Bab 1 dari 2
"Aya..... udah selesai belum sih?" Tanya kak Vita sambil membereskan barang-barang yang ingin ia bawa dari dapur.
"Iya ka, bentar lagi nih." Kataku sambil melipat beberapa baju dengan malas kedalam koperku.
Aku berhenti sebentar, menghela nafas panjang dan meninggalkan koperku. Aku berjalan pelan kearah kak Vita yang sedang membungkus beberapa barang pecah belah.
" Ka....." kataku pelan.
Kak Vita langsung menoleh dan melihat wajahku. Ia langsung paham apa yang ingin aku katakan.
" ayolah Aya, kita udah bahas ini beberapa kali. Kakak ga punya pilihan." Katanya sambil berhenti dengan aktivitasnya.
Aku menghela nafas panjang. Terasa berat aku hanya tak ingin merasakan rasa hal yang menyiksa itu lagi.
Sesaat hening, aku dan kak Vita tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
Perkenalkan namaku Cahaya Gwen Arista. Saat ini aku baru saja melewati masa SMPku dan saat ini aku sedang persiapan untuk masuk SMA . Tapi entah kenapa kelulusanku ini harus bersamaan dengan mutasinya kakakku Vita dari pekerjaannya.
Aku hanya tak menyangka dan berat menerima bahwa tempat mutasinya kali ini membuat kami kembali ke masa yang membuat rasa rindu dan rasa sakit bercampur jadi satu.
Matahari pagi ini sangat cerah, tapi tidak dengan suasana hatiku saat ini.
Semua barang sudah di packing dengan rapi. Kami siap berangkat ke bandara. Berat rasanya harus mengucapkan selamat tinggal dengan kota ini. Kota dimana aku banyak belajar untuk menyembuhkan rasa sakit yang menyesakkan di dadaku.
Aku tersenyum lirih ketika mobil mulai berjalan menuju ke Bandara melewati setiap sudut kota kecil ini. Setiap tempat mengingatkanku bagaimana dulu awalnya aku mencoba untuk bangkit dan berjuang. Setidaknya untuk tetap bertahan hidup.
Akhirnya pesawat pun terbang, aku melambaikan tangan melalui jendela ke kota itu. Sembari mengucapkan kata terimakasih dengan pelan.
"Ka Vita, apa ada yang akan menjemput kita?" Tanyaku saat kami baru saja keluar dari pintu bandara.
Ka Vita menoleh ke arahku dan tersenyum.
" apa kita perlu di jemput di kota ini? Bukankah kita sudah hafal seluk beluk kota ini.
Aku tahu, ka Vita pun sama sepertiku. Walaupun ia terlihat tegar tapi ada rasa sakit yang tak terkatakan.
Beberapa menit kemudian sebuah taksi online berhenti di depan kami.
Kami pun langsung naik. " ka, apa kita akan tinggal di tempat itu?" Tanyaku penasaran.
"Tidak, kita ga akan ke sana. Semoga tempat yang ini bener-bener bisa buat kita nyaman tinggal di kota ini ya Aya. " jawab ka Vita sambil melihat handphonenya.
" maaf neng, baru pertama kali datang ke sini atau sudah pernah?" Ucap sopir taksi membuka percakapan.
" Dulu..., kami tinggal di sini Pak. Tapi karena satu dan lain hal membuat kami harus pindah ke kota lain. " jawab ka Vita.
" oh, gitu neng. Dulu tinggal dimana Neng?" Lanjut supir.
Seketika hening. Entah kenapa berat rasanya menjawab pertanyaan ini, karena ketika menjawabnya maka akan membuat kenangan pahit itu muncul.
" Di jalan Khatulistiwa, Pak." Jawabku singkat.
Kulihat kak Vita memandang kosong ke arah jendela.
Beberapa menit kemudian kami tiba di tempat yang akan kami tinggali selama di kota ini.
"Nah, kita sudah sampai." Kata kak Vita sambil tersenyum.
Kami kemudian masuk ke rumah itu. Sebuah rumah yang di sewa kak Vita.
" Semoga kita nyaman yah tinggal di sini kak." Kataku berusaha memberi semangat.
"Iya.., Aya. Masuk yuk. Supaya kita bisa beres-beres. Setelah itu lanjut makan." Kata kak Vita sambil membuka pintu.
Kami masuk dan mulai membereskan barang-barang kami. Aku merasa rumah itu cukup nyaman, lingkungannya pun bersih dan masih banyak pepohonan hijau.
Setelah membereskan barang-barang kak Vita memesan makanan online, setelah makanan datang kami pun langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Maklum perut sangat lapar karena perjalanan dan rasa lelah setelah membereskan barang-barang.
"Puji Tuhan, akhirnya kenyang" kataku sambil bersandar di kursi.
"Hahaaa, kamu ini makannya banyak banget loh. Rasa makanan di kota ini ga berubah yah tetap enak." Kata ka Vita.
" Ka, apa nanti kita akan pergi ke sana?" Tanyaku.
Kak Vita terdiam. Namun, menjawab sambil tersenyum. " iya dong, emang kamu ga rindu mereka?".
Aku menjawab sambil menahan air mataku. "Iya, kak. Aya rindu banget sama mereka."
Setelah makan, kami mandi dan mulai bersiap-siap. Kak Vita sudah memesan taksi online, begitu taksi tiba kami langsung berangkat menuju ke tempat yang sangat kami rindukan.
Beberapa saat kemudian kami telah sampai.
Setelah turun dari taksi kami tak langsung berjalan ke arah tujuan kami. Entah kenapa kaki kami terasa berat.
"Kak....ayo kak. Mereka pasti juga merindukan kita. Sudah lama kita tidak datang kemari melihat mereka." Kataku mencoba menguatkan Kak Vita.
Kak Vita mengangguk pelan.
Perlahan kaki kami melangkah berjalan melewati pepohonan rindang dengan bunga-bunga yang saling tertaut di sana. Banyak dedaunan kering yang jatuh di jalan. Kami tetap melangkah sampai akhirnya kaki kami terhenti.
Pemandangan yang menyayat hati kembali kami rasakan. Rasa sakit yang dulu coba kami pendam kini muncul ke permukaan tanpa bisa kami kendalikan. Air mata mulai membasahi pipi ku.
Ku lihat kak Vita menangis sambil terduduk di sana.
"Papaaaa....mam...ma.." tangis ka Vita pecah.
Kami menangis tapi mereka tersenyum.
Ya, apapun yang terjadi mereka akan selalu tersenyum. Karena yang dapat kami lihat hanya foto di nisan mereka. Raga mereka tak dapat kami sentuh lagi. Bahkan untuk mencium bau mereka pun kami tak bisa. Inilah alasan kenapa aku merasa berat untuk kembali ke kota ini. Kota yang penuh kenangan bahagia tapi juga yang memberikan kenangan pahit dan rasa sakit untuk aku dan kakakku.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya