Terlanjur

Bab 1 dari 3

Bab 2
100%

Bab 1: Nama yang Selalu Disebut

Belum sempat bel tanda istirahat kedua berbunyi, suara teriakan sudah lebih dulu pecah di belakang gedung sekolah.

“Jangan ikut campur!”

“Lo duluan!”

“Berani banget lo!”

Beberapa siswa yang sedang berjalan menuju kantin sontak berhenti. Ada yang menoleh, ada yang berlari mendekat, dan ada pula yang hanya berdiri dari kejauhan sambil sibuk mengeluarkan ponsel, seolah keributan adalah tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Di belakang gedung laboratorium, dua orang siswa sedang saling dorong. Salah satunya, Rendy, sudah menarik kerah seragam lawannya. Wajahnya merah, napasnya memburu. Sementara siswa yang satu lagi, Dika, tidak mau kalah. Tangannya mengepal dan nyaris menghantam wajah Rendy kalau saja seseorang tidak buru-buru masuk di antara mereka.

“Udah! Berhenti!” Bima menahan dada Rendy dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendorong Dika menjauh.

“Apaan sih, kalian?”

“Lepas, Bim!” bentak Rendy. “Lo jangan ikut campur!”

“Gue justru lagi misahin kalian!”

Bima menghela napas panjang. Ia sudah tahu keributan seperti ini tidak akan berakhir baik, tetapi entah kenapa setiap kali melihat dua orang hampir saling menghantam, tubuhnya selalu bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

“Udah, balik ke kelas masing-masing,” katanya.

Dika masih terlihat marah. “Dia yang mulai!”

“Gue nggak peduli siapa yang mulai. Kalau kalian berantem, dua-duanya yang kena.”

Bima baru saja selesai bicara ketika suara langkah kaki terdengar dari koridor.

“HEI!”

Seorang guru datang bersama dua siswa lain. Kerumunan yang sejak tadi menonton langsung mundur beberapa langkah. Rendy melepaskan kerah Dika, yang juga menurunkan tangannya. Dan seperti biasa, sebelum guru itu sempat bertanya apa yang terjadi, beberapa suara langsung terdengar dari belakang.

“Pak, Bima yang berantem!”

“Iya, Pak! Tadi Bima di tengah-tengah!”

“Bima yang mukul duluan, Pak!”

Bima memejamkan mata sebentar. Begitu. Ya, selalu begitu. Ia menoleh ke arah siswa-siswa yang tadi melihat semuanya. Tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa ia sedang memisahkan mereka.

Guru itu memandang Bima. “Kamu?”

Bima menunjuk Rendy dan Dika. “Mereka yang berantem, Pak. Saya misahin.”

“Benar?” Guru itu bertanya pada keduanya.

Rendy diam. Demikian pula Dika. Entah karena takut atau memang tidak ingin memperpanjang masalah.

Guru itu kembali menatap Bima. “Kamu ikut saya ke ruang BK.”

Bima tertawa pendek. Tentu saja, bukan karena lucu. Lebih karena ia sudah bisa menebak bagaimana cerita ini akan berakhir.

“Yang berantem mereka, Pak.”

“Saya tahu apa yang saya lihat.”

Bima menatap guru itu beberapa detik, lalu mengangkat kedua tangan.

“Iya, Pak.”

Ia berjalan meninggalkan kerumunan. Di belakangnya, bisik-bisik mulai terdengar lagi.

“Bima lagi.”

“Pasti dia.”

“Emang nggak kapok-kapok.”

Bima tidak menoleh. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Sampai-sampai sekarang ia tidak lagi merasa perlu membantah. Di sekolah ini, namanya memang selalu lebih cepat sampai daripada dirinya sendiri. Dan setiap kali ada masalah, orang-orang tidak pernah bertanya siapa yang memulai. Mereka hanya bertanya satu hal: Bima terlibat, kan? Bima sudah hafal jalan menuju ruang BK. Bahkan mungkin lebih hafal daripada jalan menuju perpustakaan. Ia masuk tanpa mengetuk, lalu duduk di kursi paling ujung. Guru BK yang sudah menunggunya menghela napas ketika melihat siapa yang datang.

“Lagi, Bima?”

Bima menyandarkan punggungnya. “Kelihatannya begitu, Bu.”

“Jangan bercanda.”

“Saya nggak bercanda.”

Guru BK membuka map di atas meja. Isinya beberapa lembar catatan pelanggaran yang sebagian besar memuat nama Bima. Terlambat masuk, tidak mengumpulkan tugas, membantah guru, berkelahi, membolos. Bima memperhatikan lembar-lembar itu tanpa ekspresi.

“Bima, ibu sudah berkali-kali bicara sama kamu.”

“Iya.”

“Kamu sebenarnya anak yang pintar.”

Bima tersenyum tipis. “Kalimat itu biasanya dilanjutkan dengan ‘tapi’.”

Guru BK terdiam sebentar. “Tapi kamu menyia-nyiakannya.”

Bima mengangguk. Nah. Benar, kan? Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali sampai rasanya seperti suara bel sekolah yang tidak pernah benar-benar mengganggunya lagi.

“Kalau terus seperti ini, sekolah bisa mengambil tindakan lebih tegas.”

Bima menatapnya. “Dikeluarkan?”

“Ibu tidak bilang begitu.”

“Tapi maksudnya begitu.”

Guru BK menghela napas. “Bima, kamu masih punya kesempatan memperbaiki semuanya. Jangan sampai satu kesalahan membuat masa depanmu berantakan.”

Bima hampir tertawa. Satu kesalahan? Kalau memang hanya satu, mungkin ia masih punya kesempatan untuk menjelaskan. Masalahnya, sekolah tidak pernah mengingat satu kesalahan. Mereka mengingat semuanya. Kesalahan pertama menjadi alasan untuk mencurigai kesalahan kedua. Kesalahan kedua menjadi bukti bahwa kesalahan pertama bukan kebetulan. Dan ketika kesalahan ketiga terjadi, semua orang merasa sudah punya cukup alasan untuk menyimpulkan siapa dirinya.

“Kalau saya bilang saya nggak berantem, Ibu percaya?”

Guru BK menatapnya. Bima tidak menunggu jawaban.

“Kayaknya nggak.”

“Bima.”

“Saya tadi cuma misahin mereka.”

“Kalau begitu, belajarlah menjauh dari masalah.”

Bima tersenyum hambar. “Kadang masalahnya yang datang ke saya, Bu.”

“Dan kamu selalu membiarkan dirimu masuk ke masalah itu.”

Kali ini Bima tidak menjawab. Ia tahu percakapan itu tidak akan membawa mereka ke mana-mana. Beberapa menit kemudian ia diperbolehkan kembali ke kelas, tetapi sebelum keluar, guru BK kembali mengingatkannya.

“Ini kesempatan terakhir, Bima.”

Bima berhenti di depan pintu. Ia tidak menoleh.

“Semoga.”


Sepulang sekolah, Bima baru sampai di rumah ketika melihat ayahnya duduk di ruang tengah. Seragamnya masih lengkap. Tas masih menggantung di bahu. Dari cara ayahnya duduk, Bima sudah tahu, bahwa sekolah pasti sudah menelepon.

“Duduk.”

Bima meletakkan tas. “Ada apa?”

“Ayah dapat telepon dari sekolah.”

“Ya.”

“Kamu berkelahi lagi?”

“Bukan saya yang berkelahi.”

Ayahnya menatap tajam. “Jadi guru sekolahmu bohong?”

“Bukan begitu.”

“Lalu, bagaimana?”

Bima mengusap wajah. Ia sudah lelah. Hari belum benar-benar selesai, tetapi rasanya ia sudah menjalani satu minggu penuh.

“Saya cuma misahin Rendy sama Dika.”

“Dan kenapa nama kamu yang disebut?”

Bima terdiam. Pertanyaan itu simpel, tetapi tidak punya jawaban yang benar-benar mudah. Karena mereka sudah terlanjur percaya. Karena ia punya reputasi buruk. Karena kalau Bima ada di dekat masalah, orang-orang tidak lagi membutuhkan penjelasan.

“Entahlah.”

Ayahnya menggeleng. “Itu masalah kamu, Bima. Kamu selalu bilang entahlah.”

“Karena Ayah juga nggak pernah mau dengar penjelasan saya.”

“Karena penjelasan kamu selalu datang setelah masalah terjadi!” Nada suara ayahnya meninggi.

Bima berdiri. “Terus saya harus gimana?”

“Berubah!”

“Saya mau berubah!”

“Buktikan!”

Bima terdiam. Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Buktikan. Seolah selama ini ia tidak pernah mencoba. Seolah semua usaha yang pernah ia lakukan tidak pernah ada.

Ia mengambil tasnya kembali. “Ya udah.”

“Bima.”

Namun Bima sudah berjalan menuju kamar. Pintu tertutup sedikit lebih keras daripada seharusnya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap langit-langit. Di luar, suara motor dan anak-anak yang bermain terdengar samar. Bima mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan di grup kelas. Seseorang mengirim foto keributan tadi. Di bawahnya ada satu komentar: Bima lagi.

Bima menatap layar beberapa detik, lalu mematikannya. Mungkin guru BK benar. Mungkin ayahnya benar. Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Atau mungkin, pikirnya, orang-orang sudah terlalu lama menganggapnya salah sampai ia sendiri mulai percaya.


Keesokan paginya, Bima masuk kelas seperti biasa. Ia baru saja duduk ketika wali kelas berdiri di depan papan tulis.

“Anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, ibu ingin memperkenalkan seseorang.”

Bima masih sibuk mengeluarkan buku dari tas.

“Mulai hari ini akan ada teman baru di kelas kita.”

Beberapa siswa langsung bersorak kecil. “Laki-laki atau perempuan, Bu?”

“Perempuan.”

Kelas mendadak lebih ramai. Bima tidak terlalu peduli. Sampai wali kelas mempersilakan seorang gadis masuk. Gadis itu berdiri di depan kelas dengan seragam yang rapi, rambut yang tertata sederhana, dan senyum kecil yang terlihat sedikit canggung.

“Silakan perkenalkan diri.”

Gadis itu mengangguk. “Halo. Nama saya Naya.”

Bima yang sejak tadi menunduk, perlahan mengangkat kepala. Entah kenapa, matanya bertemu dengan mata gadis itu. Hanya sebentar. Namun cukup membuat Bima kembali menatap bukunya ketika wali kelas berkata, “Naya, kamu bisa duduk di bangku kosong di sebelah Bima.”

Beberapa siswa langsung saling pandang. Ada yang tertawa kecil. Ada yang berbisik. Bima hanya menghela napas. Hari pertama Naya di sekolah itu baru saja dimulai. Dan tanpa mereka sadari, kehidupan mereka berdua juga baru saja berubah.


-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab