Ibu, Maaf Aku Terlambat Menghargaimu

Bab 2 dari 10

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Kabar yang Tidak Ingin Didengar

Rania masih duduk di ruang tengah ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam.


Makanan yang tadi ia siapkan sudah benar-benar dingin. Ia sempat berdiri untuk menghangatkannya kembali, tetapi akhirnya mengurungkan niat. Entah kenapa, malam itu perasaan Rania terasa tidak tenang.


Ia kembali mengambil ponselnya.


Pesan yang dikirimnya hampir satu jam lalu masih belum mendapat balasan.


Rania mencoba menelepon.


Nada sambung terdengar beberapa kali.


Tidak diangkat.


Ia mencoba sekali lagi.


Tetap tidak ada jawaban.


“Mas…”


Rania menatap layar ponselnya dengan cemas.


Biasanya Arman selalu memberi kabar jika pulang terlambat. Sesibuk apa pun pekerjaannya, setidaknya ia akan mengirim pesan singkat agar Rania tidak menunggu.


Namun malam ini berbeda.


Rania mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“Mungkin baterainya habis.”


Ia mengucapkannya pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Rania kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.


Rania langsung menoleh.


Untuk sesaat, wajahnya kembali cerah.


“Mas?”


Ia berjalan cepat menuju pintu.


Namun ketika pintu dibuka, senyum di wajah Rania perlahan menghilang.


Bukan Arman yang berdiri di sana.


Dua orang pria berdiri di depan rumah. Salah satunya mengenakan pakaian yang membuat Rania merasa semakin tidak tenang.


“Maaf, apakah benar ini rumah Bapak Arman?”


Rania terdiam.


“Iya. Saya istrinya.”


Kedua pria itu saling berpandangan.


Salah seorang dari mereka menarik napas panjang.


“Ada sesuatu yang perlu kami sampaikan.”


Jantung Rania berdegup lebih cepat.


“Apa?”


Tidak ada jawaban selama beberapa detik.


Rania mulai merasa takut.


“Suami Ibu mengalami kecelakaan.”


Wajah Rania seketika pucat.


“Apa?”


“Beliau sedang dalam perjalanan pulang ketika kecelakaan itu terjadi.”


Rania mundur selangkah.


“Sekarang di mana?”


“Di rumah sakit.”


“Rumah sakit mana?”


Rania bahkan tidak menunggu mereka selesai berbicara. Ia segera mengambil tas dan keluar dari rumah.


Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.


Tidak.


Arman pasti baik-baik saja.


Bukankah tadi pagi mereka masih berbicara?


Bukankah tadi pagi Arman masih menyentuh perutnya sambil mengatakan bahwa ia memiliki dua orang yang harus dijaga?


Rania menggenggam kedua tangannya erat-erat.


“Mas, kamu harus baik-baik saja.”


Air mata mulai memenuhi matanya.


“Kamu sudah janji mau membantu aku menjaga anak kita.”


Tidak ada jawaban.


Hanya suara kendaraan yang terus melaju menuju rumah sakit.


Setibanya di sana, Rania segera berlari menuju ruang IGD.


“Suami saya! Arman! Tadi dibawa ke sini karena kecelakaan!”


Seorang petugas segera menanyakan beberapa informasi.


Rania menjawab dengan suara bergetar.


Tidak lama kemudian, ia melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di ujung koridor.


Wajah orang itu muram.


Rania langsung menghampirinya.


“Bagaimana keadaan Arman?”


Orang itu tidak menjawab.


“Kenapa diam?”


Rania mulai panik.


“Dia di dalam, kan?”


Beberapa detik kemudian, pintu ruang IGD terbuka.


Seorang dokter keluar.


"Siapa keluarga pasien?"


Rania langsung mendekat.


“Saya istrinya.”


“Suami saya bagaimana, Dok?”


Dokter itu memandang Rania dengan tatapan berat.


“Kami sudah melakukan tindakan secepat mungkin.”


Rania menahan napas.


Dokter itu terdiam sesaat.


“Maaf, Bu.”


Hanya dua kata itu.


Namun Rania sudah merasa seluruh tubuhnya melemas.


“Kami sudah berusaha menyelamatkan beliau.”


Rania menggeleng.


“Tidak…”


“Namun kondisi beliau terlalu berat.”


“Tidak.”


Rania mundur selangkah.


“Tidak mungkin.”


Air matanya jatuh.


“Dokter, tolong periksa lagi.”


Suaranya semakin bergetar.


“Suami saya tadi pagi masih sehat. Dia masih bicara dengan saya.”


Dokter itu menundukkan kepala.


“Maaf, Bu. Suami Ibu telah meninggal dunia.”


Dunia Rania terasa berhenti.


Tidak ada lagi suara di sekitarnya.


Tidak ada lagi suara langkah orang-orang yang berlalu di koridor.


Yang tersisa hanya kalimat itu.


[Suami Ibu telah meninggal dunia.]


Rania berdiri diam.


Matanya menatap kosong ke depan.


Kemudian tangannya perlahan turun ke perutnya.


Di sana masih ada anak mereka.


Anak yang bahkan belum sempat mengenal ayahnya.


Air mata Rania mengalir semakin deras.


“Tidak…”


Tubuhnya akhirnya kehilangan kekuatan.


Ia terduduk sambil memeluk perutnya.


“Anak ku belum sempat bertemu Ayahnya…”


Tangisnya pecah.


Pagi tadi Arman masih berada di rumah.


Pagi tadi mereka masih membicarakan nama bayi.


Pagi tadi Arman masih meminta Rania menjaga anak mereka.


Dan sekarang…


Arman sudah tidak ada.


Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Untuk pertama kalinya sejak mengetahui dirinya hamil, ia benar-benar merasa takut menghadapi masa depan.


Ia tidak tahu bagaimana caranya menjalani semuanya seorang diri.


Tidak tahu bagaimana membesarkan seorang anak tanpa suaminya.


Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada anak itu suatu hari nanti bahwa ayahnya telah pergi sebelum ia sempat mengenalnya.


Namun di tengah tangisnya, Rania kembali mengusap perutnya.


Ada kehidupan kecil yang masih bergantung padanya.


Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rania menyadari satu kenyataan yang begitu berat.


Mulai hari ini, ia bukan hanya seorang istri yang kehilangan suaminya.


Ia adalah seorang ibu yang harus belajar bertahan seorang diri.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab