Bab 1 dari 20
Tonton Iklan utk Membaca Bab Ini
Karya ini bermonetisasi Gratis + Iklan -- tonton iklan singkat, penulis dapat penghasilan, & Anda bisa membaca bab ini (tanpa memotong koin Anda).
Buka Lewat Aplikasi MS Stories
Untuk sementara, bab ini (bermonetisasi Gratis + Iklan) hanya bisa dibaca lewat aplikasi Android MS Stories -- bab-bab gratis sebelumnya tetap bisa dibaca lewat browser biasa.
Unduh Aplikasi“Itu posisi tangan kamu salah. Gimana, sih? Padahal aku udah sering ngajarin kamu waktu di rumah aku,” kata Arga. Dia mendekati Erlina yang duduk di kursi sambil mencoba belajar bermain gitar.
“Namanya juga lagi belajar. Lo itu, ya. Masa gue disamain sama lo yang udah jago banget. Kalau ngajarin orang itu yang sabar. Dasar, Bunglon!” Erlina memberengut.
Arga mendekati cewek itu, lalu berdiri di belakangnya. Dia membenarkan posisi tangan kanan Erlina, menggeser tepat di lekuk badan gitar. “Ini baru bener. Kalau tangan kamu posisinya kayak gini, jadi lebih gampang kalau gerak,” kata Arga. “Dan satu lagi.”
Kemudian, dia menuntun tangan cewek itu ke setang gitar. Jari-jari mungil Erlina diletakkan di beberapa senar. Jari telunjuk menekan senar nomor lima dari bawah di kolom kedua, jari tengah menekan senar nomor enam di kolom ketiga, dan jari manis menekan senar nomor satu di kolom ketiga.
“Nah, itu baru namanya chord G. Udah ngerti, kan?”
Pada saat Erlina menoleh ke kanan, sorot mereka bertemu satu sama lain. Arga membelalak, tetapi tidak dengan cewek itu, seolah-olah menerima setiap getaran yang datang. Arga menelan ludah kasar. Dia membeku dalam makna berbeda. Bahkan suhu ruangan klub musik itu kalah dingin ketika dia menatap wajah Erlina. Dia memandangi bibir merekah tampak glowing itu dengan lamat. Hingga tak lama kemudian, Erlina menyeringai.
“Hayo! Lo pasti lagi ngayalin yang aneh-aneh sama gue, ya?! Ngaku, deh, lo. Hayo! Dasar, Bunglon!” kata Erlina yang seketika itu membuat Arga tersentak kaget. Sontak remaja itu menjauh.
“S-siapa juga yang ngayal aneh-aneh?! Ngawur kamu, ah! Aku c-cuma lagi mikirin tugas …. Yah—tugas matematika tadi. Makanya jadi langsung diem,” kata Arga, buru-buru.
Tawa Erlina membahana, sedangkan Arga tersenyum getir. Cewek itu selalu saja bisa menggodanya di banyak kesempatan. Tak lama kemudian, Arga mengembuskan napas panjang. Pikiran menerawang menembus waktu-waktu yang telah lalu. Dia tersenyum lebar pada saat kenangan mendarat di satu waktu ketika awal kisah kebersamaan mereka dimulai. Itu adalah jejak memori, dan beberapa harapan yang telah menjadi kenyataan. Tak akan pernah tanggal dari ingatan. Kendati demikian, beberapa harapan lainnya belum mendapat kepastian. Dan Arga resah dengan hal itu. Bahkan setiap malam, tidur pun rasanya ia tak nyenyak. Betapa ia memikirkan senyuman Erlina yang merekah, selalu menenangkan, sekaligus mencemaskan.
“Tuh ‘kan lo senyum-senyum sendiri. Amit-amit, ih!” kata Erlina sambil menutupi tubuh bagian atas dengan kedua tangan.
Garis bibir remaja itu bergerak melengkung ke atas. Garis-garis wajah mengendur.
“Ya udah. Kamu bener,” kata Arga, pasrah. “Lagian, kamu belum ngasih jawaban apa-apa ke aku soal … surat-cinta-aku-waktu-itu.”
Mendengar suara Arga yang terbata-bata, Erlina tertawa membahana. Namun entah mengapa, dia justru tidak merespons ucapan terakhir remaja itu yang kedengarannya seperti penagih utang sedang dalam masa pelatihan.
“Kok lo pasrah banget, sih? Tumben. Ngelawan, dong. Jadinya ‘kan nggak seru lagi.”
“Karena aku udah capek.”
“Istirahat aja kalau capek. Kan ada kursi di situ.”
“Terserah!”
Arga menjerit sambil menggaruk-garuk kepala karena kekesalan yang berada di puncak tertinggi.
“Gue bakalan ngasih lo jawaban yang jelas kalau lo udah ngelakuin syarat yang gue minta. Lo inget, kan?”
Arga mendengkus kasar sambil menunduk lesu.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya