Ikhlas Tersakiti Karena Menyakiti
Bab 2 dari 8
Ada satu hal yang mungkin lebih sulit daripada menerima bahwa kita pernah disakiti.
Menyadari bahwa kita pernah menjadi alasan seseorang terluka.
Kesadaran itu tidak selalu datang ketika semuanya masih terjadi. Kadang justru muncul setelah hubungan itu selesai, setelah jarak tercipta, atau setelah seseorang yang dulu begitu dekat tidak lagi berada di tempat yang sama.
Barulah kita mulai mengingat kembali hal-hal kecil.
Perkataan yang dulu kita anggap biasa.
Sikap yang menurut kita tidak seberapa.
Keputusan yang saat itu terasa paling benar.
Dan mungkin, dari sudut pandang kita, semuanya memang punya alasan.
Kita sedang lelah.
Kita sedang kecewa.
Kita sedang berusaha melindungi diri.
Kita tidak bermaksud seperti itu.
Kita tidak tahu kalau ternyata hal tersebut begitu menyakitkan.
Namun, niat baik tidak selalu menghapus dampak yang buruk.
Seseorang bisa saja tidak bermaksud melukai, tetapi luka tetap bisa terjadi.
Dan terkadang, itulah bagian paling sulit untuk diterima.
Karena kita ingin dipercaya sebagai seseorang yang memiliki niat baik, sementara orang lain mungkin hanya mengingat bagaimana rasanya diperlakukan oleh kita.
Kita sering berharap orang lain memahami alasan di balik tindakan kita.
Tetapi ketika seseorang melakukan hal yang sama kepada kita, kita mungkin lebih sibuk merasakan sakitnya daripada mencoba memahami alasannya.
Bukankah itu manusiawi?
Kita ingin dimengerti sebelum belajar memahami.
Ingin dimaafkan sebelum benar-benar mengakui kesalahan.
Ingin didengar ketika terluka, tetapi terkadang lupa memberikan ruang ketika orang lain sedang terluka karena kita.
Bukan karena kita jahat.
Mungkin karena kita juga sedang belajar.
Kita semua membawa cara masing-masing dalam menghadapi masalah. Ada yang memilih diam, ada yang memilih pergi, ada yang berbicara terlalu banyak ketika emosi, dan ada yang justru mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.
Tidak ada yang benar-benar lahir dengan kemampuan untuk memahami semua hati.
Kita belajar dari pengalaman.
Dari kesalahan.
Dari penyesalan.
Dan terkadang, dari seseorang yang akhirnya memilih pergi.
Ada orang yang baru kita sadari pentingnya setelah kehilangan.
Ada yang baru kita pahami perasaannya setelah kita berada di posisi yang sama.
Dan ada pula yang baru kita sadari telah kita sakiti setelah semuanya sudah terlalu jauh untuk diperbaiki.
Penyesalan memang tidak selalu datang untuk mengembalikan sesuatu.
Kadang, ia datang hanya untuk mengajarkan kita agar tidak mengulanginya kepada orang lain.
Karena meminta maaf bukan selalu tentang mendapatkan kesempatan kedua.
Terkadang, meminta maaf adalah tentang mengakui bahwa seseorang memang berhak terluka atas apa yang pernah kita lakukan.
Tanpa membela diri.
Tanpa berkata, “Tapi aku punya alasan.”
Tanpa menuntut mereka untuk segera memahami.
Sebab alasan mungkin menjelaskan mengapa kita melakukan sesuatu.
Tetapi alasan tidak selalu menghapus akibatnya.
Dan mungkin, bentuk tanggung jawab yang paling sederhana adalah berani mengatakan:
“Aku tahu aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku sadar bahwa aku tetap menyakitimu.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun, mengucapkannya dengan sungguh-sungguh membutuhkan keberanian.
Karena kita harus menurunkan ego.
Harus menerima bahwa dalam cerita seseorang, mungkin kita bukanlah orang baik yang selama ini kita bayangkan.
Dan itu tidak selalu berarti kita adalah orang jahat.
Kita hanya manusia.
Manusia yang pernah salah.
Manusia yang pernah terlalu egois.
Manusia yang pernah memilih diri sendiri dengan cara yang salah.
Manusia yang masih belajar.
Begitu pula orang-orang yang pernah menyakiti kita.
Mungkin mereka juga sedang belajar.
Bukan berarti kita harus membenarkan apa yang mereka lakukan.
Bukan berarti kita harus membiarkan diri kita terus terluka.
Tetapi memahami bahwa seseorang pernah salah tidak harus membuat kita membenci seluruh dirinya.
Sama seperti kita berharap kesalahan kita tidak menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan diri kita.
Pada akhirnya, setiap hubungan meninggalkan dua kemungkinan:
Kita bisa menjadi seseorang yang membuat orang lain percaya bahwa dunia masih memiliki tempat yang aman.
Atau kita bisa menjadi seseorang yang membuat mereka membutuhkan waktu lama untuk percaya lagi.
Dan mungkin kita pernah menjadi keduanya.
Kepada orang yang pernah kita sakiti, semoga suatu hari kita cukup berani untuk mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran.
Kepada orang yang pernah menyakiti kita, semoga suatu hari kita cukup lapang untuk menerima bahwa luka itu pernah ada tanpa membiarkannya mengubah seluruh diri kita.
Sebab hidup akan terus mempertemukan kita dengan orang-orang baru.
Dan kita tidak pernah tahu, apakah pertemuan berikutnya akan menjadi kesempatan untuk mengulangi kesalahan yang sama— atau kesempatan untuk membuktikan bahwa kita sudah belajar.
Mungkin, tumbuh bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah menyakiti siapa pun.
Mungkin tumbuh adalah ketika kita mulai sadar bahwa hati orang lain juga memiliki batas.
Dan sejak saat itu, kita mulai belajar untuk lebih berhati-hati dengan apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita meninggalkan seseorang.
Karena suatu hari nanti, ketika seseorang mengingat kita, semoga yang tersisa bukan hanya luka yang pernah kita tinggalkan.
Semoga ada juga pelajaran tentang bagaimana kita akhirnya belajar untuk tidak mengulanginya lagi.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya