Ibu, Maaf Aku Terlambat Menghargaimu

Bab 1 dari 10

Bab 2
100%

Bab 1: Tiga bulan

Pagi itu terasa begitu tenang di rumah kecil milik Rania dan Arman. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, jatuh perlahan ke lantai kamar yang sederhana, sementara suara kendaraan dari jalan terdengar samar dari kejauhan.


Rania duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi sebuah benda kecil di tangannya. Sejak beberapa hari terakhir, ia masih sering merasa tidak percaya bahwa di dalam tubuhnya sedang tumbuh kehidupan baru.


Tiga bulan.


Usia kandungannya baru tiga bulan, tetapi rasanya seperti ada sesuatu yang telah berubah dalam hidupnya sejak pertama kali mengetahui kabar itu.


Rania tersenyum kecil sambil mengusap perutnya.


“Sudah tiga bulan, ya, Nak?”


Meskipun belum ada perubahan besar pada perutnya, Rania tetap merasa ada sesuatu yang berbeda. Ia menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan banyak hal dan mulai memperhatikan makanan yang dikonsumsinya.


Pintu kamar terbuka.


Arman muncul sambil membawa dua gelas minuman hangat. Ia meletakkan salah satunya di meja kecil dekat tempat tidur sebelum duduk di samping Rania.


“Jangan terlalu lama duduk di lantai,” katanya.


Rania menoleh. “Aku cuma sebentar.”


“Aku tahu. Tapi sekarang kamu harus lebih hati-hati.”


Rania tersenyum geli. “Sejak aku hamil, kamu jadi cerewet.”


“Bukan cerewet.”


Arman menunjuk perut Rania.


“Sekarang aku punya dua orang yang harus aku jaga.”


Rania tertawa kecil.


“Padahal anaknya masih sebesar apa, sih?”


“Tidak peduli sebesar apa. Tetap anak kita.”


Senyum Rania perlahan melebar.


Ada sesuatu dalam cara Arman mengucapkan kalimat itu yang membuat hatinya hangat.


Anak kita.


Dua kata sederhana yang membuat Rania mulai membayangkan banyak hal.


Ia membayangkan rumah mereka yang mungkin akan menjadi lebih ramai. Akan ada suara tangisan bayi, mainan kecil berserakan di ruang tengah, pakaian mungil yang dijemur di halaman, dan seseorang yang mungkin akan memanggilnya dengan sebutan ibu untuk pertama kalinya.


“Mas.”


“Hm?”


“Menurutmu nanti anak kita laki-laki atau perempuan?”


Arman berpikir sejenak dengan wajah serius.


“Perempuan.”


Rania mengangkat alis. “Kenapa?”


“Entahlah. Aku merasa begitu.”


“Kalau ternyata laki-laki?”


“Ya sudah.”


Arman tersenyum.


“Yang penting sehat.”


Rania mengangguk.


“Iya. Itu juga yang paling aku inginkan.”


Mereka terdiam sejenak.


Tidak ada percakapan besar pagi itu. Hanya dua orang yang sedang membicarakan kehidupan kecil yang bahkan belum mereka kenal.


Namun bagi Rania, pagi sederhana itu terasa begitu berharga.


Setelah sarapan, Arman bersiap berangkat bekerja. Rania berdiri di dekat pintu sambil memperhatikannya mengenakan sepatu.


“Pulangnya jangan terlalu malam,” kata Rania.


Arman mengangguk. “Iya.”


“Dan jangan lupa makan.”


“Siap.”


Rania menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Kamu benar-benar akan membantu aku setelah bayi ini lahir, kan?”


Arman langsung menoleh.


“Kenapa bertanya begitu?”


“Tidak tahu. Aku cuma…”


Rania berhenti sebentar.


“Kadang aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik.”


Arman mendekatinya.


“Kamu tidak perlu menjadi ibu yang sempurna.”


Rania menatapnya.


“Cukup jadi Rania yang menyayangi anak kita. Itu sudah lebih dari cukup.”


Kalimat sederhana itu membuat Rania tersenyum.


Arman kemudian menyentuh kepalanya dengan lembut.


“Jangan terlalu banyak berpikir. Istirahat kalau lelah.”


Rania mengangguk.


“Baik.”


Arman membuka pintu.


Sebelum keluar, ia kembali menoleh.


“Rania.”


“Iya?”


“Jaga anak kita.”


Rania tersenyum.


“Kamu juga jaga diri.”


Arman mengangguk dan akhirnya pergi.


Rania berdiri di depan pintu sampai suaminya menghilang dari pandangan. Setelah itu, ia kembali masuk ke rumah dan mulai membereskan beberapa barang.


Hari berjalan seperti biasanya.


Tidak ada yang istimewa.


Rania memasak makan siang sederhana, mencuci pakaian, lalu beristirahat di kamar sambil membaca beberapa informasi tentang kehamilan.


Sesekali ia tersenyum sendiri.


Ia bahkan mulai memikirkan nama untuk bayinya.


Namun belum ada satu pun yang benar-benar cocok.


Sore perlahan berubah menjadi malam.


Rania selesai menyiapkan makan malam dan duduk di ruang tengah. Dua piring sudah tersedia di atas meja.


Satu untuk dirinya.


Satu lagi untuk Arman.


Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam.


Rania melihat ke arah pintu.


Belum ada suara langkah.


Ia mengambil ponselnya dan melihat layar.


Tidak ada pesan dari Arman.


“Masih kerja, mungkin,” gumamnya.


Rania mencoba tidak khawatir.


Ia menunggu beberapa saat.


Pukul delapan.


Rania kembali melihat jam.


Pukul delapan lewat tiga puluh.


Makanan di atas meja mulai dingin.


Rania akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan.


[Mas, pulangnya jam berapa?]


Pesan itu terkirim.


Rania meletakkan ponselnya di meja, lalu bersandar di sofa.


Ia masih berusaha tersenyum.


Mungkin Arman sedang sibuk.


Mungkin sebentar lagi pintu rumah akan terbuka.


Mungkin beberapa menit lagi ia akan mendengar suara suaminya berkata seperti biasa—


“Maaf, aku pulang terlambat.”


Rania tidak tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya, penantian kecilnya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.


Ia hanya tahu satu hal.


Arman belum pulang.


Dan Rania masih menunggu.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab