Sirah Cinta

Bab 1 dari 4

Bab 2
100%

Bab 1: Menjemput Jodoh

Pemuda bernama Fawaz Abdul Malik baru saja turun dari busway ketika matahari pagi mulai meninggi dan Jakarta kembali jadi dirinya sendiri. Laki-laki berkulit sawo matang itu berjalan santai menuju kantor dengan tubuhnya yang tinggi, rambut yang selalu tertata rapi, dan senyum lebar yang seolah sudah menjadi bagian tetap dari wajahnya. Ia tidak pernah merasa perlu terburu-buru untuk menempuh jarak tiga ratus meter dari halte menuju kantor, sebab baginya perjalanan singkat itu adalah olahraga gratis yang setiap hari diberikan Jakarta tanpa meminta bayaran.

Sesekali ia berhenti. Membuka botol yang dibawanya dari rumah. Meneguk air lemon buatan Sarah. Rasa segarnya mengalir ke tenggorokan dan, entah karena lemon itu memang berkhasiat atau karena tangan yang membuatnya punya tempat khusus di dalam pikirannya, penat yang sejak tadi tubuhnya rasakan terasa sedikit berkurang. Maka, ia kembali berjalan.

Matahari pagi memancarkan cahayanya ke segala penjuru, menyentuh kaca-kaca gedung yang menjulang tinggi dan membuat sebagian bangunan itu tampak seperti cermin raksasa yang sedang memantulkan kesombongan manusia kepada langit. Di kanan dan kiri jalan, bangunan-bangunan pencakar langit berdiri berdesakan, sementara pepohonan semakin sedikit dan semakin sulit ditemukan, seolah bumi perlahan-lahan sedang disingkirkan.

Pemandangan itu membuat Malik terdiam beberapa saat. Ia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur, sehingga ia tahu persis bagaimana manusia zaman sekarang bernafsu membangun bangunan setinggi mungkin. Di berbagai negara, dari satu benua ke benua lainnya, manusia seperti sedang berlomba mencapai langit, saling mendahului dalam membangun gedung yang lebih tinggi, lebih besar, lebih megah, seolah ketinggian bangunan adalah ukuran kemajuan dan kehebatan suatu bangsa.

Ia tidak menyalahkan pembangunan. Ia hanya terkadang merasa manusia terlalu mudah lupa kepada alasan mengapa mereka membangun. Gedung-gedung itu berdiri sebagai simbol kekuasaan, kemajuan, dan keadidayaan manusia, tetapi semakin tinggi bangunan didirikan, semakin ia teringat pada satu perkara yang justru membuat manusia begitu kecil.

Hari kiamat.

Ia teringat sabda Rasulullah saw. yang pernah dibacanya:

"Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan." (Hadis riwayat Imam Al-Bukhari.)

Malik kembali meneguk air lemonnya, lalu tersenyum kecil, seolah baru saja menemukan ironi yang hanya bisa dipahami manusia jika mereka mau berhenti sejenak dari kesibukan mengejar dunia.

Ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu menuju area perkantoran, ponselnya berdering. Ia berhenti, melihat layar ponsel yang menyala. Sebuah pesan masuk dari Sarah.

Mas Malik, nanti malam ikut kajian tidak?

Malik mengernyitkan dahi. Bagaimana Sarah tahu bahwa malam ini ia berencana mengikuti kajian? Ia tidak pernah menceritakannya. Setidaknya ia merasa tidak pernah. Sambil terus berjalan menuju lift, pikirannya mencari jawaban. Namun belum sempat menemukannya, ponsel kembali berdering. Kali ini panggilan masuk dari Razak. Sahabatnya dalam lingkaran kajian. Malik segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, Akh Malik!" Suara Razak terdengar buru-buru. "Ana membawa kabar gembira. Syahnaz meminta antum datang ke rumahnya nanti malam untuk bertemu dengan abinya!"

Malik berhenti tepat di depan lift.

"Masya Allah! Serius, ente, Zak?"

"Serius!"

Pintu lift terbuka. Malik masuk dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Panggilan itu berakhir beberapa saat kemudian, tetapi kabar dari Razak masih berputar-putar di kepalanya bahkan setelah pintu lift tertutup.

Syahnaz. Perempuan yang hendak dilamarnya. Selama ini ia hanya menunggu tanda, sebuah kesempatan, pintu kecil yang mungkin bisa membawanya ke sesuatu yang lebih serius. Dan kini pintu itu seperti dibukakan di hadapannya.

Syahnaz telah meminta dirinya datang menemui sang ayah. Itu berarti ada sesuatu yang sedang bergerak. Ada kemungkinan dan harapan. Dan pagi itu Malik bekerja dengan semangat yang bahkan membuat beberapa rekan kantornya heran melihat perubahan wajahnya.


Sore datang lebih cepat daripada yang diharapkan. Atau mungkin waktu memang selalu terasa lebih cepat ketika seseorang sedang menunggu sesuatu. Malik menyelesaikan pekerjaannya satu per satu dengan gerakan yang lebih cepat dari biasanya. Berkas yang harus diperiksa segera ia selesaikan, pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu lebih lama ia paksa selesai sebelum sore berakhir. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Pukul lima lewat sedikit, ia segera turun menuju lobi.

Janji dengan Kiai Haji Hambali telah menunggunya, selepas Isya di Darul Qalam.

Ojek daring yang dipesannya sudah menunggu di depan gedung. Malik naik dan segera berkata kepada pengemudi, "Pak, tolong cepat sedikit, ya."

Untungnya perjalanan sore itu berjalan lancar. Jakarta yang biasanya seperti sengaja menguji kesabaran manusia ternyata kali ini berbaik hati kepadanya. Pukul 18.35, Malik pun sampai di Pondok Darul Qalam. Pondok mini Darul Qalam merupakan pesantren kecil yang berdiri di wilayah selatan Jakarta. Tempat itu tidak besar, hanya menampung sekitar lima puluh santri laki-laki dan lima puluh santri perempuan. Namun bagi sebagian besar penghuni tempat tersebut, luas bangunan tidak pernah menjadi persoalan, sebab pesantren itu memang tidak dibangun untuk mengejar kemegahan.

Sebagian besar santrinya berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka dirawat, dididik, dan dibimbing Kiai Haji Hambali dengan harapan kelak mereka bisa menjadi mubaligh dan mubalighot, orang-orang yang mampu menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.

Lingkungannya bersih. Pepohonannya cukup banyak. Udara terasa berbeda dibandingkan udara Jakarta yang baru saja ditinggalkannya. Malik menyukai tempat itu sejak pertama kali datang.

Ia mengambil air wudu, kemudian menunaikan salat Magrib. Setelah itu ia duduk bersila dengan kepala menunduk dan tangan terangkat. Ia menyebut nama Allah berkali-kali dalam doa yang panjang, meminta agar segala ikhtiar yang sedang ditempuhnya untuk mendapatkan seorang perempuan salehah benar-benar mendapatkan jalan yang diridai-Nya.

Malik percaya bahwa Allah tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya. Hanya saja manusia sering kali terlalu buru-buru menentukan bentuk jawaban. Ia sendiri sudah beberapa kali mencoba menjalani proses ta'aruf. Hampir lima kali ia mengenal perempuan melalui jalan tersebut, tetapi selalu saja ada sesuatu yang membuat hubungan itu tidak sampai pada pernikahan.

Mungkin Allah belum merestuinya. Atau mungkin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Bukankah doa tidak selalu dijawab dalam bentuk yang kita inginkan? Allah mengabulkannya. Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Atau Allah menundanya hingga waktu yang paling tepat. Malik tidak tahu yang mana yang sedang terjadi pada dirinya. Tetapi malam ini ia ingin percaya bahwa semua yang sedang berlangsung adalah bagian dari jawaban itu.

Selesai berdoa, ia meraih tas dan mengeluarkan ponselnya. Baru saat layar menyala, ia melihat banyak pemberitahuan yang masuk. Seharian ini ia memang sengaja mematikan telepon genggamnya. Ia ingin menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan karena malam ini ia punya janji penting dengan Kiai Haji Hambali.

Tiga pesan dari Sarah muncul hampir bersamaan.

Mas Malik di mana??!!!

Mas Malik di mana??!!!

Mas Malik di mana??!!!

Empat panggilan tak terjawab juga memenuhi layar. Malik mengernyit. Ada apa dengan Sarah? Ia bukan tipe perempuan yang menelepon berkali-kali tanpa alasan. Karena khawatir terjadi sesuatu, Malik menekan tombol panggilan.

"Assalamualaikum, Sarah. Ada apa tadi menelepon?"

Suara Sarah terdengar pelan. "Mas Malik di mana?"

Di belakang suaranya terdengar suara orang-orang yang sedang berbicara lirih. Suasananya seperti berada di masjid atau tempat kajian.

"Saya malam ini sedang ada janji, Sarah. Ada apa?"

"Mas … malam ini kali pertama saya ikut kajian di Masjid Al-Akbar. Mas Malik kenapa tidak datang?"

Malik terdiam.

"Padahal Sarah sudah lihat jadwal di mading. Mas Malik akan mengisi materi tentang ikhlas. Sarah sudah semangat menunggu Mas Malik. Ternyata Mas Malik tidak datang."

Suara Sarah terdengar kecewa.

Malik menepuk dahinya. "Astagfirullah …."

Ia baru ingat bahwa malam ini memang seharusnya ia mengisi kajian di Masjid Al-Akbar, masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa?

"Sebentar, ya, Sarah. Nanti kita lanjutkan lagi."

Ia langsung memutuskan panggilan lalu mencari nomor Razak sebab ia adalah orang yang paling mungkin mengetahui bagaimana acara tersebut berjalan, dan benar saja, ketika telepon tersambung, ia mendengar suara Razak dari tempat yang sama dengan Sarah.

"Zak, 'afwan. Ana lupa kalau hari ini ana sudah janji mengisi acara."

Suara Malik terdengar panik. Ia merasa bersalah.

"Sudah, tenang saja," jawab Razak. "Dari awal ana sudah menukar jadwal antum dengan Ustaz Fikri. Kesempatan malam ini enggak bakal datang dua kali."

Malik menghela napas lega. "Masya Allah. Ente memang sahabat ana yang paling pengertian. Doakan, ya, Zak, semoga semuanya lancar."

"Aamiin."

Panggilan berakhir. Malik menatap layar ponselnya beberapa saat.

"Alhamdulillah," katanya dalam hati.

Satu masalah selesai. Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Tidak lama kemudian alarm pengingat salat Isya berbunyi. Malik mengangkat kepalanya, memandang ke kanan dan ke kiri. Belum ada seorang pun santri yang datang untuk mengumandangkan azan.

Sesaat ia ragu. Ini bukan masjid di wilayah tempat tinggalnya. Ia bukan bagian dari pengurus pondok. Ia bahkan datang sebagai tamu. Namun ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya bangkit. Bukankah azan bukan milik seseorang? Bukankah panggilan itu adalah panggilan untuk seluruh manusia yang mengakui Tuhan yang sama?

Malik berjalan menuju mimbar, kemudian suaranya mengisi ruangan.

"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...."

Suara itu mengalun jelas. Tegas. Namun tetap lembut. Kemudian ia melanjutkan, "Asyhadu alla ilaha illallah …."

Beberapa santri yang baru berdatangan menghentikan langkah, mendengarkan.

Suara Malik terdengar berbeda. Sebab belum pernah ada santri di pondok itu yang mengumandangkan azan dengan suara seperti itu, setidaknya menurut mereka yang mendengarnya malam itu. Lafaznya jelas, panjang pendek bacaannya terjaga, dan suara yang keluar dari dadanya terdengar merdu hingga beberapa santri perempuan yang mendengarnya dari bagian lain masjid mulai penasaran dengan sosok lelaki yang sedang mengumandangkan azan.

Satu demi satu santri berdatangan, termasuk Kiai Haji Hambali. Dan di antara para santri perempuan yang memasuki masjid itu terdapat seorang perempuan yang langsung menarik perhatian Malik. Bukan karena wajahnya, justru wajahnya tertutup. Ia adalah satu-satunya perempuan di antara para santri yang mengenakan niqab.

Syahnaz. Putri bungsu Kiai Haji Hambali. Perempuan yang malam ini datang ke dalam hidup Malik bukan sebagai nama yang sering diceritakan Razak, tak lain sebagai seseorang yang kelak mungkin akan mengubah seluruh arah hidupnya.

Malik pun menyelesaikan azannya dengan doa. Setelah itu kembali ke saf dan menunaikan salat sunah dua rakaat.


"Mas Malik."

Suara Kiai Haji Hambali terdengar selepas salat Isya.

Malik menoleh. "Ya, Pak Kiai? Saya."

Ia segera berdiri dan menundukkan bahunya, lalu menggapai tangan sang kiai untuk dicium.

"Assalamualaikum, Pak Kiai."

"Waalaikumussalam." Kiai Haji Hambali tersenyum. "Langsung saja, Nak. Apa yang membawamu datang ke Darul Qalam?"

Malik terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba yang menghilangkan keberaniannya.

"Hmmm …."

Kiai Hambali tersenyum lagi. "Katakan saja. Tidak usah malu."

Malik menarik napas. "Bismillah. Semoga Allah memudahkan saya."

Ia menundukkan kepala. "Pak Kiai, dengan segala kerendahan hati, saya datang ke tempat ini dengan maksud ingin melamar Syahnaz, putri Pak Kiai."

Untuk beberapa detik tidak ada suara. Kemudian wajah Kiai Haji Hambali berubah jadi senyuman.

"Masya Allah." Ia tertawa kecil. "Itu kabar baik. Kenapa harus malu?"

Malik hanya tersenyum.

"Berapa umurmu, Nak?"

"Dua puluh delapan tahun, Pak Kiai."

"Syahnaz sekarang dua puluh tiga tahun. Apa tidak masalah bagimu?"

"Insya Allah tidak, Pak Kiai."

"Syahnaz juga masih melanjutkan studi S2 di Syarif Hidayatullah, jurusan Tarbiyah. Apa itu juga tidak menjadi masalah?"

"Insya Allah tidak."

Kiai Haji Hambali mengangguk. "Subhanallah."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Begini, Nak Malik. Syahnaz adalah putri saya satu-satunya. Saya memiliki empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan, yaitu Syahnaz. Sebagai seorang ayah, sudah menjadi kewajiban saya melindungi anak perempuan saya dan istri saya di rumah. Mereka adalah makhluk yang sangat halus dan lemah. Karena itu saya tidak ingin mempersulit siapa pun yang datang dengan niat baik."

Malik mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Kiai Hambali kemudian mengutip firman Allah:

??????????????? ???????????????? ????????????????? ??????????????? ??????????????? ??????????????? ???????????????? ??????????????

"Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (QS. An-Nur: 26).

"Syahnaz adalah anak yang baik," lanjutnya. "Ia taat, ia belajar agama, dan saya hanya ingin memastikan bahwa kelak ia mendapatkan jodoh yang baik." Kiai Hambali berhenti sebentar. "Karena itu, Mas Malik, selama satu bulan ini saya hanya meminta antum menjalani apa yang saya minta. Kalau setelah satu bulan antum masih merasa yakin, dan saya pun merasa yakin, kita bisa mulai menghitung langkah berikutnya."

Malik menelan ludah. Ada kegembiraan di dalam dirinya, tetapi juga kegundahan yang tidak kecil.

"Insya Allah, Pak Kiai. Saya memahami bahwa mendapatkan jodoh bukan perkara yang bisa dilakukan dengan terburu-buru. Tetapi apa yang harus saya lakukan selama satu bulan ini?"

Kiai Hambali menjawab sederhana. "Besok datang saja dulu pukul empat pagi."

Malik mengangkat wajah.

"Kita salat Subuh berjamaah."

"Insya Allah, Pak Kiai."

Ia mengangguk mantap. Namun ketika percakapan itu selesai dan ia mulai meninggalkan tempat tersebut, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa merasa begitu bersemangat untuk mendapatkan seorang perempuan yang bahkan wajahnya belum pernah ia lihat? Ia belum pernah berbicara langsung dengannya. Belum pernah mendengar suaranya. Bahkan pengetahuannya tentang Syahnaz hanyalah potongan-potongan kecil yang diperoleh dari Razak, sahabatnya, dan sedikit gambaran dari Sarah ketika dulu pertama kali bertemu dengan perempuan itu. Namun malam ini keyakinannya justru semakin kuat.

Ayah Syahnaz adalah seorang kiai. Pemimpin pondok pesantren mini. Dan lelaki itu yakin bahwa putrinya adalah perempuan yang baik. Barangkali keyakinan seorang ayah terhadap anaknya memang memiliki bobot yang tidak bisa digantikan oleh penjelasan siapa pun.

Satu bulan. Hanya satu bulan kesempatan yang diberikan kepadanya. Malik memandangnya sebagai ujian. Ia tahu tidak ada manusia yang mendapatkan intan permata hanya dengan mengulurkan tangan. Sesuatu yang bernilai selalu menuntut pengorbanan, kesabaran, dan perjalanan yang tidak selalu mudah. Dan dalam pikirannya, semakin sulit jalan yang harus ditempuh, semakin mahal pula sesuatu yang mungkin akan ditemukan di ujungnya.

Malam itu Malik belum tahu seperti apa wajah Syahnaz, belum tahu seperti apa suaranya ketika tertawa, belum tahu bagaimana perempuan itu memandang dunia, bahkan belum tahu apakah pada akhirnya perempuan tersebut akan memilihnya. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian banyak kegagalan dalam urusan jodoh, ia merasa seperti sedang berdiri di depan pintu yang benar-benar mungkin terbuka. Ia hanya perlu cukup sabar untuk menunggu. Dan cukup berani untuk mengetuknya.


-II-

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab