Sirah Cinta

Bab 2 dari 4

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Awal Pertemuan

Malam itu Malik pulang lebih lambat daripada biasanya. Pekerjaan yang seharusnya selesai sebelum sore ternyata membuatnya bertahan di kantor hingga hampir pukul sembilan, dan ketika akhirnya ia diperbolehkan meninggalkan gedung, seorang atasannya meminta agar mobil kantor dibawanya pulang karena esok pagi ia harus menjalankan tugas di luar kantor. Malik tidak keberatan. Ia hanya ingin segera sampai rumah.

Jakarta pada malam hari sebenarnya memiliki kecantikan yang jarang diperhatikan oleh mereka yang terlalu sibuk mengutuk kemacetannya pada siang hari. Ketika kendaraan mulai berkurang dan suara kota perlahan menurun, gedung-gedung pencakar langit justru tampak lebih megah, dikelilingi ribuan lampu yang menyala seperti bintang-bintang buatan manusia. Dari balik kaca mobil, Malik memandang semuanya dengan mata yang lelah, tetapi tetap menyimpan sedikit rasa syukur. Setidaknya, pikirnya, Tuhan masih memberinya kesempatan tinggal di kota yang pertumbuhan ekonominya begitu cepat, tempat manusia dari berbagai penjuru datang membawa mimpi, ambisi, dan harapan, meskipun tidak semuanya pulang membawa apa yang mereka cari.

Ia mengembuskan napas panjang karena tubuhnya terasa berat. Berkali-kali ia menghela napas melalui mulut sambil menggenggam kemudi, berharap rasa lelah itu bisa ikut keluar bersama udara yang dibuangnya.

Saat malam semakin larut, ia mengambil jalan pintas. Jalan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar sepi pada siang hari itu, malam ini tampak seperti jalan yang dilupakan manusia. Hanya satu atau dua sepeda motor yang sesekali melintas, selebihnya hanya deretan bangunan gelap, lampu jalan yang berdiri sendirian, dan suara mesin mobilnya sendiri yang terdengar lebih jelas daripada biasanya.

Malik memperlambat kendaraan. Entah mengapa malam itu ia merasa perlu lebih berhati-hati. Bibirnya terus bergerak.

"Subhanallah."

"Astaghfirullah."

"La ilaha illallah."

Nama Allah terus ia lafazkan karena dalam kesunyian seperti itu manusia lebih mudah menyadari bahwa sebenarnya tidak memiliki kuasa atas apa pun.

Ia hanya mengemudi. Allah yang menjaga. Ia hanya berusaha pulang. Allah yang menentukan apakah ia benar-benar akan sampai.

Tak lama kemudian, sesuatu melintas di depan mobil dengan cepat sekali.

"Brak!"

Malik menginjak pedal rem sekuat tenaga. Tubuhnya terdorong ke depan. Jantungnya seperti berhenti. Untuk beberapa detik ia hanya terpaku di balik kemudi, menatap jalan yang mendadak kembali sunyi. Kemudian pikirannya bekerja. Ia baru saja menabrak seseorang.

Malik segera membuka pintu mobil dan berlari keluar. Seorang perempuan tergeletak tepat di depan kendaraan. Jubah hitam menutupi tubuhnya. Niqab masih menutupi wajahnya. Perempuan itu tidak bergerak.

"Ya Allah!" Malik berlutut di sampingnya. "Tolong!"

Suaranya pecah. Beberapa orang yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian mulai berdatangan. Ada yang berdiri menonton, ada yang mencoba membantu, ada pula yang hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

"Bapak enggak salah," kata seorang lelaki yang datang menghampiri. "Mbak ini tadi menyeberang tidak hati-hati."

Malik bahkan tidak sempat memikirkan siapa yang salah. Ia hanya melihat tubuh perempuan itu.

"Insya Allah enggak apa-apa, Pak. Saya juga bawa dengan kecepatan rendah tadi." Tangannya gemetar. "Sekarang tolong bantu saya, Pak. Saya mau bawa dia ke rumah sakit."

Ia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Dan baru sekarang ia menyadari bahwa kecelakaan hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengubah kehidupan seseorang.

Dengan bantuan beberapa orang, perempuan itu segera dibawa ke dalam mobil. Malik sendiri masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa perempuan itu berada di jalan tersebut? Mengapa ia berlari? Mengapa ia seperti sedang melarikan diri dari sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan jawaban. Yang ia tahu hanya satu: perempuan tersebut membutuhkan pertolongan. Maka, ia segera membawa korban ke rumah sakit tempat Sarah bertugas.


Mobil berhenti. Malik keluar dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu belakang dan meminta bantuan petugas dengan wajah yang masih pucat. Panik. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Begitu masuk ke area UGD, suaranya langsung pecah.

"Suster! Dokter! Tolong bantu saya!"

Beberapa petugas segera datang. Dan di antara kesibukan itu, seseorang mengenali wajahnya.

"Mas Malik?"

Ia menoleh. Sarah berdiri tidak jauh darinya. Wajah perempuan itu berubah ketika melihat kondisi pasien yang dibawa Malik.

"Masya Allah, Mas Malik?"

"Mas tidak sengaja menabrak, Sarah!"

Sarah segera mendekat. "Mas Malik tunggu di sini, ya. Insya Allah segera kami tangani."

Ia langsung bergerak cepat, mengikat rambutnya ke belakang sambil memberikan instruksi kepada petugas lain. Saat itu Sarah belum mengenakan hijab. Malik hanya bisa berdiri dan melihat perempuan yang selama ini dikenalnya dengan segala kelembutannya berubah jadi dokter yang bergerak cepat menghadapi keadaan darurat.

Waktu berlalu hingga jam-jam menegangkan. Malik duduk di luar UGD. Ia tidak pergi. Ia tidak memikirkan mobil kantor. Tidak memikirkan pekerjaannya. Tidak memikirkan bahwa esok pagi ia harus bertugas di luar. Pikirannya hanya tertuju kepada seorang perempuan yang bahkan namanya belum ia ketahui. Ia hanya berharap perempuan itu selamat.

Seorang suster tak lama keluar.

"Malam, Pak."

Malik berdiri.

"Bapak walinya?"

"Bukan, Sus." Ia menggeleng. "Tapi insya Allah masalah biaya saya yang menanggung."

Suster itu mengangguk. "Pasien sudah kami tangani, Pak. Hanya saja belum sadarkan diri. Ruang UGD kami sangat terbatas dan saat ini ada pasien baru. Kalau berkenan, pasien sebaiknya dipindahkan ke ruang rawat inap."

Malik mengangguk. "Baik, Sus."

Ia merasa sedikit lega. Setidaknya tak ada kabar buruk. Maka ia masuk ke ruang UGD untuk menyelesaikan sejumlah dokumen yang diperlukan. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sarah. Perempuan itu sedang berjuang menyelamatkan salah seorang korban kecelakaan lain yang baru saja tiba. Tangannya bergerak cepat melakukan CPR. Jas putihnya dipenuhi darah. Wajahnya berkeringat. Matanya berkaca-kaca. Tetapi ia tidak berhenti dan terus berusaha seolah kematian adalah sesuatu yang bisa ditahan dengan kedua tangannya jika seseorang cukup keras melawannya.

Malik tahu Sarah. Ia tahu bagian pekerjaan yang paling dibenci perempuan itu adalah saat ia harus memberikan pertolongan terakhir kepada seseorang, lalu pada akhirnya semua usaha itu tetap berujung pada kegagalan.

Malik menatapnya dari kejauhan. Ada keinginan yang begitu besar untuk menghampiri perempuan itu, merangkulnya, menghapus keringat di dahinya, lalu membiarkan semua keluh kesahnya tumpah di pundaknya. Tetapi ia tidak punya hak melakukan itu. Maka hanya satu kalimat yang berani keluar dari hatinya.

"Seandainya kau halal bagiku, akan kuhapus keringat dan air matamu, lalu kubiarkan kau berkeluh kesah di pundakku."

Ia menundukkan kepala. Barangkali beberapa perasaan memang hanya pantas tinggal di dalam hati.

"Permisi, Pak." Seorang dokter jaga mendekatinya. "Apa Bapak punya kartu identitas pasien?"

Malik menggeleng. "Saya tidak punya, Dok."

Dokter itu memandang ke arah pasien. Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, seorang perawat datang.

"Dok, nama pasien sudah ditemukan."

Dokter menoleh. "Siapa?"

"Syahnaz Agny Mahisyah."

Malik mengangkat kepala. Nama itu terasa asing.

"Di lehernya ada kartu mahasiswa," lanjut perawat tersebut.

Mereka segera memeriksa kartu yang dimaksud. Tidak ada foto. Hanya nama. Syahnaz Agny Mahisyah. Tak lama kemudian ranjang pasien ditarik menuju ruang rawat inap. Dalam proses pemindahan itu, niqab dan kerudung yang dikenakannya harus dilepas untuk memberikan perawatan pada luka di bagian dahi.

Malik segera memalingkan wajah. Ia tidak mencoba melihat. Tidak sedikit pun. Beberapa saat kemudian perempuan bernama Syahnaz itu pun dipindahkan ke ruang rawat inap. Di tangan kanannya masih tergenggam tasbih yang rupanya terjatuh ketika ia dibawa ke rumah sakit. Di tangan kirinya terdapat satu-satunya kartu identitas yang berhasil ditemukan. Nama itu kembali terlihat. Syahnaz Agny Mahisyah.

Malik masih berdiri ketika Sarah muncul di hadapannya.

"Mas Malik enggak pulang?"

Malik menoleh.

"Nanti Umi khawatir, loh."

"Tadi saya sudah bilang ke Umi kalau ada pekerjaan." Ia berhenti sebentar. "Anak itu bagaimana?"

Sarah tersenyum tipis. "Insya Allah enggak apa-apa, Mas. Hanya ada luka benturan di dahi. Kami terpaksa membuka jilbabnya untuk memberi perban pada luka tersebut. Tidak ada muntah juga. Insya Allah tidak serius."

Malik mengangguk. "Alhamdulillah."

Sarah memperhatikannya beberapa saat. "Mas Malik enggak masuk?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Saya di sini saja."

Sarah terdiam sebentar. Kemudian sesuatu yang mungkin hanya dimaksudkan sebagai gurauan kecil keluar dari mulutnya.

"Memangnya Mas Malik tidak penasaran sama wajahnya?"

Malik menoleh ketika Sarah tersenyum.

"Dia cantik, loh, Mas."

Malik langsung menggeleng. "Tidak, Sar."

Ia pun menunjuk ke ruang rawat. "Di sini saja."

Sarah mengerutkan kening. "Kenapa?"

Malik menarik napas. "Wanita itu sudah berusaha menjaga auratnya dengan baik. Saya tidak ingin ia kecewa karena sesuatu yang selama ini dijaganya justru terbuka begitu saja hanya karena keadaan seperti ini."

Sarah tidak menjawab. Malik melanjutkan, "Saya yakin dia juga tidak ingin seorang yang bukan mahram melihatnya dalam keadaan seperti ini."

Entah mengapa Sarah merasa seperti baru saja ditegur sesuatu yang tidak pernah menyentuh tubuhnya tetapi tepat mengenai hatinya. Ia menundukkan wajah.

"Oh, ya, Sar."

Sarah mengangkat kepala.

"Kalau bisa, yang masuk ke ruangan ini hanya perempuan."

Sarah terdiam. Untuk sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa. Lelaki yang berdiri di hadapannya bahkan tidak mengenal perempuan itu. Tidak tahu wajahnya. Tidak tahu keluarganya. Tidak tahu mengapa ia berada di jalan malam-malam. Tidak tahu apa pun tentangnya. Namun ia sangat berhati-hati menjaga kehormatan perempuan yang bahkan bukan siapa-siapa baginya. Dan justru karena itulah ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dada Sarah. Perasaan yang tidak menyenangkan. Cemburu. Ia tidak ingin mengakuinya. Tetapi ia tahu apa yang sedang dirasakannya. Ya, ia cemburu kepada perempuan yang baru saja ia obati. Cemburu kepada seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya. Cemburu karena perhatian Malik malam itu bukan untuk dirinya.

Sarah menjauh dengan langkah pelan. Di ruang suster, beberapa perawat sedang berbicara tentang pasien bernama Syahnaz.

"Salut, ya," kata salah seorang dari mereka. "Padahal cantik, loh. Kok ditutupi, ya?"

Yang lain tertawa kecil. Sarah tidak ikut tertawa. Ia diam. Kalimat Malik tadi kembali terdengar di dalam kepalanya.

Wanita itu sudah berusaha menjaga auratnya dengan baik.

Sarah masuk ke ruang ganti, menutup pintu, lalu berdiri di depan cermin. Untuk beberapa saat ia hanya menatap bayangannya sendiri. Pikirannya kembali pada wajah perempuan yang baru saja dibawanya ke ruang rawat. Syahnaz memang cantik. Bahkan tanpa perlu diperlihatkan kepada dunia, kecantikan itu seolah tetap menemukan jalannya untuk diketahui manusia. Tetapi perempuan itu tidak memilih menjadikan kecantikannya sebagai sesuatu yang dipertontonkan. Ia menutupinya karena mungkin ia lebih ingin menarik perhatian Allah daripada perhatian manusia.

Sarah menatap dirinya sendiri lebih lama. Ia tiba-tiba bertanya kepada bayangannya di cermin: Apakah selama ini dirinya sudah memahami arti menjaga diri? Apakah selama ini ia terlalu mudah menganggap sesuatu sebagai biasa hanya karena semua orang melakukannya? Dan mengapa seorang perempuan yang baru ditemuinya malam ini justru membuatnya merasa seperti sedang bercermin kepada dirinya sendiri?

Sarah menghela napas, pikirannya kembali pada Malik. Ia keluar dari ruang ganti. Dari kejauhan lelaki itu masih duduk di tempat yang sama. Tidak pergi. Tidak tidur. Tidak terlihat gelisah untuk pulang. Ia hanya menunggu seorang perempuan asing yang bahkan tidak bisa mengucapkan terima kasih kepadanya.

Sarah memandangnya lama. Rasa kagum yang selama ini telah tumbuh diam-diam di dalam hatinya terasa semakin besar malam itu.

Sarah akhirnya berjalan mendekatinya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Ada sesuatu yang ingin ia ketahui. Dan mungkin, tanpa ia sadari, malam itu bukan hanya menjadi malam ketika Malik bertemu perempuan bernama Syahnaz. Malam itu juga menjadi malam ketika hati Sarah mulai menyadari bahwa perasaan yang selama ini ia kira hanya kekaguman mungkin telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

"Mas, kopi."

Sarah datang membawa secangkir kopi hitam yang baru saja diraciknya di pantry rumah sakit. Uap tipis masih mengepul dari permukaan kopi ketika ia menyerahkannya kepada Malik.

"Terima kasih, Sar."

Malik menerima cangkir itu. Sarah kemudian duduk di sebelahnya.

Malam semakin larut, tetapi halaman rumah sakit masih menyisakan kehidupan yang tidak pernah benar-benar tidur. Sesekali terdengar kendaraan yang masuk ke area parkir, langkah kaki perawat yang tergesa, suara roda ranjang didorong dari satu ruangan menuju ruangan lain, dan dari kejauhan terdengar ambulans yang datang membawa manusia-manusia yang sedang berada di antara hidup dan mati.

Mereka menikmati kopi dalam diam untuk beberapa saat. Kemudian percakapan kecil mengalir begitu saja. Tentang pekerjaan, rumah, Umi. Tentang hal-hal sederhana yang selama ini membuat keduanya merasa dekat meskipun tidak pernah benar-benar mengatakan apa yang ada di dalam hati masing-masing.

Sampai pada tegukan terakhir, Sarah mendadak diam. Matanya tertuju pada cangkir di tangannya. Di dasar cangkir itu tersisa sedikit ampas kopi yang mengendap, hitam, tidak beraturan, dan tampak seperti sesuatu yang memang tidak lagi berguna setelah seluruh rasa kopi larut ke dalam air.

"Kotor, ya, Mas?"

Malik menoleh.

"Apa?"

Sarah mengangkat cangkirnya sedikit.

"Ampas kopi ini."

Ia tersenyum getir.

"Hanya mengotori isi cangkir. Tidak ada bedanya dengan aku yang selalu jadi sampah di mata ayah."

Malik langsung menatapnya. "Jangan samakan manusia dengan ampas kopi, Sarah."

Nada suaranya lembut, tetapi tegas. "Kau jauh lebih mulia daripada itu. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan tinggi."

Sarah menunduk. "Iya, Mas."

Ia memainkan cangkir di antara kedua tangannya. "Mungkin di mata Allah pun aku hanya sampah."

Malik menghela napas. "Istighfar, Sarah. Jangan pernah mengatakan seperti itu."

Sarah tersenyum sedih. "Aku berarti di mata-Nya, Mas?"

"Allah tidak pernah mengatakan kau tidak berarti."

"Dia mungkin tidak melihatku."

Malik terdiam. Sarah menarik napas panjang. "Aku bahkan tidak bisa menyempurnakan agamaku sendiri. Aku iri kepada perempuan yang ada di kamar itu."

Matanya mengarah ke ruang rawat tempat Syahnaz berada. "Siapa pun dia, dia bisa melawan hawa nafsunya. Kalau dia mau, mungkin dia bisa hidup seperti aku. Membuka wajahnya, menunjukkan kecantikannya pada semua orang, menerima pujian dari banyak laki-laki."

Ia menelan ludah. "Aku ini hina, Mas." Suaranya semakin kecil. "Aku malu dengan diriku sendiri."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Entahlah kapan aku bisa seperti dia. Bahkan memikirkannya saja aku sudah takut."

Malik memandang Sarah cukup lama. Ada banyak cara untuk menenangkan seseorang, tetapi tidak semua cara benar-benar bisa menyentuh bagian terdalam dari luka yang sedang dibawanya.

"Istighfar, Sarah." Ia berbicara perlahan. "Pada dasarnya semua hamba di mata Allah sama. Tidak ada manusia yang lahir langsung menjadi sempurna. Kalau kau ingin hatimu siap, kenali Dia."

"Allah?"

Malik mengangguk. "Allah."

Ia menatap Sarah. "Mereka yang berhijrah bukan berarti sejak awal lebih baik daripada kita. Mereka hanya sedang belajar mengenal tuhannya. Dan ketika seseorang mulai mengenal Allah dengan benar, ia akan mulai mencintai-Nya. Ketika cinta itu tumbuh, apa pun yang dilakukan akan dipikirkan terlebih dulu: apakah Allah menyukainya atau tidak."

Sarah diam.

"Kecantikan akan hilang. Harta akan habis. Tubuh akan menua. Semua yang sekarang kita banggakan suatu hari akan ditinggalkan." Malik berhenti sebentar. "Kenali dan cintailah Allah, Sarah. Setelah itu kau akan menemukan sendiri jalan untuk berhijrah."

Ia tersenyum tipis.

"Allah sudah memberimu begitu banyak nikmat. Syukurilah."

Tatapannya jadi lebih lembut.

"Dan percayalah, Sarah, kau akan terlihat jauh lebih cantik dan terhormat ketika kau menutupi bagian tubuhmu yang memang menjadi kewajibanmu untuk menutupinya."

Sarah tidak menjawab, hanya menundukkan wajah, kemudian air matanya jatuh.

Apa yang dikatakan Malik sebenarnya sederhana, tetapi mungkin karena disampaikan seseorang yang selama ini ia hormati, kata-kata itu menemukan jalan menuju tempat yang selama ini tidak bisa disentuh nasihat siapa pun.

Sarah menangis tanpa suara. Dan malam itu, ia merasa bahwa mungkin menjadi lebih baik bukan sesuatu yang mustahil.


Syahnaz membuka mata ketika pagi datang. Untuk beberapa detik ia tidak mengerti di mana dirinya berada. Langit-langit putih, bau obat-obatan, suara alat medis yang sesekali berbunyi, dan rasa nyeri di bagian dahi membuat ingatannya kembali sedikit demi sedikit.

Kecelakaan mobil. Jalan yang gelap. Seorang lelaki. Rumah sakit.

Ia menggerakkan tangan. Di samping ranjang terdapat selembar kertas yang kemudian ia ambil dan membaca tulisan tangan itu.

Assalamualaikum. Mohon maaf saya tidak bisa menunggu hingga Mbak siuman karena ada pekerjaan yang harus saya kerjakan besok. Saya menitipkan Mbak kepada perawat rumah sakit. Jika ada yang dibutuhkan, insya Allah saya akan datang lagi besok usai pulang kantor. Mohon maaf atas kejadian semalam, semoga Mbak sehat selalu. Jika ada yang dibutuhkan, mohon jangan sungkan menghubungi nomor ini, 888**8.*

Syahnaz membacanya beberapa kali. Ia berhati-hati memperhatikan setiap kata seolah takut ada sesuatu yang terlewat. Di sebelah kertas itu tergeletak hijab dan niqab miliknya.

"Mbak sudah sadar?"

Seorang perawat masuk ke dalam kamar. Syahnaz buru-buru mengambil hijabnya dan mengenakannya.

"Saya bantu lepaskan infusnya, ya."

Syahnaz mengangguk. Namun sebelum perawat itu melakukan sesuatu, ia memanggilnya.

"Suster."

"Ya?"

Syahnaz menunjukkan surat tersebut.

"Apa suster tahu siapa yang menulis surat ini?"

Ada sedikit harapan dalam pertanyaannya. Semoga perempuan. Semoga seseorang yang tidak perlu membuatnya merasa canggung.

Perawat itu tersenyum. "Tahu, Mbak."

Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Semalaman dia menunggu Mbak."

Syahnaz terdiam.

"Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki, Mbak."

"Masya Allah."

Syahnaz spontan menutupi sebagian wajahnya dengan kedua tangan. Perawat itu tersenyum lagi. "Dia laki-laki yang sopan, Mbak. Semalaman menunggu di luar dan tidak mau masuk. Bahkan dia meminta kami supaya perawat laki-laki tidak masuk ke kamar Mbak."

Syahnaz semakin diam.

"Tadinya kami pikir dia suami Mbak."

"Suami?"

"Iya."

Perawat itu menunjuk surat di samping ranjang. "Surat itu saya yang taruh di situ. Dia pamit sekitar pukul dua malam."

Syahnaz menatap surat tersebut. Ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya. Bukan karena lelaki itu telah menolongnya. Bukan semata-mata karena ia menanggung biaya pengobatannya. Tetapi karena lelaki asing itu ternyata masih memikirkan kehormatannya bahkan ketika dirinya sendiri sedang tidak sadar.

"Alhamdulillah, ya Allah..." bisiknya dalam hati.


Pertemuan Syahnaz dengan Malik ternyata belum selesai. Beberapa waktu kemudian, jalan kehidupan mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama sekali tidak mereka duga: Pondok Mini Darul Qalam. Hari itu Malik baru mengetahui bahwa perempuan yang pernah ditolongnya adalah Syahnaz Agny Mahisyah, putri Kiai Haji Hambali, pemimpin pondok tersebut. Malik sempat memperhatikannya dari kejauhan. Tidak banyak yang dapat dilihat. Perempuan itu bertubuh mungil dan mengenakan pakaian yang menutup tubuhnya dengan begitu rapi. Hanya sepasang mata yang bulat dengan bulu mata lentik serta telapak tangannya yang putih dan bening yang terlihat. Namun justru karena itulah Malik teringat pada perkataan Sarah malam sebelumnya.

"Dia cantik, loh, Mas."

Malik akhirnya mengerti apa yang dimaksud Sarah. Syahnaz memang cantik. Tetapi kecantikannya bukan sesuatu yang ia tawarkan kepada dunia. Ia menyimpannya. Dan entah mengapa hal itu membuat Malik semakin tertarik untuk mengenalnya. Bukan semata-mata karena paras. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa ia beri nama.

Syukurlah Malik punya sahabat yang rutin mengikuti kajian di Darul Qalam. Kehadiran Razak membuat pertemuan mereka tidak terasa kaku. Percakapan yang pada mulanya hanya bermaksud mengembalikan barang yang tertinggal, perlahan berkembang jadi percakapan yang jauh lebih panjang. Syahnaz Agny Mahisyah tinggal bersama kedua orang tuanya di kawasan Pondok Mini Darul Qalam. Ia adalah perempuan yang hidup dalam keluarga yang sangat menjaga agama. Putri satu-satunya dari empat bersaudara, ia tumbuh di antara tiga saudara laki-laki dan sejak kecil menjadi satu-satunya anak perempuan yang dijaga dengan penuh perhatian oleh keluarganya.

Pendidikan adalah salah satu hal yang paling dicintainya. Pendidikan S1 ditempuhnya di Malaysia. Kini ia melanjutkan studi magister di Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Tarbiyah. Semangat belajarnya membuat banyak orang mengaguminya. Namun prestasi bukan satu-satunya alasan mengapa ia disegani di rumah. Ia juga dikenal santun kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang jauh lebih muda darinya. Dan di balik semua pencapaiannya, Syahnaz tetaplah perempuan sederhana yang lebih suka menyimpan banyak hal untuk dirinya sendiri, termasuk perasaan.


Syahnaz menceritakan kejadian malam sebelumnya kepada sahabat dekatnya, Syafira. Ia bercerita penuh semangat, dari awal ketika ia pulang terlalu larut hingga saat dirinya membuka mata di rumah sakit dan menemukan surat dari lelaki yang telah menolongnya. Syafira mendengarkan sampai selesai.

"Semoga semua ini ada hikmahnya," katanya pelan.

Syahnaz tersenyum. "Hikmahnya sudah aku dapatkan." Ia menunduk. "Ini teguran Allah atas kebakhilanku selama ini."

"Kok bisa?"

"Aku sebenarnya sudah sering dinasihati Abi supaya tidak pulang terlalu larut. Tapi aku bandel." Ia menghela napas. "Aku ingin cepat menyelesaikan studi. Tidak mau terlalu lama mendapatkan gelar master."

Syahnaz menatap meja. "Malahan seisi tasku diambil perampok itu."

"Semua?"

"Iya."

Ia mengangguk. "Entah dibuang ke mana hasil tesis dan data pribadiku. Yang mungkin bisa dijual cuma ponsel dan powerbank. Untung malam itu aku tidak membawa laptop. Kalau bawa, habislah aku."

Syafira menggeleng. "Sudahlah, Syahnaz. Kita bicarakan yang lain saja."

Kemudian senyum jahil muncul di wajahnya. "By the way …."

Syahnaz menoleh.

"Siapa pemuda yang menolong kamu tadi?"

"Namanya Malik."

"Kau kenal dia?"

Syahnaz menggeleng. Syafira mendekatkan wajah.

"Sst."

Syahnaz mengerutkan dahi.

"By the way, dia ganteng enggak?"

Mata Syahnaz langsung membesar.

"Syafira!"

Namun sahabatnya sama sekali tidak takut.

"Wah, berarti ganteng, ya!"

Syahnaz mendengus.

"Dia pasti pemuda yang baik hati dan pemberani." Syafira tertawa. "Kalau aku jadi kamu, sudah aku minta dia meminangku. Zaman sekarang tidak mudah mencari calon suami yang baik hati dan penuh perhatian seperti itu."

Syahnaz diam.

"Semoga Allah mempertemukan aku dengan dia dalam pertemuan yang penuh berkah."

Entah mengapa kalimat terakhir itu membuat dada Syahnaz terasa tidak nyaman. Ia cemburu. Seketika ia menyadari sesuatu yang bahkan membuat dirinya sendiri heran. Mengapa ia harus cemburu? Bukankah Malik bukan siapa-siapa? Ia bahkan baru mengenalnya. Pertemuan mereka sebelumnya di kantin kampus hanya berlangsung sekitar lima belas menit, dan setelah itu mereka tidak pernah punya hubungan apa pun. Namun setiap kali Syafira membicarakan lelaki itu, terutama ketika sahabatnya mengatakan ingin mencari tahu lebih banyak tentang Malik, Syahnaz justru merasa kesal. Seperti ada sesuatu yang ingin dipertahankan. Sesuatu yang bahkan belum pernah menjadi miliknya.


Pukul tiga dini hari, Malik masih belum tidur. Ia berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Nama itu kembali muncul di kepalanya. Syahnaz Agny Mahisyah. Ia mengulang nama tersebut dalam hati beberapa kali. Kemudian sadar bahwa pikirannya telah kembali berjalan terlalu jauh.

Malik bangkit, mengambil air wudu. Setelah itu ia berdiri melaksanakan salat hajat.

Malam begitu sunyi. Hanya suara kipas angin dan sesekali suara kendaraan jauh yang terdengar dari luar.

Selesai salat, Malik masih duduk di atas sajadah ketika tiba-tiba suara alarm dari kamar Fahri terdengar. Berdering beberapa kali. Malik menoleh ke arah dinding. Pukul tiga lewat dua puluh lima menit. Beberapa saat kemudian suara alarm itu berhenti. Pintu kamar Fahri terbuka. Lalu terdengar langkah kaki dan gemericik air dari kamar mandi.

Malik tersenyum tipis. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa iri kepada adiknya sendiri. Fahri memiliki wajah rupawan. Pekerjaan yang baik. Masa depan yang menjanjikan. Dan dalam urusan perempuan, Malik selalu merasa adiknya itu jauh lebih beruntung. Kalau saja ia punya paras setampan Fahri, mungkin ia akan jauh lebih percaya diri ketika hendak melamar perempuan seperti Syahnaz. Pikiran itu membuatnya tertawa kecil sendiri.

Tak lama kemudian Fahri keluar.

"Eh, Ri. Sudah bangun?"

"Iya, Mas."

Fahri melihat sajadah. "Mas Malik habis salat?"

"Iya."

Malik terdiam sebentar. "Fahri, aku mau ngobrol."

Fahri langsung memperhatikan wajah kakaknya. "Boleh. Ada apa, Mas? Sepertinya serius."

Malik menarik napas. "Kapan kamu serius dengan Sarah?"

Fahri terdiam. "Tak cukupkah sinyal yang dia berikan untukmu selama ini, Ri?"

Fahri menggeleng. "Saya tidak yakin Sarah suka kepada saya, Mas."

Malik menatap adiknya. Bagaimana mungkin lelaki berwajah rupawan, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang cukup sukses justru punya masalah yang sama dengannya?

"Kenapa?" Fahri duduk.

"Sarah pernah beberapa kali punya hubungan dengan teman-temannya yang jauh lebih sukses daripada saya." Ia tersenyum hambar. "Menurut saya dia lebih pantas dengan pemilik perusahaan atau dokter yang kedudukannya sejajar dengan dia."

Malik belum sempat menjawab ketika suara Mami terdengar dari belakang.

"Tapi Umi akan lebih suka kalau kamu yang melamarnya duluan."

Keduanya menoleh. Mami ternyata sudah bangun.

"Sarah itu sudah sangat dekat dengan ibu," lanjutnya. "Dan dari yang ibu dengar darinya, dia sudah dua kali menolak lamaran yang datang."

Fahri terdiam.

"Hanya firasat saja." Mami tersenyum. "Ibu berharap salah satu dari anak laki-laki ibu bisa menjadi orang yang dipilihnya."

"Menurut Mami?" tanya Fahri.

Mami justru menoleh kepada Malik. "Menurutmu bagaimana, Malik?"

Malik tersenyum. "Ya sah-sah saja."

Ia menepuk bahu Fahri. "Lamar dia, Ri, sebelum dilamar laki-laki lain."

Fahri menatap kakaknya. "Tapi Mas Malik bagaimana?"

Mami ikut memandang anak sulungnya. Untuk sesaat Malik hanya diam. Kemudian ia tersenyum.

"Lanjut saja. Tidak usah pikirkan Mas Malik."

Ia mengangkat kedua tangannya. "Insya Allah. Doakan saja."

Kemudian senyum lebar muncul di wajahnya. "Melihat semangatmu malam ini, Mas juga jadi semangat untuk melamar seseorang."

Fahri dan Mami langsung menatapnya.

"Siapa?" Keduanya bertanya hampir bersamaan.

Malik tertawa. Suasana yang semula serius mendadak mencair. Mami bahkan ikut tertawa. Fahri menggeleng-gelengkan kepala.

"Siapa, Mas?"

Malik pun menyerah, lalu menceritakan semuanya. Semakin bercerita, semakin tampak kegembiraan di wajah Malik. Ia bahkan mulai membayangkan bagaimana secepatnya dapat mengajukan lamaran apabila seluruh proses itu berjalan sesuai harapannya. Untung saja ia punya kenalan dekat di Darul Qalam. Itu akan memudahkannya untuk datang ke sana dan mengenal keluarga Syahnaz dengan cara yang lebih baik.

Mami mendengarkan semuanya tanpa menyela. Ketika Malik selesai bercerita, perempuan itu tersenyum. Entah mengapa, kisah anak sulungnya membuat dadanya terasa penuh oleh rasa syukur. Ia telah kehilangan suaminya, telah melihat anak-anaknya tumbuh. Dan kini, satu per satu, mereka mulai berbicara tentang pernikahan.

Air mata tiba-tiba jatuh dari matanya. Bukan air mata kesedihan. Namun air mata seorang ibu yang merasa doanya perlahan menemukan jalan pulang.

Mami mengusap pipinya. Dalam diam, ia menumbuhkan niat sederhana. Jika Allah mengizinkan, ia ingin segera melamarkan dua perempuan sekaligus untuk kedua anak lelakinya. Sarah untuk Fahri. Dan Syahnaz untuk Malik.

Malam itu, tanpa mereka sadari, dua kisah cinta sedang tumbuh di bawah atap rumah yang sama. Satu sudah bertahun-tahun bersembunyi di balik diam. Satu lagi baru saja dimulai bahkan sebelum kedua pemilik hati benar-benar saling mengenal. Dan sebagaimana semua kisah yang belum selesai, tidak seorang pun di antara mereka tahu apakah doa-doa yang malam itu dipanjatkan akan benar-benar membawa mereka pada orang yang mereka harapkan, atau justru membawa mereka ke arah yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.


-II-

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Sebelumnya Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab