The Journey of Eternity

Bab 2 dari 7

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: desa elf


Ichigo terus berjalan melewati padang pasir itu.

Di sana, ia berburu kadal, tikus, bahkan monster untuk dimakan mentah. Ia menggunakan darah makhluk-makhluk itu sebagai minuman, meski membenci rasa kental dan beratnya.

Berkali-kali Ichigo mati akibat serangan monster atau keracunan, dan berkali-kali ia bangkit dari kematian. Semua itu ia tanggung hanya demi mengatasi lapar dan haus.

Kadang, Ichigo juga mematahkan cabang dan bunga kaktus untuk dimakan. Ia mematahkannya dengan tangan kosong, yang membuat tangan terus berdarah.

Dari pengalaman itu, Ichigo memahami bahwa rasa sakit dalam keabadiannya lima kali lebih besar dari yang dirasakan orang biasa. Ia bisa menekan respons emosi terhadap rasa sakit, tapi tubuh tidak bisa.

Tubuh semakin lemah. Kepala semakin pusing.

Setelah dua bulan berjalan di padang pasir, Ichigo akhirnya melihat hutan lebat di kejauhan.

Ia masuk ke dalam, dan menemukan banyak hewan serta tumbuhan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Lalu ia melihat sebuah danau.

Di tepi danau, seekor rusa biasa masuk ke dalam air. Saat muncul ke permukaan, bulunya telah berubah menjadi biru berkilau. Hal yang sama terjadi pada seekor burung pipit cokelat kecil. Setelah berenang dan menyelam, bulunya menjadi merah cemerlang.

Ichigo mengambil dua botol kecil dari tas pemberian putri duyung es, lalu mengisi dengan air danau untuk digunakan sebagai penyamaran. Ia meneteskan satu tetes ke rambut, dan rambut berubah menjadi ungu.

Beberapa jam setelah melewati danau, ia melihat beberapa pohon besar dengan tangga kayu dan rumah-rumah yang dibangun tinggi di antara cabang-cabangnya.

Ichigo memperhatikan seorang gadis bertelinga lancip, bermata emas, dan berambut pirang, berjalan melewati sambil membawa bunga dan tersenyum.

"Eh, halo?" kata Ichigo, bingung.

"Ah, halo. Sepertinya kamu tersesat, bukan?" kata sang elf yang mendekat, menggunakan bahasa yang tidak Ichigo mengerti.

"Hei, kenapa kamu tidak menjawab?" tanya sang elf lagi.

Ichigo hanya diam, tidak memahami bahasa yang digunakan.

"Kamu tidak mengerti apa yang aku katakan?" tanya sang elf, dan sekali lagi Ichigo tidak memahami sama sekali.

Sang elf kemudian mencoba menggunakan bahasa kerajaan, dan Ichigo langsung memahaminya.

"Aku tersesat. Keluarga dibunuh. Aku terdampar di sini dan berjalan lurus hingga mencapai hutan ini," kata Ichigo dengan ekspresi sepenuhnya kosong.

"Kalau begitu, maukah kamu tinggal bersama kami untuk sementara?" Sang elf sedikit menundukkan kepala, mengundang Ichigo untuk tinggal sementara.

Ichigo setuju dan mengikuti para elf.

"Oh ya, siapa namamu? Namaku Stella."

"Aku... Ichigo! Namaku Ichigo!" jawab Ichigo dengan lantang.

"Boleh aku tahu nama keluarga?"

"Tidak! Aku tidak ingin siapapun tahu!" jawab Ichigo langsung.

"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah," kata Stella, mulai memandu Ichigo naik ke pemukiman elf.

Sesampainya di rumah Stella, yang terletak di puncak pohon elf:

"Stella, rumah ini jauh lebih besar dari rumah elf lain, bukan?" Ichigo memandang sekeliling.

"Tentu saja! Saat dewasa nanti aku akan menjadi kepala elf di hutan ini. Aku akan membantu desa ini berkembang dan menjaga harmoninya," Stella bicara dengan bangga, seolah cahaya dari mana-mana mengelilingi diri saat ia berbicara.

"Dan Ichigo, kamu harus beristirahat. Pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang," Stella mengajak Ichigo tidur di rumah.

"Baiklah. Oh ya, di mana kamar mandi?" tanya Ichigo.

Stella menunjukkan arahnya.

Keesokan harinya, Ichigo mulai berlatih untuk memperkuat diri.

Latihan itu berlangsung selama tiga tahun penuh: berlari, sit-up, mengasah insting, memperkuat penglihatan, dan banyak lagi.

Karena desa elf dilindungi oleh penghalang yang sangat kuat, pasukan musuh tidak bisa menembusnya dengan mudah. Karena itu, Ichigo memiliki cukup waktu untuk berlatih dan berkembang.

Di area gelap di sekitar desa elf, seorang elf misterius berjanggut hitam dengan aura gelap diam-diam bekerja melemahkan penghalang, agar pasukan musuh akhirnya bisa masuk.

Penghalang yang seharusnya bertahan lima tahun, kini hanya bisa bertahan tiga tahun.

Elf misterius itu telah membuat kontrak dengan Dewan Peperangan sebagai imbalan hadiah besar, sekaligus untuk mengungkap identitas rahasia Ichigo.

"Kamu harus menyelesaikan ini, dan aku akan membuatnya menyesal segalanya," kata anggota Dewan Peperangan.

Sang elf misterius tersenyum.

"Tentu saja, untuk memberinya pelajaran yang setimpal!"

Elf itu adalah salah satu dari banyak elf di desa yang dekat dengan Stella.

Dua hari kemudian, Ichigo akhirnya terbangun dari tidur dan mendapati Stella duduk di sisinya.

"Ah, maaf. Sepertinya aku sangat tidak sopan karena tidur terlalu lama," kata Ichigo.

Stella menggeleng.

"Oh, tidak apa-apa. Lagi pula, kamu memang terlihat sangat kelelahan. Dan bagi elf, dua hari adalah waktu yang sangat singkat. Kami bisa tidur selama satu tahun penuh jika perlu," katanya dengan senyum lebar, meletakkan secangkir air.

"Begitu ya..." Ichigo lalu mencoba berdiri setelah meminum air dari Stella.

Stella terkejut dan segera bergerak untuk membantu.

"Jangan terburu-buru! Kamu belum pulih sepenuhnya!" Stella menegur dengan lembut, lalu memandu Ichigo kembali ke tempat tidur.

"Kamu kehilangan banyak darah saat tiba di sini. Itu yang membuatmu sangat lemah."

Ichigo lalu memandang ke arah jendela.

"Cuaca sangat cerah hari ini, bukan?" kata Stella, membawa cangkir yang tadi dibawa.

Di ambang pintu saat hendak meninggalkan ruangan, Stella berbicara sekali lagi.

"Cuaca yang indah untuk berjalan-jalan di sekitar desa. Jadi..."

Stella lalu berbalik memandang Ichigo.

"Cepat sembuh."

Stella menutup pintu.

Ichigo menatap langit-langit kayu di atas kepala.

Cerah.

Ia berpaling ke arah jendela. Sinar matahari jatuh hangat ke lantai kayu, membawa serta suara-suara dari desa di luar: langkah kaki di jembatan gantung, percakapan para elf dalam bahasa yang kini mulai sedikit demi sedikit ia pahami, dan sesekali, tawa anak-anak elf kecil yang berlarian.

Ichigo tidak merasakan apapun dari semua itu.

Tapi ia tetap mendengarkan.

Tiga hari kemudian, Ichigo sudah bisa berdiri sendiri.

Ia tidak menunggu izin Stella. Saat cahaya fajar pertama menyentuh celah jendela, Ichigo sudah turun dari tempat tidur, mengenakan pakaian, dan berjalan keluar dengan langkah yang masih sedikit berat namun mantap.

Lembab. Sedikit dingin. Penuh aroma tanah dan daun basah.

Ichigo berdiri di tepi platform kayu di depan kamar, memandang hamparan hutan di bawah. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat bagaimana desa elf tersebar di antara pohon-pohon raksasa: rumah-rumah kecil yang terhubung oleh jembatan tali dan tangga kayu, seperti sarang burung yang dibangun dengan sangat cermat.

Fungsional. Efisien. Begitulah penilaian Ichigo.

"Kamu sudah bangun."

Suara Stella datang dari arah tangga. Ia muncul membawa dua roti pipih dan sepotong buah hutan berwarna oranye cerah.

"Sudah bisa berjalan? Ayo, makan dulu. Tidak perlu terburu-buru."

Ichigo diam-diam menuruti Stella dan duduk di tangga rumah untuk makan.

Bersambung

Penulis = Nexus Venus

 Ilustrasi = Nexus Venus

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab