Bab 2 dari 3
Seisi kelas masih ramai setelah wali kelas mempersilakan Naya duduk di bangku kosong di sebelah Bima. Remaja itu sendiri tidak langsung bereaksi, hanya menatap kursi di sebelahnya yang memang sudah beberapa hari kosong sejak pemilik sebelumnya pindah sekolah. Meja itu sebenarnya masih menyisakan beberapa coretan nama dan gambar-gambar kecil yang dibuat entah oleh siapa, sementara di bagian sudutnya ada bekas goresan seperti pernah dipukul dengan ujung pulpen. Bima menatap meja itu, lalu menatap Naya yang sedang berjalan mendekat. Seketika beberapa suara pelan terdengar dari belakang.
“Kasihan banget.”
“Baru masuk udah duduk di sebelah Bima.”
“Bilangin, dong.”
Naya tentu mendengarnya. Ia hanya menoleh sebentar, tapi tidak bertanya, tidak pula menunjukkan wajah takut seperti yang mungkin diharapkan beberapa orang. Ia meletakkan tasnya di atas meja, menarik kursi, lalu duduk. Bima meliriknya.
“Lo yakin?”
Naya menoleh. “Yakin apa?”
“Duduk di sini.”
“Kenapa?”
Bima mengangkat bahu. “Banyak nyamuk.”
Naya melihat sekeliling. “Di kelas?”
“Iya.”
“Kelihatan?”
“Enggak.”
Naya menahan senyum. “Berarti nyamuknya pintar.”
Bima menatapnya sebentar, kemudian kembali membuka buku. Untuk pertama kalinya sejak pagi, sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, tapi hampir.
Dari bangku belakang, Rian menyenggol lengan temannya. “Bim.”
Bima menoleh. Rian menunjuk Naya dengan dagunya. “Lo nggak mau kasih tahu dia?”
“Kasih tahu apa?”
“Ya ….” Rian mengecilkan suara. “Tentang lo.”
Bima mengangkat alis. “Emangnya gue barang bekas?”
Rian tertawa kecil. “Bukan. Maksud gue—”
“Udah.” Bima kembali menatap buku.
Rian mengerti. Maka, ia tidak melanjutkan.
Tidak lama kemudian guru mata pelajaran masuk. Suasana kelas perlahan tenang. Naya mengeluarkan buku tulis baru bersampul biru muda, lengkap dengan namanya yang tertulis rapi di pojok kanan atas.
Naya Prameswari.
Bima sempat melihatnya. Nama yang terlalu rapi jika melihat keadaan kelas mereka. Bahkan tulisan tangannya juga rapi. Bima melihat buku tulisnya sendiri. Ada tulisan Matematika di bagian depan, tetapi hurufnya miring, sebagian tintanya melebar, dan sudut sampulnya sudah terlipat. Ia mendadak merasa seperti sedang duduk di sebelah orang dari sekolah yang berbeda.
Tak lama kemudian, pelajaran pun dimulai. Beberapa menit pertama berjalan tenang. Naya mencatat. Bima juga mencatat, meskipun tidak sebanyak Naya. Ia lebih sering memutar pulpen di antara jari-jari tangannya daripada menulis. Sesekali matanya melihat papan tulis, lalu turun lagi ke buku. Ketika guru memberikan tugas, hampir seluruh kelas mulai mengeluh.
“Bu, banyak banget.”
“Bu, yang nomor lima susah.”
“Bu, dikumpulin hari ini?”
Guru menggeleng. “Kerjakan dulu. Nanti kita bahas.”
Bima menghela napas. Ia mengambil buku tugasnya, tetapi baru menulis dua baris ketika sebuah kertas kecil melayang dan jatuh tepat di mejanya. Ia membuka kertas itu dan mendapati tulisan Rian.
Kantin nanti?
Bima mengambil pulpen, mencoret sesuatu, lalu melemparkannya kembali.
Gue miskin.
Beberapa detik kemudian kertas itu kembali.
Gue yang bayar, gue traktir.
Bima menulis: Tunggu gue kaya.
Rian hampir tertawa keras.
Guru langsung menoleh. “Bima!”
Bima membeku. “Ya, Bu?”
“Bisa diam?”
Bima melihat kertas di tangannya. “Iya, Bu.”
“Kalau mau ngobrol, keluar.”
“Iya, Bu.”
Kelas kembali tenang. Naya yang duduk di sebelahnya melirik kertas tersebut. Bima langsung menyelipkannya ke bawah buku.
“Bukan contekan,” bisiknya.
Naya mengangguk. “Saya juga nggak bilang.”
Bima menatapnya. “Kenapa ngomongnya ‘saya’?”
Naya tersenyum.
“Kebiasaan.”
“Di sini pakai gue-lo aja.”
“Kenapa?”
“Biar nggak kelihatan kayak anak pindahan.”
Naya tertawa kecil. Beberapa saat kemudian ia kembali memperhatikan papan tulis. Namun tidak sampai lima menit, siswa di depan mereka mulai berbisik-bisik. Dua orang di sisi kanan juga tertawa. Bahkan ada yang diam-diam memainkan ponsel di bawah meja. Guru tidak menegur siapa pun. Bima hanya berbisik sekali kepada Rian.
“Pinjam penghapus.”
Guru langsung menoleh. “Bima!”
Bima terdiam.
“Bisa diam sebentar?”
“Iya, Bu.”
Naya menoleh ke arah guru, kemudian ke beberapa siswa lain yang masih sibuk berbicara. Tidak ada yang ditegur. Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun sejak saat itu, ia mulai memperhatikan sesuatu. Bima memang sering membuat masalah. Tetapi rupanya, tidak semua masalah di kelas selalu dimulai oleh Bima. Dan yang lebih aneh, ketika orang lain melakukan hal yang sama, tidak ada yang terlalu peduli.
Ketika bel istirahat berbunyi, Naya baru membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Bima sudah berdiri.
“Mau ke kantin?”
“Enggak.”
“Bagus.”
Naya menatapnya. “Kenapa?”
“Di kantin mahal.”
“Emangnya lo nggak makan?”
Bima mengangkat bahu. “Nanti.”
Ia hendak pergi ketika Naya memanggil.
“Bim.”
Bima berhenti, lalu menoleh. Naya menunjuk buku tugasnya. “Yang tadi dikasih guru, dikumpulin kapan?”
“Besok.”
“Oh.”
Naya kembali menulis. Beberapa detik kemudian ia bertanya lagi. “Kenapa semua orang manggil lo Bim?”
Bima terdiam, lalu menjawab datar, “Karena kalau nama lengkap gue dipanggil, biasanya ada masalah.”
Naya tertawa. Bima ikut tersenyum tipis. Ia tidak tahu mengapa gadis itu masih bisa tertawa setelah mendengar semua cerita tentang dirinya. Mungkin karena Naya belum mengenalnya. Dan Bima merasa, untuk sementara, itu lebih baik.
Sore hari, setelah sebagian besar siswa pulang, Naya masih berada di sekolah. Ia sedang mencari ruang administrasi ketika mendengar suara kardus bergeser dari belakang gedung. Naya berhenti, menoleh. Di sana, Bima sedang membantu seorang petugas kebersihan mengangkat beberapa kardus tua. Seragamnya sudah sedikit kusut. Lengan bajunya digulung sampai siku. Keringat terlihat di pelipisnya. Naya memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya mendekat.
“Bim?”
Bima menoleh. Wajahnya tampak heran. Naya menunjuk kardus yang sedang dipanggulnya. “Lo ngapain?”
Bima meletakkannya di dekat gudang. “Bantu si bapak.”
Naya masih menatapnya. Lalu, tanpa sadar, ia berkata, “Katanya lo anak nakal?”
Bima mengambil kardus berikutnya, lalu menoleh sekilas. “Katanya.”
Bima kembali mengangkat kardus itu. Naya masih berdiri di tempatnya. “Beneran bantu?”
Bima menoleh. “Kalau gue bilang iya, lo mau bantu?”
Naya melihat kardus-kardus yang menumpuk di dekat gudang. “Harusnya?”
“Enggak.”
“Ya, udah.”
Naya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika petugas kebersihan tadi memanggil. “Nak, kalau mau ke kantor tata usaha, lewat depan saja. Ini belakang sekolah.”
“Oh, iya, Pak.” Naya mengangguk, kemudian kembali menatap Bima. “Lo sering bantu si bapak?”
Bima mengangkat bahu.
“Kadang.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa mau bantu?”
Bima seperti memikirkan pertanyaan itu. “Karena kalau saya nggak bantu, ya Pak Darto yang angkat semuanya.”
Naya terdiam. Jawaban itu simpel banget. Tidak ada alasan muluk. Tidak ada usaha membuat dirinya terlihat baik. Bima bahkan sepertinya tidak merasa bahwa yang dilakukannya pantas dibicarakan. Hingga kemudian, Pak Darto tertawa kecil.
“Dia memang sering bantu kalau sudah pulang sekolah.”
Bima langsung menoleh. “Pak Darto.”
“Kenapa?”
“Jangan bilang-bilang.”
Pak Darto kembali tertawa. “Kenapa? Takut terkenal?”
Bima menggeleng. “Takut besok disuruh angkat semua.”
Naya tertawa. Bima menatapnya. “Apaan?”
“Enggak. Ketawa aja.”
Naya menggeleng sambil tersenyum. Untuk sesaat, suasana terasa ringan. Namun ketika Naya hendak pergi, ia kembali teringat sesuatu. “Tadi di kelas ….”
Bima mengangkat kardus. “Apa?”
“Lo emang sering dimarahin guru?”
Bima berjalan menuju gudang. “Lumayan.”
“Karena sering bikin masalah?”
“Kadang.”
“Kadang?”
Bima berhenti di depan pintu gudang. “Gue nggak bilang gue anak baik.”
Naya menatapnya. “Tapi lo juga nggak bilang lo anak nakal.”
Bima tersenyum tipis. “Bukannya semua orang udah bilang?”
Naya tidak menjawab sampai Bima masuk ke dalam gudang dan meletakkan kardus terakhir. Ketika keluar, ia melihat Naya masih berdiri di sana.
“Lo belum pulang?”
“Belum.”
“Ngapain lo berdiri di sini terus?”
“Nyari ruang tata usaha.”
“Lewat depan.”
“Gue udah tahu, kok.”
Bima mengangguk. “Bagus.”
Naya berjalan beberapa langkah, lalu menoleh. “Bim.”
“Hm?”
“Besok tugas matematika dikumpulin, kan?”
Bima mengerutkan kening. “Kayaknya.”
“Kayaknya?”
“Iya.”
“Lo kok nggak yakin?”
“Gue jarang yakin sama sesuatu yang berhubungan sama tugas.”
Naya menggeleng. “Pantes.”
“Pantes apa?”
“Pantes sering dimarahin.”
Bima tertawa pendek. “Mulai nyebelin juga lo.”
Naya tersenyum. “Baru sehari.”
“Cepat juga.”
Mereka berjalan ke arah yang sama sampai persimpangan koridor. Naya menuju kantor tata usaha. Bima menuju gerbang belakang. Sebelum berpisah, Naya sempat menoleh lagi.
“Bim.”
Bima mengangkat tangan tanpa menoleh. “Apa?”
“Besok jangan telat.”
Bima berhenti sebentar. Kemudian ia menoleh. “Kenapa?”
“Biar nggak dimarahin.”
Bima tersenyum kecil. “Gue usahain.”
Dengan demikian, Naya pun pergi. Bima memperhatikannya beberapa detik sebelum kembali berjalan. Ia tidak tahu mengapa percakapan singkat itu terasa berbeda. Mungkin karena biasanya orang-orang hanya mengatakan kepadanya apa yang harus ia lakukan. Jangan berkelahi, jangan membantah, jangan terlambat, jangan bikin masalah. Sementara gadis baru itu hanya berkata: Jangan telat. Entah kenapa, Bima justru merasa ingin menuruti.
Keesokan paginya, Bima datang lima menit sebelum bel. Rian yang sedang duduk di bangkunya langsung menatap jam.
“Tumben.”
Bima meletakkan tas. “Tumben apaan maksud lo?”
“Lo datang pagi.”
“Emang nggak boleh?”
“Boleh. Gue cuma takut sekolah kiamat.”
Bima menarik kursinya. “Berisik lo.”
Rian menyeringai. Kemudian ia melirik kursi di sebelah Bima. “Mana anak baru?”
Bima membuka buku. “Belum datang.”
“Lo nungguin?”
Bima menatapnya. “Gue nungguin guru.”
“Bohong.”
“Lo mau gue lempar penghapus?”
Rian tertawa hingga tak lama bel masuk pun berbunyi. Beberapa siswa mulai kembali ke tempat duduk masing-masing. Bima tanpa sadar melirik pintu kelas. Satu menit. Dua menit. Akhirnya Naya muncul, berjalan cepat sambil membawa beberapa buku.
“Maaf, Bu.”
Guru yang baru masuk hanya mengangguk. Naya langsung menuju tempat duduknya. Ketika melewati Bima, ia berhenti sebentar.
“Lo datang pagi.”
Bima pura-pura sibuk membuka buku. “Biar nggak dimarahin.”
Naya tersenyum. “Bagus.”
Ia langsung duduk, sementara Bima menatap papan tulis. Namun beberapa detik kemudian, ia sadar bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia datang ke sekolah bukan karena takut dimarahi. Ia datang karena ada seseorang yang kemarin mengatakan kepadanya untuk tidak terlambat. Bima segera menggelengkan kepala. Aneh. Baru juga dua hari. Dan dia sudah mulai peduli pada ucapan anak baru itu.
Di depan kelas, guru mulai menjelaskan pelajaran. Naya membuka buku. Bima membuka bukunya juga. Untuk beberapa menit, keduanya diam. Sampai sebuah kertas kecil kembali melayang ke meja Bima. Ia membukanya segera. Tulisan Rian: Lo suka sama anak baru?
Bima langsung meremas kertas itu sembari menoleh ke belakang. Rian tertawa tanpa suara. Bima menggeleng, lalu matanya tanpa sengaja beralih ke Naya, melihat gadis itu sedang serius mencatat. Tidak tahu apa pun.
Bima segera kembali melihat papan tulis.
Tidak.
Setidaknya, belum. Dan Bima belum tahu bahwa sejak hari itu, kehadiran Naya perlahan akan membuatnya mempertanyakan satu hal yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan lagi: Benarkah dirinya memang seburuk yang selama ini dikatakan semua orang?
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya