Bab 2 dari 20
Tonton Iklan utk Membaca Bab Ini
Karya ini bermonetisasi Gratis + Iklan -- tonton iklan singkat, penulis dapat penghasilan, & Anda bisa membaca bab ini (tanpa memotong koin Anda).
Buka Lewat Aplikasi MS Stories
Untuk sementara, bab ini (bermonetisasi Gratis + Iklan) hanya bisa dibaca lewat aplikasi Android MS Stories -- bab-bab gratis sebelumnya tetap bisa dibaca lewat browser biasa.
Unduh AplikasiArga duduk termenung di bangku ruang tunggu peserta Festival Musik Cinta. Jemarinya saling meremas, sementara garis-garis wajahnya menegang, mencerminkan kecemasan yang berusaha ia sembunyikan. Pandangannya sesekali tertumbuk pada peserta yang baru saja keluar dari panggung setelah mendapat komentar dari para juri. Beberapa tampak lega, sementara yang lain menunduk kecewa.
Matanya kemudian bergerak ke arah panggung, di mana cahaya lampu sorot bersinar terang, menyinari sound system besar yang menggetarkan ruangan. Musik semarak menggema—gitar berdentang, melodi instrumental mengalun harmonis, membangun atmosfer yang menggetarkan dada.
Bisakah aku menang kali ini?
Orang-orang mengenalnya sebagai Arga Si Dewa Gitar—julukan yang ia dapatkan karena kepiawaiannya dalam menaklukkan alat musik berdawai enam itu. Ia telah menjuarai puluhan kompetisi musik di berbagai kategori, dari jazz, blues, pop, hingga rock dan metal. Bukan hanya kalangan musisi yang mengenal bakatnya, tetapi juga banyak perempuan yang diam-diam mengaguminya.
Kehebatannya telah membuat namanya tersiar di seluruh Kota Bandung. Para gitaris senior tak jarang dibuat kagum oleh kemampuannya yang nyaris tanpa cela. Setiap kali ia naik ke panggung dengan kesungguhan penuh, ia membawa sesuatu yang khas—gaya bermain yang sulit ditiru dan teknik yang memukau. Tak sekali pun juri memintanya berhenti saat musiknya menggema. Mereka tahu betul bagaimana membedakan nada yang sumbang dengan melodi yang indah dan beraturan.
Namun, di balik sosoknya yang dielu-elukan itu, Arga bukanlah putra asli Bandung. Nama lengkapnya, Argadana Prawirya, lahir di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Namun, pekerjaan ayahnya sebagai pengusaha material bangunan yang memiliki banyak cabang, dengan kantor pusat di Bandung, mengharuskannya pindah ke kota itu sejak duduk di bangku kelas satu SMP. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti orang tuanya, mengubur kerinduannya pada kampung halaman, dan menjalani kehidupan barunya di kota yang dingin ini.
Kini, di usia 15 tahun, Arga telah mengoleksi 20 gelar juara dari berbagai kompetisi musik, baik berskala kecil maupun besar. Namun, Festival Musik Cinta adalah panggung terbesar yang pernah ia hadapi. Kompetisi ini diselenggarakan oleh komunitas musik terbesar di Bandung dan berafiliasi dengan puluhan produser serta beberapa industri besar sebagai sponsor.
Ambisinya melonjak tinggi begitu mendengar festival ini akan segera digelar. Sejak saat itu, ia kembali mengasah kemampuannya—meski banyak yang sudah menganggapnya sebagai seorang maestro muda. Ia menciptakan instrumental yang menurutnya adalah karya terbaik yang pernah ia buat.
Dan malam ini, di malam Minggu pertama sejak ulang tahunnya yang bertepatan dengan tahun baru, Arga bertekad mempersembahkan sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk ibunya, Santika. Hadiah kemenangan yang ingin ia serahkan dengan bangga, sebagai bukti bahwa kerja keras dan bakatnya tak pernah sia-sia.
Festival kali ini terasa jauh berbeda dibandingkan puluhan kompetisi yang pernah Arga ikuti sebelumnya. Bukan karena persaingan yang lebih ketat atau panggung yang lebih megah, melainkan karena satu alasan yang lebih personal—kehadiran ibunya.
Santika, ibunya, tak pernah hadir di setiap kompetisi yang ia menangkan. Selalu ada alasan yang menghalangi, entah pekerjaan atau urusan rumah tangga yang mendesak. Tapi malam ini, Arga ingin menghadirkan sosok paling berjasa dalam hidupnya di antara sorot lampu panggung dan gemuruh tepuk tangan penonton. Ia ingin ibunya melihat sendiri bagaimana jemarinya menari di atas senar, bagaimana setiap nada yang ia petik adalah ungkapan cinta yang selama ini tak pernah terucap dengan kata-kata.
Namun, sekitar lima belas menit sebelum ia naik ke panggung, sosok yang paling ia tunggu tak juga muncul. Keresahan mulai menyusup ke dadanya. Berulang kali tangannya merogoh saku celana jins ketat yang ia kenakan, mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.
"Mama di mana? Kenapa lama banget?! Cepetan, Ma. Udah mau giliran Arga, nih."
Pesan terkirim. Dua centang biru muncul beberapa detik kemudian. Namun, tidak ada balasan.
Arga mencoba berpikir positif. Mungkin Mama sedang di perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai. Tapi seiring waktu berjalan, kegelisahan kian menguasai pikirannya.
Ia menghela napas, lalu membuka guitar case di sampingnya. Jari-jarinya dengan lincah mengambil gitar kesayangan, lalu mulai memetik senar, mencoba mengusir kegugupan yang semakin menumpuk di dadanya. Bukan latihan serius, hanya pemanasan kecil untuk melemaskan jemari. Tapi tetap saja, hatinya tidak tenang.
Seorang peserta baru saja turun dari panggung dengan wajah penuh harap. Arga menyadari, sebentar lagi namanya akan dipanggil. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa ada yang kurang. Ia bisa saja tampil tanpa ibunya di antara penonton, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda.
Tiba-tiba, ponselnya berdering panjang. Arga buru-buru menatap layar—nama yang ia nantikan akhirnya muncul.
“Halo, Arga.” Suara ibunya terdengar dari seberang. “Maaf, mama nggak bisa balas pesan kamu tadi. Mama terjebak macet, tapi sekarang sudah dalam perjalanan. Semoga mama masih sempat sampai sebelum kamu tampil, ya.”
Arga menghela napas panjang. “Hmm. Arga tunggu, Ma.”
Sebelum ia sempat berkata lebih banyak, telepon terputus. Ia menelan ludah, matanya kembali menatap panggung yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Ia tahu, bukan tanpa alasan ia begitu menginginkan kehadiran ibunya malam ini. Bukan sekadar untuk menenangkan hati atau menguatkan mental. Bukan hanya untuk membuktikan bahwa ia pantas berada di panggung sebesar ini. Namun, karena malam ini, ia akan membawakan instrumental yang ia ciptakan sendiri. Sebuah karya yang lahir dari perasaan yang selama ini terpendam. Dan itu—hanya untuk ibunya.
Santika adalah seorang akuntan profesional di sebuah perusahaan besar, dan kesibukannya nyaris tak mengenal batas. Sejak pagi ia tenggelam dalam angka dan laporan keuangan, sementara Arga sibuk dengan sekolahnya. Hari demi hari berlalu tanpa banyak interaksi di antara mereka. Santika selalu pulang larut malam, terlalu lelah bahkan sekadar untuk menyapa putranya. Percakapan mereka lebih sering terjadi lewat pesan singkat daripada tatap muka.
Itulah sebabnya Arga begitu ngotot ingin ibunya hadir di festival ini.
Sejak berminggu-minggu lalu, ia sudah berkali-kali mengingatkan melalui WhatsApp, menekankan bahwa kali ini tidak ada alasan untuk absen. Ini bukan sekadar festival biasa—ini adalah momen yang ingin ia bagi dengan ibunya, kesempatan langka di mana ia bisa mempersembahkan sesuatu yang lahir dari hatinya.
Malam ini, Santika akhirnya berhasil mendapatkan izin beberapa jam dari kantornya. Padahal, situasi perusahaan sedang tidak stabil. Laporan keuangan dalam kondisi kritis, dan para petinggi menaruh harapan besar pada kepiawaian Santika untuk menyelamatkan mereka dari krisis. Bosnya bahkan meminta kesediaannya bekerja lebih keras, lebih lama, dengan janji bahwa jika perusahaan berhasil melewati masa sulit ini, keuntungan besar menanti. Namun, malam ini berbeda. Santika memilih pergi. Meninggalkan sejenak angka-angka yang selama ini mengikatnya, demi putranya yang mungkin diam-diam telah lama menunggu.
Sementara itu, di ruang tunggu festival, Arga kembali mendengkus gelisah. Wajahnya penuh kecemasan. Ia menoleh ke arah pintu masuk, berharap menemukan sosok yang ia nanti-nantikan. Tapi tak ada siapa pun.
Tersisa satu peserta lagi sebelum gilirannya.
Arga mengepalkan tangan. “Aduh, sebentar lagi giliranku. Mama belum juga datang. Ke mana, sih?! Sial!” gerutunya, tangannya refleks membentur bangku stainless yang didudukinya.
Matanya kembali jatuh pada gitar Fender putih di pangkuannya—satu-satunya benda yang selalu setia menemani. Jemarinya menyentuh bodinya yang halus, dan seketika pikirannya melayang ke masa-masa bahagia yang terasa seperti kehidupan lain.
Kelas satu hingga kelas dua SMP adalah masa-masa yang dulu ia sebut sebagai kenangan yang hilang. Masa di mana ayah dan ibunya selalu ada. Mereka sering menghabiskan akhir pekan bersama, mengajari Arga berbagai mata pelajaran, bahkan merencanakan piknik kecil di luar kota. Namun, segalanya berubah begitu saja.
Kini, ayahnya semakin tenggelam dalam urusan memperluas bisnis, sementara ibunya terseret dalam tanggung jawab yang terus bertambah. Seolah-olah waktu mereka habis untuk dunia, tapi tidak untuknya.
Padahal, jika mau, ibunya bisa saja berhenti bekerja. Dengan bisnis ayahnya yang sukses, hidup mereka sudah lebih dari cukup. Tapi tentu saja, tidak sesederhana itu.
Arga mendesah pelan. Ia tahu, ada alasan lain yang lebih dalam, sesuatu yang mungkin belum ia mengerti sepenuhnya. Namun, yang ia tahu pasti—malam ini, ia ingin ibunya ada di sana. Bersama dengannya.
Arga tidak pernah benar-benar mengerti mengapa ibunya begitu keras kepala mempertahankan pekerjaannya. Jika ayahnya mampu mencukupi kebutuhan keluarga dengan bisnisnya yang terus berkembang, mengapa Santika tetap memilih bekerja?
Yang ia tahu, itu seperti kompetisi diam-diam antara dua orang yang sama-sama tidak mau mengalah. Seolah mereka ingin membuktikan siapa yang lebih gigih dalam menghidupi putra semata wayang mereka. Namun bagi Arga, semua itu terasa konyol. Ia tidak butuh pembuktian. Ia hanya ingin kehadiran.
Seiring waktu berlalu, Arga mulai sadar bahwa masalah antara kedua orang tuanya tidak sesederhana yang ia pikirkan. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan—sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan kepadanya. Namun, satu hal yang jelas: gitar Fender putih yang kini ada di tangannya adalah pemberian ibunya.
Hari itu masih terpatri jelas dalam ingatannya. Santika membelikannya gitar itu tanpa banyak bicara, hanya tersenyum tipis sembari mengusap kepalanya. Sejak saat itu, hidup Arga berubah. Musik menjadi pelariannya, tempat di mana ia bisa menuangkan segala kebosanan, kesepian, dan kemarahan yang tak tersampaikan.
Gitar itu bukan sekadar alat musik. Itu adalah jembatan menuju dunia yang lebih berwarna, dunia yang memberinya makna di tengah kehampaan. Namun, mengenang semua itu kini justru membuat hatinya semakin masam.
Dulu, ia punya segalanya—ayah, ibu, dan kebersamaan. Kini, ia hanya punya kenangan. Meski demikian, Arga tahu, berlarut dalam perasaan bukanlah solusi. Yang jauh lebih penting adalah membuktikan sesuatu kepada ibunya. Membuktikan bahwa tahun-tahun yang ia lewati tidak sia-sia. Bahwa gitar pemberiannya telah membuka jalan baru yang mengubah hidupnya.
Tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba suara lantang dari atas panggung membuyarkan lamunannya.
“Peserta selanjutnya adalah gitaris berbakat yang sudah kita kenal! Namanya semakin naik daun setelah memenangkan banyak kompetisi! Dan inilah dia, kita sambut … Argadana Prawirya!”
Seketika itu, Arga mengembuskan napas panjang. Ibunya belum datang. Tapi mau tak mau, ia harus tetap naik ke atas panggung.
Kesempatan ini terlalu berharga untuk dibiarkan hilang hanya karena ibunya tidak di sana. Lagi pula, festival ini disiarkan secara langsung di akun YouTube Musik Cinta. Jika ibunya mau, ia bisa menontonnya nanti.
“Ya sudah, apa boleh buat.”
Dengan berat hati, Arga akhirnya bangkit. Langkahnya mantap, meski ada kekecewaan yang diam-diam mengendap di dadanya.
Ia naik ke panggung, berdiri di bawah sorotan lampu terang. Tiga orang juri duduk di sisi panggung, memperhatikannya dengan saksama. Suara gemuruh penonton terdengar di kejauhan, tapi Arga hanya mendengar debar jantungnya sendiri. Kini, hanya ada dia, gitar, dan panggung ini. Dan, ibunya—entah di mana.
Para juri di depannya bukanlah orang sembarangan. Dua di antaranya adalah gitaris jebolan festival musik terbesar di Yogyakarta, sementara yang satu lagi adalah direktur dari studio musik ternama di Bandung. Dengan latar belakang mereka yang begitu mengesankan, tak heran jika festival ini berhasil menarik ribuan penonton, bukan hanya dari Bandung, tetapi juga dari kota-kota lain.
Arga mengedarkan pandangannya ke seluruh arena. Lautan manusia memenuhi tempat itu, sebagian besar menatapnya dengan penuh ekspektasi. Beberapa orang yang sudah mengenalnya tampak menunggu dengan antusias, sementara sisanya, yang tidak tahu siapa dirinya, hanya memandang dengan skeptis—mungkin meragukan apakah dia benar-benar bisa memberikan penampilan yang layak di panggung sebesar ini. Namun, itu bukan sesuatu yang baru baginya.
Orang-orang sering menghakimi dari penampilan. Kacamata dan wajah polosnya kerap membuatnya dicap sebagai anak cupu, kutu buku yang tidak mungkin ahli dalam bermusik. Padahal, meskipun ia gemar membaca, bukunya pun tak jauh dari teori musik dan kumpulan not balok.
Arga mendekatkan mikrofon ke mulutnya dan bersiap memperkenalkan diri.
"Nama saya—"
Seketika, suara dengung panjang keluar dari speaker, membuat telinga semua orang terganggu. Arga refleks menjauhkan mikrofon dari gitar yang tersampir di tubuhnya.
“Maaf, maaf,” katanya sambil membetulkan posisi.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia kembali berbicara, kali ini dengan suara lebih stabil.
“Nama saya Argadana Prawirya. Malam ini, saya akan memainkan sebuah instrumental berjudul Kenangan yang Hilang, ciptaan saya sendiri. Semoga kalian semua menikmati dan terhibur.”
Ia menyesuaikan volume gitarnya, lalu menginjak salah satu pedal efek di lantai, menggantinya ke mode clean.
Dalam hati, Arga tidak bisa memungkiri kegugupannya. Ini pertama kalinya ia berdiri di hadapan ribuan pasang mata yang menunggu aksinya. Ia menarik napas dalam, lalu mulai memetik senar.
Nada pertama mengalun dari senar keempat, menggema ke seluruh arena, menyapu kesenyapan yang melingkupi panggung. Setiap nada bersatu dalam harmoni yang manis, membentuk irama yang sejalan dengan tema festival: cinta.
Sorot lampu membingkai sosoknya dalam kilauan keemasan. Beberapa penonton mulai mencondongkan tubuh mereka, tertarik oleh melodi yang mengalun.
Ketukan drum standar menjadi latar yang memperkuat atmosfer. Sesekali, Arga menambahkan lengkingan panjang—seperti suara kuda yang berderap di medan perang—membawa pendengar ke dalam dinamika emosi yang ia ciptakan. Ada bagian yang melaju cepat, nyaris kacau, tetapi tetap berpadu sempurna dengan setiap nada yang ia tekan di kolom-kolom gitar. Dan di sanalah ia menemukan ketenangan sejatinya.
Bukan lagi ketenangan pura-pura yang ia ciptakan sebelum naik ke panggung, tetapi ketenangan yang datang dari dalam—sebuah keyakinan bahwa ini adalah tempatnya, bahwa inilah yang seharusnya ia lakukan.
Arga membuka matanya perlahan, membiarkan pandangannya kembali ke dunia nyata. Dan saat itulah ia melihatnya. Di antara lautan penonton, berdiri seseorang yang begitu ia nantikan. Santika Mira. Ibunya.
Arga tercekat. Jari-jarinya terus bergerak di atas senar, tetapi seluruh emosinya bergejolak tanpa bisa ia kendalikan. Tanpa disadari, air mata mulai mengalir di pipinya.
Kenangan lama berhamburan keluar dari sudut-sudut pikirannya, berputar-putar bersama alunan nada yang ia ciptakan. Semua yang pernah ia simpan dalam diam kini menyeruak, melayang-layang di antara warna-warni lampu panggung dan alunan gitar yang terus bercerita.
Malam itu, Arga tidak hanya bermain gitar. Ia menyampaikan segala sesuatu yang selama ini tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Instrumental ini aku persembahkan untukmu, Ma. Aku harap Mama mendengarkan perasaan yang ingin aku sampaikan.
Dan begitulah saat Dewa Gitar mulai menari di atas senarnya, setiap nada mengalun sempurna, tanpa cela. Tidak ada satu pun yang sumbang.
Para juri terpukau. Penonton terdiam, bukan karena kebosanan, tetapi karena mereka terbawa dalam lamunan masing-masing. Setiap not yang dimainkan Arga seolah menggali kenangan yang tersembunyi di sudut hati mereka.
Sepuluh menit berlalu tanpa ada satu pun juri yang menghentikannya. Sebuah tanda tak terbantahkan bahwa penampilannya berhasil. Saat petikan terakhir menggema, Arga menatap lautan penonton. Tatapan mereka—kagum, puas, dan berharap lebih—membuatnya merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Namun, di balik kepuasan itu, ada satu hal yang masih ia tunggu. Ibunya.
Di belakang panggung, ia akhirnya melihat sosok yang selama ini menjadi sumber segala harapannya—Santika Mira. Tapi bukan kebanggaan atau kebahagiaan yang pertama kali ia tangkap di wajah wanita itu. Hanya ekspresi lelah dan senyum tipis yang terasa dibuat-buat.
“Arga, bagus, Sayang. Sekarang mama harus balik ke kantor. Masih banyak kerjaan yang belum mama selesaikan,” kata Santika, suaranya terdengar datar.
Arga menatapnya tajam. Ia kecewa.
Ibunya memang datang, tetapi terlambat. Dan lebih dari itu, Santika tidak benar-benar hadir dalam arti sesungguhnya. Jika dia benar-benar peduli, dia pasti ada sejak awal. Dia pasti mendengarkan setiap not yang Arga mainkan. Dia pasti bisa memahami betapa dalam perasaan yang telah ia tuangkan dalam musiknya. Tapi nyatanya?
“Oh, gitu ….” Suara Arga melemah. “Ya, kalau gitu nggak apa-apa.”
Santika melangkah lebih dekat, berniat mengusap kepala putranya seperti biasa. Namun, sebelum tangannya menyentuh, Arga menepisnya.
“Nggak perlu.” Suaranya terdengar dingin. Ia berbalik, tak ingin melihat wajah ibunya lagi. “Balik aja ke kantor. Mama sedang buru-buru, kan? Ya, udah. Sana balik.”
Hening. Arga berharap ibunya akan mengatakan sesuatu. Apa pun. Setidaknya berusaha memahami perasaan yang ia pendam. Namun, wanita itu hanya menghela napas pendek, lalu melangkah pergi. Tanpa kata tambahan. Tanpa menoleh sekali pun.
“Mama pergi.”
Itu saja. Arga menggigit bibir, menahan getaran yang mulai menguasai tubuhnya. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya pahit. Tangannya mengepal erat, hampir gemetar karena emosi yang membuncah.
Malam yang seharusnya menjadi kenangan indah justru berubah menjadi luka baru. Sebuah gagasan tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
Kalau begini … buat apa lagi aku main musik?
Matanya menatap kosong ke lantai. "Aku nggak bakalan main musik lagi."
Dan kali ini, ia bersungguh-sungguh.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya