. Mulai sekarang, kamu bekerja,” kataku tegas.

“Jadi, saya—”

“Berhenti! Saya belum meminta kamu bicara! Ingat? Itu adalah aturan yang saya buat dan mutlak ditaati.”

Tari terlihat kesal, napasnya makin berat, dan aku tahu dia sedang menahan amarah. Aku hanya memandangnya tanpa perubahan ekspresi.

“Kamu harus mulai bekerja hari ini. Ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya. Saya harap kamu bekerja dengan baik. Sekarang, pergilah ke ruangan kamu. Jobdesk sudah tersedia di sana. Kamu bisa mulai berkenalan dengan karyawan-karyawan lain. Tapi, saat saya memanggilmu, kamu harus datang cepat-cepat. Tidak pakai lama. Saya benci menunggu.”

“Tapi, Pak. Hari ini saya—”

“Berhenti! Kamu sudah menandatangani kontrak. Artinya kamu sudah resmi jadi bawahan saya. Kamu tidak boleh membantah. Sekali lagi kamu membantah, saya akan memberikan kamu sanksi.”

Tari menghela napas dalam-dalam, lalu bangkit dengan ragu, berjalan keluar ruangan. Sebelum menutup pintu, ia menatapku tajam, rahangnya tampak mengeras. Aku tahu dia kesal, bahkan bisa kurasa kebencian itu mulai tumbuh dalam dirinya, membara perlahan seiring berjalannya waktu.

Saat pintu tertutup, aku menyeringai tipis.

Pada akhirnya, mereka akan merasakan apa yang pernah aku rasakan.

 

-II-

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab